Teknologi Bioreaktor Biodiesel dan Pengujian B50 untuk Alsintan

Selasa, 21 April 2026, 17:49 WIB

Kementan Uji B50 untuk Alsintan, Bioreaktor Biodiesel Disiapkan | Sumber Foto:Kementerian Pertanian

AGRONET -- Teknologi energi terbarukan di sektor pertanian terus ditingkatkan melalui pengembangan biodiesel serta pengujian langsung pada alat dan mesin pertanian (alsintan). Langkah strategis ini menjadi tumpuan dalam mendorong kemandirian energi berbasis sumber daya domestik sekaligus mendukung modernisasi pertanian berkelanjutan.

Inovasi bioreaktor biodiesel hybrid hasil rancangan Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian (BRMP) mampu mengolah berbagai bahan baku minyak nabati menjadi biodiesel secara lebih efisien, fleksibel, dan terkontrol.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa pengembangan biofuel menjadi langkah strategis dalam memperkuat ketahanan energi nasional.

“Sebanyak 5,3 juta ton CPO kita konversi menjadi biofuel. Artinya, tahun ini kita tidak impor solar. Ini perintah langsung Presiden,” ujar Mentan Amran.

Pernyataan tersebut menegaskan bahwa percepatan pemanfaatan biodiesel, termasuk melalui program B50, menjadi bagian penting dalam mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil sekaligus meningkatkan nilai tambah komoditas dalam negeri.

Kepala Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian (BRMP), Fadjry Djufry, menyampaikan bahwa pengembangan teknologi bioenergi merupakan bagian dari upaya mendorong hilirisasi inovasi pertanian.

“Kami mendorong pengembangan bioreaktor biodiesel yang mampu menghasilkan bahan bakar secara efisien dengan kualitas yang stabil. Dengan demikian, biodiesel yang dihasilkan dapat dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan, termasuk pada operasional alat dan mesin pertanian,” ujarnya, Jumat (17/4) di Jakarta.

Implementasi uji kinerja lapangan alsintan berbahan bakar B50 telah dilaksanakan oleh BRMP melalui Balai Besar Perakitan dan Modernisasi Mekanisasi Pertanian (BRMP Mektan) bekerja sama dengan LEMIGAS pada awal April lalu.

Kepala BRMP Mektan, Arief Rachman, menjelaskan bahwa pengujian ini dilakukan untuk memastikan kesiapan teknis penggunaan biodiesel dalam kondisi operasional nyata.

“Pengujian ini bertujuan untuk mengevaluasi performa alsintan, mulai dari keandalan mesin, efisiensi bahan bakar, hingga stabilitas operasional di lapangan. Hasilnya akan menjadi dasar dalam pengembangan mekanisasi pertanian berbasis energi alternatif, sejalan dengan dukungan terhadap program B50,” jelasnya.

Prosedur pengujian mencakup berbagai jenis alsintan, seperti traktor roda dua, traktor roda empat, serta pompa air, termasuk pengujian cold-startability untuk memastikan mesin tetap dapat beroperasi setelah periode penyimpanan tertentu.

Data hasil pengujian di laboratorium maupun lapangan menunjukkan kinerja penggunaan biodiesel B50 relatif stabil. Parameter utama seperti daya, konsumsi bahan bakar, efisiensi kerja, serta performa operasional telah memenuhi standar SNI yang ditetapkan.

Kinerja positif ini membuktikan bahwa biodiesel B50 berpotensi diterapkan pada alat dan mesin pertanian tanpa memberikan dampak negatif terhadap performa maupun keandalan operasional.

Integrasi inovasi bioenergi dan mekanisasi pertanian terus dipacu melalui pengembangan teknologi bioreaktor biodiesel serta pengujian implementatif di lapangan. Upaya ini diharapkan dapat meningkatkan efisiensi operasional, mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil, serta memperkuat fondasi pertanian modern yang berkelanjutan dalam mendukung keberhasilan program B50 nasional.

Sumber:
Kementerian Pertanian