FPK UNAIR Dorong Masyarakat Bangka Belitung Manfaatkan Potensi Perikanan

Kamis, 01 Oktober 2020, 19:50 WIB

Pengabdian FPK Unair di Desa Belinyu, Kabupaten Bangka, Propinsi Bangka Belitung. | Sumber Foto:Dok FPK Unair

AGRONET -- Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Airlangga (FPK UNAIR) berkolaborasi dengan Universitas Bangka Belitung (UBB) mengadakan Pengabdian Masyarakat Nasional yang berjudul “Peningkatan nilai tambah produk perikanan dan sosialisasi kegiatan budidaya perairan yang baik di Provinsi Bangka Belitung”.

Pengabdian dijalankan selama 2 hari pada tanggal 20 dan 21 September 2020, dengan 2 pelatihan di bidang pengolahan dan budidaya, tepatnya di Kampung Bukit Dempo Kecamatan Belinyu, Kabupaten Bangka diprakarsai oleh 3 dosen FPK, yakni Dr. Eng. Sapto Andriyono S.Pi., M.T., Dr. Eng. Patmawati, S.Pi., M.Si, serta Muhamad Amin S.Pi., M.Sc., Ph.D.

Dr. Eng. Sapto Andriyono selaku Ketua Pengabdian Masyarakat FPK di Bangka Belitung mengungkapkan tujuan pengmas untuk mendistribusikan ilmu pengetahuan dan teknologi ke masyarakat, agar perkembangan ilmu pengetahuan tentang perikanan dan kelautan yang ada di kampus dapat tersampaikan dan diaplikasikan di masyrakat.

Hari pertama masyarakat Belinyu dibekali materi mengenai olahan perikanan dan aplikasi probiotik, Kemudian di hari kedua berupa prakteknya. Mereka antusias karena pelatihan semacam itu belum pernah dilakukan di Bangka Belitung baik olahan maupun aplikasi probiotik untuk kegiatan budidaya.

“Sebelumnya, kita berkoordinasi dan berdiskusi dengan staff pengajar di jurusan Akuakultur FPPB-UBB, bahwa produk perikanan di Belinyu masih berupa terasi, empek-empek ikan, otak-otak, dan beragam jenis kerupuk. Jadi masih belum ada olahan modern, khususnya dalam bentuk frozen food,” Ungkap Dosen Departemen Kelautan tersebut.

Tim mengenalkan olahan frozen food dengan harapan wawasan masyarakat Belinyu semakin terbuka dan memberikan keberanian untuk mengembangkan olahan perikanan lebih lanjut. Misalnya dari bahan baku surimi kemudian diolah menjadi produk turunan berupa olahan frozen food lainnya, baik untuk konsumsi domestik maupun peluang usaha.

Kemudian tim mengenalkan produk komersial probiotik, serta pelatihan aplikasi probiotik dalam kegiatan budidaya ikan lele secara mandiri dengan bahan baku probiotik komersial ditambah bahan herbal yang fungsinya sebagai imunostimulan, ada Jahe, Temulawak, Kunyit, Nanas serta Molase.

“Probiotik dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh biota atau ikan dalam kegiatan budidaya. Selain mendapatkan hasil ikan yang besar, ikan juga sehat dan layak dikonsumsi,” Papar Dosen yang menamatkan program S3nya di Pukyong National University, Korea akhir tahun 2019 lalu.

Jika mengandalkan probiotik komersil, Dr. Eng. Sapto mengkhawatirkan adanya ketergantungan. Dengan memberikan pelatihan membuat probiotik secara mandiri, setidaknya itu mampu mengurangi biaya yang ditimbulkan dalam kegiatan budidaya.

Dosen FPK yang bertanggung jawab dalam pengmas ini ada; Dr. Eng. Patmawati, S.Pi., M.Si di bidang pengolahan, dan Muhamad Amin, M.Sc., Ph.D. di bidang budidaya. Namun, untuk kali ini yang berkesempatan hadir di lapangan ada Dr. Eng. Sapto dan Dr. Eng. Patmawati.

Perlu diketahui pelaksanaan pengmas dilakukan sesuai protokol kesehatan dengan menggunakan masker, mencuci tangan dengan sabun dan hand sanitizer. Pelaksanaan penyuluhan di lapangan membuat Dr. Eng. Sapto dan Dr. Eng. Patma menerangkan materi tanpa menggunakan pengeras suara sehingga Ia melepas masker dan menyampaikan materi dengan jaga jarak. (234./news unair)

BERITA TERKAIT