
Kepala BRSDM, Sjarief Widjaja. | Sumber Foto: Humas BRSDM KP
AGRONET -- Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan (BRSDM) Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melakukan berbagai terobosan dalam meningkatkan sumber daya manusia (SDM) kelautan yang kompeten dan berbagai riset yang inovatif. Hal itu dilakukan untuk mewujudkan Indonesia sebagai poros maritim dunia.
Kepala BRSDM, Sjarief Widjaja, di kantornya, Gedung KKP Jakarta, Kamis (27/12) menyampaikan untuk mewujudkan SDM yang andal, pihaknya berkomitmen membangun 6 Politeknik Kelautan dan Perikanan (Poltek KP) baru yang tersebar di seluruh Indonesia. Sebelumnya BRSDM telah memiliki tiga politeknik.
“Animo masyarakat pun tampak dari pembangunan Poltek KP baru, di mana terdapat 1.961 peserta didik tambahan dari total 8.000 Peserta Didik pada Satuan Pendidikan KP. Sekitar 48,06 persen merupakan Anak Pelaku Utama KP. BRSDM sebagai agent of change pun memastikan bahwa seluruh tenaga kerja kelautan dan perikanan di Indonesia merupakan lulusan pendidikan vokasi yang tepat guna, tepat sasaran, dan bersertifikat,” ujarnya.
Dalam membangun SDM yang kompeten, BRSDM fokus pada penyerapan tenaga kerja formal bersertifikat, penyiapan tenaga terampil yang bersertifikat kompetensi untuk para pelaku usaha, pelaku utama dan para nelayan serta pembudidaya, dan memperkuat kompetensi penyuluh perikanan yang berbasis teknologi digital. Salah satu langkah dalam penguatan kompetensi penyuluh perikanan, BRSDM telah melaksanakan kegiatan penilaian kompetensi (assessment).
Dalam bidang riset, BRSDM telah mengembangkan inovasi baru, yakni pembentukan desa inovasi digital 4.0 dan inovasi teknologi adaptif perikanan mina padi air payau (Intan-AP) padi udang windu (Pandu) di Sulawesi Selatan. BRSDM juga telah merilis produk-produk unggulan seperti backyard vaname (budidaya udang skala rumah tangga) dan LED ikan yang berfungsi untuk memikat ikan dengan menggunakan lampu LED (light-emitting diode).
BRSDM juga memiliki aplikasi berbasis android bernama Laut Nusantara yang memudahkan aktivitas nelayan tradisional dalam mencari ikan di lautan. Wakatobi AIS (Automatic Identification System) yang dapat melacak posisi nelayan saat sedang melaut. “Tentunya semua temuan ini memberikan manfaat kepada masyarakat secara langsung,” ujarnya.
Sjarief menambahkan pihaknya memiliki trobosan baru untuk mendekatkan hasil riset dan inovasi pada industri, salah satunya melalui program Science and Innovation Business Matching (SIBM) 2018. Dalam forum tersebut, para peneliti BRSDM menyampaikan hasil patennya untuk dapat dimanfatkan oleh industri.
"Salah satu contohnya, kami bekerja sama dengan PT Martina Berto, Tbk atau Martha Tilaar Group dalam proses pembuatan produk kosmetik menggunakan rumput laut hasil riset BRSDM. Ada juga pakan ikan alternatif, yakni maggot yang dihasilkan melalui sistem biokonversi sampah organik. (591)
Sabtu, 24 Januari 2026
Sabtu, 17 Januari 2026
Selasa, 13 Januari 2026
Sabtu, 24 Januari 2026
Kamis, 22 Januari 2026
Minggu, 18 Januari 2026
Kamis, 15 Januari 2026
Selasa, 13 Januari 2026
Jumat, 23 Januari 2026
Jumat, 23 Januari 2026
Rabu, 21 Januari 2026










