Peluang Pasar Beras Hitam Terbuka Luas

Jumat, 23 Agustus 2019, 10:55 WIB

Beras Hitam. | Sumber Foto:Pionner

AGRONET -- Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Tanaman Pangan, Direktorat Jenderal Tanaman Pangan, Kementerian Pertanian, Gatut Sumbogodjati, mengatakan beras hitam Indonesia sudah mulai dilirik pasar Amerika Serikat. Pada tahun 2018 untuk pertama kali, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah mengekspor beras hitam ke Amerika sebanyak 20 ton dengan nilai mencapai Rp800 juta.

"Beras hitam kita sudah mulai dilirik pasar ekspor, ke depan volume ekspornya akan lebih ditingkatkan. Kementan mendorong ekspor dengan mempermudah izin dan meningkatkan produksi berkualitas ekspor," kata Gatut di Jakarta, Jumat (23/8).

Menurutnya, di Korea beras hitam sebagai bagian penting dalam pemeliharaan kesehatan. Hal tersebut dapat menjadi peluang pasar ekspor yang menjanjikan bagi Indonesia. Lebih lanjut Gatut menuturkan, beras hitam merupakan varietas yang langka dan sangat tua. Zaman dulu beras ini dianggap sebagai makanan kaum elite seperti kalangan raja, sehingga disebut beras larangan.

Ada beberapa varietas yang sudah dikembangkan sejak dulu seperti varietas padi hitam yang ada di Toraja dan Nusa Tenggara Timur. Kemudian varietas Cempon Ireng di Magelang, Sleman, Bantul, dan varietas Joko Bolot di Malang. Di Jawa Barat ada varietas Cibeusi yang banyak ditanam di Subang. Di beberapa daerah, petani konsisten mengembangkannya seperti di Tabanan, Bali. Mereka mengembangkan beras hitam dengan kapasitas produktivitas 5 hingga 6,5 ton/ha dengan umur panen 6 bulan.

Kementan menurut Gatut terlibat aktif mendukung dari sisi fasilitasi pascapanennya. "Untuk kelompok tani yang mengembangkan beras hitam kami beri bantuan, seperti Combine Harvester, Dryer, Rice Milling Unit, dan Packing agar lebih efisien proses produksinya," bebernya.

Pengembangan Beras Hitam

Gatut menjelaskan beras hitam sebagai kekayaan hayati yang bernilai ekonomis perlu dikembangkan karena kandungan nutrisinya. Beras hitam beda dengan beras ketan hitam baik kandungan nutrisi dan rasa serta aromanya. "Beras hitam perlu disosialisasikan sehinga masyakarat mengenal dan mengembangkannya menjadi salah satu produk berdayasaing tinggi dan andalan Indonesia," jelasnya.

Menurut Gatut, pengembangan produksi beras hitam sudah mulai dilakukan sejak empat tahun lalu di Kabupaten Sleman DIY, Cianjur Jawa Barat, dan beberapa kabupaten sentra padi lain. Kemudian, konsumsi beras hitam dilihat dari respon pasar dalam negeri cukup baik. Daerah pemasarannya meliputi Jakarta, Depok, Tangerang, Bogor, dan beberapa kota besar lainnya di Jawa. 

“Dari segi harga, beras hitam cukup menggiurkan bagi petani yang mengembangkan karena harga gabah beras hitam dihargai Rp8.000 per kilogram atau dua kali lipat dari beras putih biasa. Harga berasnya juga lebih tinggi dari harga beras biasa. Ini sebagai peluang besar untuk bisa kita sebarluaskan ke petani," tutupnya. (591)