SOAL BERAS, INDONESIA MEMANG PERKASA !

Sabtu, 24 Januari 2026, 11:21 WIB

Beras | Sumber Foto:Pixabay

 

AGRONET -- Per 31 Desember 2025, Indonesia kembali mencapai swasembada beras. Negara-negara maju seperti Jepang, Kanada, hingga Rusia berbondong-bondong datang ke tanah air demi mempelajari swasembada beras ala Indonesia. Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) yang juga Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengungkapkan capaian swasembada mendapatkan pengakuan internasional.

Badan Pangan Dunia atau Food and Agriculture Organization (FAO) bahkan dua kali memberikan apresiasi dalam dua tahun terakhir atas keberhasilan Indonesia menggenjot produksi padi dengan angka cukup signifikan. Sejumlah negara, termasuk Jepang, Kanada, Chile, Belarus, Australia, dan Rusia turut datang ke Indonesia untuk mempelajari kebijakan pangan yang diterapkan.

Bagi Indonesia, pencapaian swasembada beras, bukanlah hal yang pertama diraih. 42 tahun lalu, tepatnya tahun 1984, Indonesia untuk pertama kali mampu mencapainya. Ketika itu pun banyak bangsa-bangsa lain yang mempertanyakan, kok bisa Indonesia swasembada beras. Padahal, di benak mereka, Indonesia dikenal sebagai salah satu importir beras yang cukup besar di dunia.

Betul, tahun 1984 Indonesia mampu swasembada beras. Beberapa faktor penyebab nya antara lain pertama "Revolusi Hijau. Indonesia menerapkan teknologi pertanian modern, seperti penggunaan bibit unggul, pupuk kimia, dan irigasi yang lebih baik, sehingga meningkatkan produksi beras secara signifikan.

Kedua, investasi infrastruktur. Pemerintah Orde Baru saat itu banyak berinvestasi dalam pembangunan infrastruktur pertanian, seperti irigasi, jalan, pembangunan pabrik pupuk dan gudang penyimpanan, sehingga memudahkan distribusi dan pengiriman hasil panen.

Ketiga, kebijakan pertanian. Pemerintah juga menerapkan kebijakan pertanian yang mendukung, seperti penetapan harga dasar gabah yang menguntungkan petani, sehingga meningkatkan motivasi mereka untuk berproduksi. Selain itu, Pemerintah pun mengoptimalkan program Penyuluhan Pertanisn kepada para petsni.

Dengan kombinasi faktor-faktor tersebut, Indonesia berhasil meningkatkan produksi beras dan mencapai swasembada pada tahun 1984. Namun, perlu diingat bahwa swasembada beras tidak berarti Indonesia tidak perlu impor beras sama sekali, tapi lebih kepada kemampuan Indonesia untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri dengan produksi sendiri.

Yang menarik untuk diselami lebih dalam adalah ada apa sebetulnya dengan pencapaian swasembada beras 2025, sehingga mengundang bangsa-bangsa lain untuk mempelajari keberhasilan bangsa kita dalam meraih swasembada beras ? Jawaban atas pertanyaan inilah yang penting untuk dijadikan pencernatan bersama. Bangsa kita memang perkasa dalam meraih swasembada beras.

Pengumuman tentang kisah sukses pencapaian swasembada beras yang langsung disampaikan Presiden Prabowo, tentu saja memiliki nilai tersendiri dalam pembangunan perberasan di negeri ini. Mengapa tidak Menko urusan Pangan atau Menteri Pertanian/Kepala Badan Pangan Nasionsl yang menyampaikan kepada warga bangsa, ?

Bagi bangsa kita, beras telah ditetapkan sebagai komoditas politis dan strategis. Beras merupakan makanan pokok sebagian besar warga bangsa, yang jadi penyambung nyawa kehidupan. Proklamator bangsa Bung Karno malah menyebut urusan pangan merupakan mat dan hidupnya suatu bsngsa. Itu sebabnya, beras harus selalu tersedia sepanjang waktu dengan harga yang terjangkau.

Selain itu penting juga diingatkan, swasembada beras merupakan "pintu pembuka" ke arah terwujudnya swasembada pangan. Tanpa tercipta swasembada beras, maka tidak akan pernah terwujud swasembada pangan. Salah satu program prioritas Presiden Prabowo adalah pencapaian swasembada pangan. Artinya, Presiden Prabowo pasti sangat berkepentingan dengan swasembada beras.

Swasembada pangan 2025 betul-betul penuh dengan kejutan. Betapa tidak ! Produksi beras tahun 2024 secara nasional tercatat sekitar 30,4 juta ton. Pada tahun 2024, Indonesia mengimpor beras dengan jumlah cukup spektakuler, yakni sebesar 4,5 juta ton. Hebatnya, pada tahun 2025 produksi beras secara nasional mampu mencaoai 34,71 juta ton, menngkat sekitar 4 juta ton dibandingkan tahun sebekumnya.

Yang lebih mencengangkan, tahun 2025 Indonesia sama sekali tidak melakukan impor beras medium. Ini terjadi, karena Pemerintah secara tegas dan berani, melahirkan kebijakan menyetop impor beras. Pemerintah optimis, produksi beras dalam negeri, bakal mampu memenuhi kebutuhan dalsm negeri, baik untuk konsumsi, cadangan beras Pemerintah, bantusn pangan, bencana alam dan lain sebagainya lagi.

Atas gambaran demikian, menjadi masuk akal jika banyak bangsa-bangsa lain, ingin memahami lebih dalam tentang "jurus-jurus" apa saja yang digunakan Pemerintahan Presiden Prabowo untuk meraih swasembada beras. Bayangkab, hanya dalam satu tahun Indonesia mampu menyetop impor sama sekali, dari setahun sebelumnya mengimpor beras dengan angka cukup besar.

Swasembada beras, kini sudah teraih. Indonesia, benar-benar sangat perkasa dalam menggenjot produksinya. Catatan kritisnya adalah apakah kita akan mampu menjaga dan nelestarikannya agar swasembada beras yang dicapai dapat berkelanjutan ? Inilah "pe-er" besar yang harus diketjakan dengan penuh kehormatan dan tanggungjawab.

Sumber:
ENTANG SASTRAATMADJA - ANGGOTA DEWAN PAKAR DPN HKTI