
Dirjen Tanaman Pangan, Suwandi. | Sumber Foto: Humas Kementan
AGRONET -- Kementerian Pertanian (Kementan) menggelar rapat koordinasi (Rakor) lintas sektoral guna percepatan luas tambah tanam dan penguatan data luas tanam padi jagung kedelai (Pajale). Untuk penguatan data bersumber dari satu pintu yakni BPS sebagai institusi yang berwenang atas data statistik.
Direktur Jenderal Tanaman Pangan Kementan, Suwandi, mengharapkan agar BPS dan Pusat Data dan Sistem Informasi (Pusdatin) Kementan serta dinas pertanian dan penanggung jawab Program Upaya Khusus (Upsus) perlu menyamakan persepsi sehingga pengentrian data luas tanam benar-benar tercatat. "Rakor ini sebagai wadah persamaan persepsi antar sektor. Jangan sampai kita sudah tanam tapi tidak tercatat," ungkap Suwandi saat pembukaan Rakor di Depok, Selasa (20/8).
Menurut Suwandi, data BPS rata-rata 5 hingga 10 tahun terakhir, di bulan Juli sampai September luas tanam menunjukkan lebih rendah dibandingkan bulan lainnya dalam setahun. Dengan demikian, hal ini tentunya menjadi tantangan semua pihak agar meningkatkan luas tanam. "Jangan sampai luas tanam di bawah 1 juta hektare. Kita ubah mindset yang biasanya di bulan ini semula tidak tanam menjadi menanam," tegasnya.
Suwandi menjelaskan paradigma baru ini sesuai dengan arahan Mentan Amran Sulaiman dan Presiden Jokowi untuk membuat terobosan baru sehingga menanam seluas-luasnya. "Kita harus bisa mencari sumber air di sekitarnya seperti waduk, embung, sungai. Jadi nanti bisa dicarikan solusi apakah dengan pipanisasi, pompanisasi ataupun sumur dangkal. Intinya jangan ada tanah yang nganggur termasuk pematang dan galengan," jelasnya.
Suwandi menambahkan peningkatan luas tanam harus berdasarkan identifikasi di lapangan, yakni lahan-lahan yang bisa ditanam dan selanjutnya melakukan gerakan tanam bersama petani. Dengan begitu, sambungnya, tanaman akan dipanen beberapa bulan lagi saat masuk musim penghujan dan mulai tanam lagi. Ini akan menambah income petani di saat musim kemarau.
"Dalam upaya meningkatkan luas tanam, Kementan juga melakukan koordinasi dengan TNI. TNI mendukung penuh berbagai dukungan gerakan dilapang mulai dari tanam, serap gabah, dan lainnya," kata Suwandi.
Hal senada dikatakan Dirjen PSP Kementan, Sarwo Edhy. Ia meminta semua pihak agar mengecek sumber mata air yang ada di sekitar wilayah kering. Hal ini bisa berkoordinasi dengan dinas setempat, sehingga Kementan secepat mungkin dapat menginventarisir kebutuhannya apakah pompanisasi, pipanisasi, atau sumur dangkal. "Untuk benihnya pun Badan Litbang juga menyiapkan varietas yang tahan kekeringan," ujarnya.
Luas Baku Lahan Sawah
Terkait luas baku lahan, Suwandi menerangkan angka luas baku dengan luas tanam atau luas panen tidak selalu sama. Menurutnya, luas baku lahan sawah berbeda dengan luas tanam atau panen. Luas tanam dan panen biasanya lebih tinggi karena adanya indeks pertanaman, bisa setahun 2 sampai 3 kali tanam.
"Perlu diperhatikan juga bahwa banyak pertanaman padi yang belum tercatat karena berada di luar luas baku sawah peta KSA BPS. Seperti tumpangsari di lahan Perhutani, pertanaman di bawah tegakan pohon kelapa, dan integrasi dengan sawit. Itu biasanya berada di luar luas baku pada peta kerangka sampling area (KSA)," jelasnya.
Kepala Seksi Penyiapan Statistik Tanaman Pangan BPS, Hariyanto, menegaskan pada dasarnya BPS masih membuka peluang perbaikan luas panen untuk perbaikan KSA. Agar bisa tercatat dengan baik, lahan di luar KSA bisa diusulkan ke BPS asal ada bukti foto GPS dan open camera.
"Dasar perhitungan KSA dari luas baku lahan sawah Tahun 2018 tercatat luas baku lahan sawah 7,1 juta hektare. Dari angka ini sudah terverifikasi di 16 provinsi, sedangkan sisanya masih dalam proses verifikasi," ujarnya.
Menanggapi pertanaman di lahan yang belum masuk KSA, menurut Hariyanto, hal ini bisa diusulkan dengan mengklasifikasikan S3 yaitu lahan bukan sawah. BPS akan membuatkan kerangka sampel untuk pendataan dengan berbasis kamera android dan titik amatannya dilakukan terus menerus. Data yang sudah jadi kemudian akan dikirim ke server pusat.
Haryanto pun menekankan luas baku yang belum tercatat bisa dengan geotagging. Hasil geotagging bisa disampaikan ke Kementerian ATR/ BPN yang seterusnya dikonfirmasi ke Badan Informasi Geospasial.
"Jadi, saya tekankan lagi luas data baku lahan sawah tidak bersifat statis. Datanya bersifat dinamis dan bisa berubah setelah diverifikasi Badan Informasi Geospasial," tutupnya. (591)
Sabtu, 24 Januari 2026
Sabtu, 17 Januari 2026
Selasa, 13 Januari 2026
Sabtu, 24 Januari 2026
Kamis, 22 Januari 2026
Minggu, 18 Januari 2026
Kamis, 15 Januari 2026
Selasa, 13 Januari 2026
Jumat, 23 Januari 2026
Jumat, 23 Januari 2026
Rabu, 21 Januari 2026










