Kaum Milenial Harus Siap Gantikan Petani Tua

Minggu, 08 Desember 2019, 15:37 WIB

Kepala Pusat Ketersediaan dan Kerawanan Pangan Badan Ketahanan Pangan (BKP) Kementerian Pertanian (Kementan) Andriko Noto Susanto saat memberikan Kuliah Umum di hadapan ratusan mahasiswa Politeknik Pembangunan Pertanian Yogyakarta Magelang di Yogyakarta, | Sumber Foto:Agronet/360

AGRONET – Kaum milenial yang saat ini masih berada di bangku sekolah atau perguruan tinggi harus siap menggantikan para petani yang sudah berusia senja. Sebab, jumlah SDM pertanian tidak boleh terus berkurang demi tetap terjaganya ketahanan pangan nasional. Karena itu, kaum milenial calon petani harus senantiasa membekali diri dengan pengetahuan, kreativitas, inovasi, dan teknologi yang sesuai dengan perkembangan jaman.

“Tantangan pertanian di masa mendatang sangat kompleks dan ini harus dijawab dengan keberanian memulai usaha tani dengan ide-ide kreatif, melihat peluang, melibatkan masyarakat sekitar, dan memanfaatkan teknologi,” kata Kepala Pusat Ketersediaan dan Kerawanan Pangan Badan Ketahanan Pangan (BKP) Kementerian Pertanian (Kementan) Andriko Noto Susanto saat memberikan Kuliah Umum di hadapan ratusan mahasiswa Politeknik Pembangunan Pertanian Yogyakarta Magelang di Yogyakarta, Sabtu (7/12) malam.

Dia melanjutkan, kaum milenial calon petani sangat diharapkan untuk mengubah kondisi SDM pertanian yang saat ini kurang membanggakan. Berdasarkan data yang dimiliki BKP Kementan, dari jumlah petani nasional yang ada, sebanyak 73,56 persen di antaranya merupakan petani yang hanya lulusan sekolah dasar. Disusul jumlah petani lulusan SMP/SMA sebanyak 25,74 persen dan hanya 0,70 persen yang merupakan lulusan diploma/sarjana.

“Kondisi SDM pertanian yang umumnya berpendidikan rendah berakibat pada produktivitas tenaga kerja pertanian rendah. Di sinilah peran generasi muda, generasi milenial, menjadi penting untuk meningkatkan produktivitas tersebut,” ujar Andriko.

Hal yang masih disayangkan, kata Andriko, minat generasi muda pada sektor pertanian masih kurang. Berdasarkan data Sensus Pertanian 2003, petani berusia 35-54 tahun ada 51 persen, petani berusia di atas 55 tahun ada 23 persen, dan petani berumur di bawah 35 tahun sebanyak 36 persen. Pada Sensus Pertanian yang dilakukan pada 2013, jumlah petani berusia senja semakin meningkat seiring dengan berkurangnya jumlah petani muda, yakni usia petani 35-54 tahun ada 62 persen, usia di atas 55 tahun 27 persen, dan usia di bawah 35 tahun hanya 11 persen.

“Dalam kurun waktu itu, jumlah petani muda turun dari 26 persen ke 11 persen dan petani tua meningkat dari 23 persen menjadi 27 persen,” kata Andriko.

Guna mengatasi data-data yang kurang menggembirakan tersebut, Kementan membuat sejumlah program agar generasi muda mau terjun pada sektor pertanian. Program-program tersebut antara lain, fasilitasi akses atas hak pemanfaatan lahan pertanian, fasilitasi bantuan alat dan mesin pertanian untuk mengembangkan pertanian modern, pertanian terintegrasi dengan pendukung beragam pelatihan, dan pengembangan pertanian secara berkelanjutan.

Kepala BKP Kementan Agung Hendriadi menambahkan, salah satu upaya yang bertujuan melecut generasi muda berkiprah di sektor pertanian adalah program Pertanian Masuk Sekolah (PMS). Melalui PMS, Kementan ingin meningkatkan pengetahuan siswa tentang budidaya pertanian, menumbuhkan semangat siswa menjadi agripreneur sekalugus meningkatkan ketersediaan dan akses pangan.

“Kita lakukan 340 PMS di 34 provinsi dengan sasaran siswa-siswa SMA/SMK/MA. Bahkan, kita juga sudah lakukan PMS di sekolah-sekolah dasar agar minat bertani tumbuh sejak usia dini,” kata Agung. (360)