
Proses Panen Padi Varietas Biosalin | Sumber Foto:BRMP Biogen
AGRONET -- Pengembangan sektor pertanian di kawasan pesisir kerap menghadapi tantangan berat akibat tingginya tingkat salinitas air dan tanah. Tingginya kadar garam di lahan marginal tersebut umumnya menjadi penghambat pertumbuhan tanaman padi biasa, bahkan tidak jarang memicu risiko gagal panen. Namun, keberadaan varietas unggul baru Biosalin—khususnya Biosalin 1 Agritan dan Biosalin 2 Agritan—kini menjadi angin segar sekaligus solusi strategis untuk mengandalkan lahan terdampak air asin menjadi lahan pertanian produktif.
Varietas Biosalin dirilis oleh Kementerian Pertanian pada tahun 2020 sebagai inovasi tanaman padi yang tahan terhadap cekaman salinitas. Keunggulan utama dari Biosalin 1 Agritan dan Biosalin 2 Agritan terletak pada kemampuannya untuk tetap bertahan hidup, tumbuh secara optimal, dan menghasilkan produktivitas tinggi pada fase pembibitan maupun pertumbuhan di lingkungan berkadar garam tinggi. Selain ketahanan terhadap salinitas, Biosalin 1 Agritan memiliki potensi hasil hingga 8,75 ton per hektar, sedangkan Biosalin 2 Agritan mencatatkan potensi hasil hingga 9,06 ton per hektar. Kedua varietas ini juga dilengkapi daya tahan yang baik terhadap sejumlah organisme pengganggu tanaman (OPT), seperti agak tahan terhadap wereng batang coklat, penyakit hawar daun bakteri strain 4, serta penyakit blas. Karakteristik ketahanan dan produktivitas ini menjadikan Biosalin sebagai komoditas ideal untuk memperkuat ketahanan pangan masyarakat di wilayah pesisir.
Keberhasilan penanaman varietas Biosalin sangat ditentukan oleh penerapan tata cara budi daya yang terencana dan tepat sasaran. Pertama, persiapannya dimulai dari pemilihan lahan dan pengelolaan air. Lahan pesisir perlu dilengkapi sistem drainase serta saluran irigasi yang memadai untuk mengatur serta mengontrol tingkat salinitas tanah. Penggunaan air tawar untuk pencampuran atau pembersihan berkala dapat diterapkan untuk menyeimbangkan konsentrasi garam di area perakaran. Kedua, pengolahan tanah dilakukan dengan pembajakan dan perataan yang sempurna, disertai penambahan pupuk organik atau kompos untuk memicu perbaikan struktur tanah dan membantu bibit beradaptasi lebih cepat. Ketiga, proses pembibitan dan penanaman menggunakan benih berkualitas bermutu tinggi. Bibit dipindahkan ke lahan sawah pada umur muda sekitar 15–20 hari dengan menggunakan pola jarak tanam jajar legowo guna memaksimalkan pencahayaan matahari, sirkulasi udara, serta memudahkan perawatan. Keempat, pemeliharaan tanaman mencakup pemupukan berimbang, manajemen tata air yang terkontrol, serta pemantauan dan pengendalian hama/penyakit secara intensif agar potensi hasil produksi Biosalin dapat tercapai secara maksimal.
Ketersediaan benih berkualitas untuk menunjang budi daya ini terus didukung oleh lembaga pemuliaan resmi. Sebagaimana dalam pelaksanaan kegiatan perbanyakan benih, BRMP Biogen melaksanakan panen padi varietas Biosalin 1 Agritan dan Biosalin 2 Agritan di Instalasi Pengujian dan Penerapan Modernisasi Pertanian (IP2MP) Muara, Bogor pada Jumat-Sabtu (3-4 Juli 2026). Panen dilaksanakan dalam rangka perbanyakan benih sumber padi kelas penjenis (breeder seed/BS) label kuning. Total lahan yang ditanam Biosalin 1 dan Biosalin 2 seluas dua hektar dengan target produksi masing-masing 1.500kg (total 3.000kg). Panen dilaksanakan setelah melalui sejumlah tahapan produksi benih, termasuk pemeriksaan tanaman oleh pemulia tanaman, Dr. Rossa Yunita pada seminggu sebelum panen. Berdasarkan hasil pemeriksaan, Biosalin 1 dan Biosalin 2 dinyatakan layak menjadi benih penjenis. Selanjutnya, benih hasil panen akan melalui tahap pasca panen yang terdiri dari penjemuran, pembersihan dan sortasi, pengujian mutu benih, serta penerbitan label kuning oleh BRMP Biogen. Diperkirakan pada Agustus 2026 benih Biosalin 1 dan Biosalin 2 siap dimanfaatkan oleh masyarakat, khususnya petani yang tinggal di kawasan pesisir.
Melalui perpaduan antara keunggulan genetik varietas Biosalin, penerapan teknik budi daya pesisir yang tepat, serta jaminan ketersediaan benih penjenis berkualitas tinggi, pemanfaatan lahan pesisir terdampak air asin kini menjadi peluang nyata. Penerapan inovasi ini tidak hanya mampu memulihkan fungsi lahan marginal menjadi sawah produktif, tetapi juga meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan para petani di wilayah pesisir secara berkelanjutan.
Sumber :
Kementerian Pertanian
Senin, 28 September 2026
Jumat, 25 September 2026
Selasa, 22 September 2026
Rabu, 30 September 2026
Jumat, 18 September 2026
Jumat, 11 September 2026
Kamis, 03 September 2026
Rabu, 02 September 2026
Jumat, 25 September 2026
Sabtu, 19 September 2026
Senin, 07 September 2026










