Pasca-Gempa M 5.3 Cilacap

Yogi Adi Prasetya,ST,.,M.Sc.: Alumni S2 di Kyushu University, Fukuoka, Jepang; Ahli Gunung Api dari Fakultas Teknik Unsoed; Anggota Ikatan Ahli Geologi Indonesia. | Sumber Foto:Unsoed
AGRONET -- Peristiwa gempa bumi berkekuatan Magnitudo 5.3 yang menghentak wilayah selatan Cilacap pada Jumat (4/9) lalu tidak hanya menarik perhatian para ahli geologi, tetapi juga memicu perhatian para pelaku sektor pertanian. Menurut pemaparan Yogi Adi Prasetya, S.T, M.Sc., ahli Gunung Api dari Fakultas Teknik Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed), gempa tersebut dipicu oleh aktivitas subduksi Lempeng Indo-Australia yang menunjam ke bawah Lempeng Eurasia—sebuah fenomena geologi alami di kawasan selatan Jawa.
Meskipun laporan BMKG mengonfirmasi bahwa gempa tidak berpotensi tsunami dan tidak menimbulkan kerusakan struktural masif, dinamika geologi ini memiliki keterkaitan erat dengan kondisi tanah, jaringan irigasi, serta keberlanjutan sektor pertanian lokal.
Korelasi Gempa Tektonik dengan Sektor Pertanian
Guncangan tektonik, meskipun berskala sedang, memberikan dampak implisit terhadap lahan pertanian dan ekosistem di sekitarnya:
Pelepasan energi secara berkala seperti yang terjadi di Cilacap meminimalkan risiko penumpukan energi tektonik skala besar di masa depan. Hal ini memberikan angin segar bagi kepastian investasi dan keberlanjutan sektor pertanian di wilayah pesisir selatan Jawa.
Untuk mengantisipasi dampak geologi terhadap produktivitas pertanian, para petani dan dinas terkait diimbau untuk:
Keseimbangan alam melalui pelepasan energi tektonik bertahap ini menjadi pengingat pentingnya menyelaraskan pengelolaan tata ruang pertanian dengan karakter geologi wilayah pesisir aktif.
Sumber :
Ir. H. Alief Einstein, M.Hum. - UNSOED
Senin, 28 September 2026
Jumat, 25 September 2026
Rabu, 30 September 2026
Jumat, 18 September 2026
Jumat, 11 September 2026
Kamis, 03 September 2026
Rabu, 02 September 2026
Jumat, 25 September 2026
Sabtu, 19 September 2026
Senin, 07 September 2026









