Pascabencana Gempa Palu

Pemerintah Percepat Tanam Pajale di Sulteng

Sabtu, 07 September 2019, 21:38 WIB

Area luas tambah tanam Pajale di Palu. | Sumber Foto:Biro Humas dan Informasi Publik Kementan

AGRONET -- Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng) menginisiasi pemulihan standing crops komoditas tanaman pangan dan percepatan tanam padi di Kabupaten Sigi. Hal ini sebagai upaya percepatan dan pencapaian target luas tambah tanam (LTT) padi, jagung, dan kedelai (Pajale). Kegiatan ini sudah diawali dengan pelaksanaan survei di lapangan.

Kepala Seksi Serealia, Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Sulteng, Arbit,  menyatakan survei tersebut menyasar lahan seluas 2.500 hektare (ha) di Kabupaten Sigi. Kegiatan melibatkan kelompok tani setempat, petugas pertanian lapangan, petugas LO pusat, Dinas TPH Sulteng, dan Dinas TPH Kabupaten Sigi. Tujuannya untuk memfasilitasi dan mendorong petani melakukan percepatan tanam.

"Kami mengajak para petani mengoptimalkan lahan-lahan yang belum produktif. Misalnya lahan-lahan tadah hujan, lahan pekarangan, lahan di bawah tegakan, dan lahan lain yang sumber airnya terbatas. Seiring dengan masih adanya curah hujan dapat memanfaatkan lahan tersebut. Kami di provinsi dan pusat siap untuk mendukung bantuan benihnya," ungkap Arbit di Palu, Sabtu (7/9).

Ia menjelaskan pascagempa bumi dan likuifaksi yang terjadi di Sulteng menyebabkan sekitar 8.000 ha sawah tidak terairi karena kerusakan irigasi. Untuk itu pihaknya meminta kelompok tani agar membuat proposal untuk bantuan alat mesin pertanian (Alsintan) yang masih tersedia.

Arbit menegaskan tata pengelolaan air menjadi agenda prioritas di Sulteng karena permasalahan utama yang terjadi pada lahan kering terdampak gempa adalah tidak tersedianya air. Solusinya, sambung Arbit, pemerintah mengintroduksikan teknologi sumber/sumur air dangkal dan irigasi menggunakan water gun sprinkler yang dapat menghemat penggunaan air. Hasilnya, air akan merata dan tepat jatuh di tiik tumbuh tanaman dengan jangkauan sejauh 14 meter.

Lebih jauh ia mengungkapkan, untuk peningkatan produkivitas lahan dilakukan sistem tanam secara tumpangsari. Menurutnya, dengan tumpangsari dapat meningkatkan total produksi, mengurangi risiko kegagalan panen atau kerugian salah satu tanaman. Selain itu juga untuk mengurangi biaya produksi dan meningkatkan pendapatan usahatani.

Pada kesempatan yang sama, Kepala Seksi Serealia Dinas Pertanian Kabupaten Sigi, Nasika, mengucapakan terima kasih atas pemilihan Kabupaten Sigi sebagai lokasi kunjungan survei dan alokasi kegiatan tanam padi lahan kering. "Idealnya para petani betul-betul makin terdorong dalam menjalankan usahatani dan meningkatkan produktivitasnya," tutur Nasika. 

Pada kesempatan itu, perwakilan tim LO program upaya khusus Pajale, Ditjen Tanaman Pangan, Roland Hutadjulu, menjelaskan saat ini Kementan menyediakan bantuan benih untuk kegiatan padi lahan kering maupun jagung guna mengoptimalkan lahan-lahan yang sumber airnya terbatas. Oleh karena itu, ia berharap agar petani dan pemerintah daerah mengajukan usulannya kepada Kementan. "Saya minta para penyuluh secepatnya megidentifikasi lahan. Segera masukan usulannya ke dinas kabupaten," pungkas Roland. (591)

BERITA TERKAIT