Ubi Jalar Mulai Dilirik Pasar Jepang dan Korea

Rabu, 07 Agustus 2019, 07:38 WIB

Ubi jalar. | Sumber Foto:Litbang Pertanian

AGRONET -- Direktur Jenderal Tanaman Pangan, Suwandi, mengatakan pengembangan budidaya ubi jalar Indonesia semakin menggembirakan. Pasalnya, ubi jalar diminati pasar ekspor terutama Jepang dan Korea Selatan sehingga terjadi peningkatan volume ekspor setiap tahun.

Menurut Suwandi, saat ini di Korea Selatan dan Jepang, ubi jalar menjadi trend sebagai salah satu bahan pangan sehat. Ubi jalar memiliki komposisi gizi yang baik, mengandung vitamin, karbohidrat, dan gula.

Dia menjelaskan hampir seluruh kandungan gizi dalam ubi jalar  termanfaatkan oleh tubuh. "Trend gaya hidup sehat di dua negara ini menjadikan permintaan ubi jalar dari Indonesia semakin meningkat,” ujar Suwandi saat Rapat Koordinasi Program Upaya Khusus (Upsus) se Jawa Barat di Bandung, Selasa (6/8).

Tercatat tahun 2016 ekspor ubi jalar 9.592 ton dengan nilai ekspor Rp108 miliar dan meningkat tahun 2018 sebesar 10.856 ton dengan nilai Rp137 miliar. Hingga bulan Juni 2019 ekspor telah mencapai 4.856 ton dengan nilai Rp55 Miliar.

Kementan pun optimistis ekspor ubi jalar akan terus bertambah sampai akhir tahun 2019. "Karena menurut FAO, Indonesia termasuk ke dalam 10 besar negara produsen ubi jalar.  Produksinya di Indonesia setiap tahun mengalami peningkatan rata-rata 6.01 persen,” beber Suwandi.

Pada tahun 2018 produksi ubi jalar mencapai 2,02 juta ton. Cakupan wilayah sentra ada di 12 provinsi, seperti Sumut, Sumbar, Jambi, Bengkulu, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, NTT, Sulawesi Selatan, Maluku Utara, dan Papua, tersebar di 68 kabupaten.

Suwandi menambahkan untuk mampu memasuki pangsa ekspor tentunya tidak hanya dari sisi produksi dan mutu saja yang diperhatikan. Namun dari sisi promosi juga harus ditingkatkan. Selain Korea Selatan dan Jepang, negara tujuan ekspor ubi jalar adalah Singapura, Malaysia, Hongkong, Thailand, China, dan Amerika Serikat. (591)