Bantuan Alsintan Tingkatkan Kesejahteraan Petani

Jumat, 28 Juni 2019, 07:59 WIB

Petani menggunakan traktor tangan mengolah sawah. | Sumber Foto: Biro Humas dan Publik Kementan

AGRONET -- Bantuan besar-besaran alat dan mesin pertanian (Alsintan) pada 4 tahun terakhir telah mengubah wajah pertanian Indonesia menjadi lebih modern. Efek domino dari bantuan Alsintan pun terjadi. Bukan hanya produksi pangan terdongkrak, tapi kesejahteraan petani pun terangkat.

Demikian disampaikan Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, dalam keterangannya (27/6). Ditambahkannya, modernisasi pertanian melalui mekanisasi merupakan solusi efisien menggantikan pola usaha manual. Mekanisasi juga sebagai solusi mengatasi berkurangnya tenaga kerja pertanian karena bermigrasi ke sektor industri dan jasa.

Ditjen Prasarana dan Sarana Pertanian, Kementerian Pertanian, telah memberikan bantuan Alsintan sekitar 720 ribu unit dengan berbagai jenis. Jumlah itu diperkirakan naik hampir 500 persen. Alsintan berupa rice transplanter, combine harvester, dryer, power thresher, corn sheller dan rice milling unit, traktor, dan pompa air.

Tahun 2019, Kementan akan mengalokasikan Alsintan sebanyak 50 ribu unit. Alsintan tersebut berupa traktor roda dua (20 ribu unit), traktor roda empat (3 ribu unit), pompa air (20 ribu unit), rice transplanter (2 ribu unit), cultivator (4.970 unit) dan excavator (30 unit).

“Bantuan Alsintan itu merupakan terbesar sepanjang sejarah Indonesia. Kita ingin dengan Alsintan mengubah mindset petani dari bertani secara tradisional ke modern. Kita juga ingin usaha tani menjadi lebih efisien,” kata Dirjen Prasarana dan Sarana Pertanian, Sarwo Edhy (26/6).

Pada tahun 2015 bantuan Alsintan sebanyak 54.083 unit, tahun 2016 sebanyak naik menjadi 148.832 unit. Sedangkan  pada tahun 2017 sebanyak 82.560 unit, dan pada tahun 2018 sebanyak 112.525 unit.

Sarwo mencontohkan, jika pengolahan lahan menggunakan tenaga manusia (cangkul), maka dalam 1 ha sawah diperlukan 30-40 orang, lama pengerjaannya 240-400 jam/ha, sedangkan biayanya mencapai Rp 2-2,5 juta/ha. Sementara dengan traktor tangan hanya diperlukan tenaga kerja 2 orang, jumlah jam kerja hanya 16 jam/ha dan biayanya Rp900 ribu-1,2 juta/ha.

Begitu juga saat panen. Jika menggunakan alsintan hanya perlu 3 jam sudah selesai. Sedangkan kalau menggunakan tenaga manusia perlu waktu 1 minggu.  Keuntungan lainnya lanjut Sarwo adalah saat tanam bisa serentak karena pengolahan lahan bisa cepat sehingga petani bisa tanam 3 kali setahun.

Kalkulasi pemerintah dengan mekanisasi dapat menghemat biaya produksi hingga 30?n menurunkan susut panen 10%. Mekanisasi juga menghemat biaya olah tanah, biaya tanam, dan panen dari pola manual Rp7,3 juta/ha menjadi Rp5,1 juta/ha.

Untuk optimalisasi Alsintan, pemerintah pusat, provinsi, kabupaten, dan penyuluh terus memobilisasi penggunaan Alsintan agar bisa digunakan secara optimal oleh petani. Mobilisasi Alsintan ke depan akan mendorong dan mendukung perubahan pola tanam dan produksi petani.

Guna memudahkan pengelolaan Alsintan oleh petani, Ditjen PSP menggencarkan program pengembangan Pertanian Korporasi Berbasis Mekanisasi (PKBM). Program PKBM ini meliputi pembuatan gudang Alsintan, legalisasi struktur organisasi, pelatihan manajemen dan aplikasi UPJA Smart Mobile, dan penetapan  petugas pendamping lapangan.

Kegiatan ini sudah ada percontohannya di lima lokasi. Yakni, Kabupaten Tuban (Jawa Timur), Sukoharjo (Jawa Tengah), Konawe Selatan (Sulawesi Tenggara), Barito Kuala (Kalimantan Selatan), dan di Kabupaten Ogan Komering Ilir (Sumatera Selatan).

Survei Balai Besar Pengembangan Mekanisasi Pertanian (BB Mektan) Badan Litbang Pertanian, mencatat berkat program mekanisasi, level mekanisasi pertanian Indonesia terangkat. Jika  pada tahun 2015 level mekanisasi pertanian Indonesia baru 0,5 HP/ha, maka tahun 2018 meningkat 236% menjadi 1,68 HP/ha. Level mekanisasi pertanian adalah penggunaan daya Alsintan terhadap luas areal yang tercover Alsintan. Modernisasi pertanian melalui bantuan Alsintan juga sekaligus untuk menjawab tantangan revolusi industri 4.0 (591)