Pasca-Gempa M 5.3 Cilacap

Dampak Aktivitas Tektonik Terhadap Sektor Pertanian dan Ketahanan Pangan Dampit

Selasa, 08 September 2026, 20:33 WIB

Yogi Adi Prasetya,ST,.,M.Sc.: Alumni S2 di Kyushu University, Fukuoka, Jepang; Ahli Gunung Api dari Fakultas Teknik Unsoed; Anggota Ikatan Ahli Geologi Indonesia. | Sumber Foto:Unsoed

AGRONET -- Peristiwa gempa bumi berkekuatan Magnitudo 5.3 yang menghentak wilayah selatan Cilacap pada Jumat (4/9) lalu tidak hanya menarik perhatian para ahli geologi, tetapi juga memicu perhatian para pelaku sektor pertanian. Menurut pemaparan Yogi Adi Prasetya, S.T, M.Sc., ahli Gunung Api dari Fakultas Teknik Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed), gempa tersebut dipicu oleh aktivitas subduksi Lempeng Indo-Australia yang menunjam ke bawah Lempeng Eurasia—sebuah fenomena geologi alami di kawasan selatan Jawa.

Meskipun laporan BMKG mengonfirmasi bahwa gempa tidak berpotensi tsunami dan tidak menimbulkan kerusakan struktural masif, dinamika geologi ini memiliki keterkaitan erat dengan kondisi tanah, jaringan irigasi, serta keberlanjutan sektor pertanian lokal.

Korelasi Gempa Tektonik dengan Sektor Pertanian
Guncangan tektonik, meskipun berskala sedang, memberikan dampak implisit terhadap lahan pertanian dan ekosistem di sekitarnya:

  1. Keutuhan Infrastruktur Irigasi: Gempa tektonik berpotensi memicu pergeseran tanah minor atau retakan pada saluran irigasi primer dan sekunder. Bagi wilayah Cilacap yang kaya akan lahan sawah produktif, menjaga pasokan air tetap lancar adalah kunci untuk mengamankan musim tanam.
  2. Stabilitas Struktur Tanah Lahan Tanam: Penunjaman lempeng yang memicu getaran dapat mempengaruhi kerapatan dan tekstur lapisan tanah atas (topsoil). Retakan mikro pada tanah kering berisiko mempercepat laju infiltrasi air ke lapisan dalam, sehingga memengaruhi daya simpan air tanah bagi tanaman pangan.
  3. Keamanan Rantai Pasok dan Pasca-Panen: Kerusakan sarana jalan atau gudang penyimpanan komoditas—sekecil apa pun—dapat menghambat distribusi hasil panen menuju pasar utama, yang berujung pada potensi lonjakan harga di tingkat konsumen.

Pelepasan energi secara berkala seperti yang terjadi di Cilacap meminimalkan risiko penumpukan energi tektonik skala besar di masa depan. Hal ini memberikan angin segar bagi kepastian investasi dan keberlanjutan sektor pertanian di wilayah pesisir selatan Jawa.

Untuk mengantisipasi dampak geologi terhadap produktivitas pertanian, para petani dan dinas terkait diimbau untuk:

  1. Pemeriksaan Jaringan Irigasi: Memeriksa bendungan, tanggul, dan saluran air pasca-guncangan untuk meminimalkan risiko kebocoran atau sedimentasi akibat longsoran kecil.
  2. Penerapan Teknik Budidaya Adaptif: Menggunakan teknik konservasi tanah yang dapat menjaga kelembapan serta struktur tanah dari paparan guncangan dan perubahan iklim mikro.
  3. Kesiapsiagaan dan Edukasi Bencana: Menggabungkan kesiapsiagaan bencana geologi dengan mitigasi risiko pertanian, sehingga para petani tetap aman beraktivitas tanpa terpengaruh oleh disinformasi atau hoaks.

Keseimbangan alam melalui pelepasan energi tektonik bertahap ini menjadi pengingat pentingnya menyelaraskan pengelolaan tata ruang pertanian dengan karakter geologi wilayah pesisir aktif.

Sumber :
Ir. H. Alief Einstein, M.Hum. - UNSOED