Sisal ini dapat menjadi alternatif di wilayah yang tidak memungkinkan ditanami tebu.

Sisal atau Agave sisalana | Sumber Foto:Marco Schmidt-Wikimedia
AGRONET – Para peneliti Brasil berupaya mengembangkan potensi Agave sisalana atau sisal sebagai sumber bioenergi. Sisal ini dapat menjadi alternatif di wilayah yang tidak dapat ditanami tebu. Selama ini tebu kerap menjadi sumber utama etanol sebagai bahan utama bioenergi. Brasil adalah penghasil dan pengekspor gula terbesar dunia.
“Di Brasil, spesies utama yang dapat tumbuh adalah Agave sisalana, yang daunnya bisa untuk membuat serat sisal. Namun, proses tersebut hanya menggunakan 4 persen dari tumbuhan, sehingga menimbulkan banyak sisa yang terbuang,” ujar Marcelo Falsarella Carazzolle, profesor Institut Biologi pada State University of Campinas (UNICAMP) yang dikutip Eurasia Review edisi 20 Oktober 2024 lalu.
Paparan Carazzolle disampaikan di FAPESP Week Italy 14 Oktober lalu. Carazzolle dan rekannya, Gonçalo Pereira, adalah koordinator proyek riset sisal ini. Riset tersebut didukung yayasan FAPESP dan proyek ini dipayungi Brazilian Agave Development (BRAVE). Kemitraan ini juga melibatkan UNICAMP), Shell, dan lembaga pendidikan dan riset lain.
Akibat perubahan iklim, lahan semiarid terus bertambah luas di Brasil. Data National Center for Monitoring and Warning of Natural Disasters (CEMADEN) dan National Institute of Space Research (INPE) menyebutkan, lahan semiarid terus bertambah 7.500 kilometer per segi setiap tahunnya, sejak 1990. Angka itu nyaris lima kali lipat dari Kota Sao Paulo yang hanya seluas 1.523 kilometer per segi. Fenomena serupa juga terlihat di Eropa dan Afrika Utara.
Kondisi ini mendorong para peneliti mencari solusi untuk memitigasi perubahan iklim. Mereka melirik sisal, salah satu dari 200 spesies yang termasuk genus Agave. Genus tersebut adalah sejenis sukulen yang biasa digunakan di Meksiko sebagai bahan baku tequila.
Sisal membutuhkan lebih sedikit air dan pupuk. Tanaman ini dapat tumbuh dalam lima tahun dan mampu menghasilkan 800 ton biomassa per hektare.
Para peneliti tersebut telah mengumpulkan berbagai spesies agape dari seantero Brasil dan negara lain seperti Meksiko dan Australia. Tujuannya, mereka ingin membangun bank plasma nutfah.
Hasil riset mereka digunakan untuk mengembangkan strategi mengatasi pengembangan sisal. Para peneliti bertekad untuk menjadikan sisal bak “tebu di lahan pedalaman kering di Brasil”.
Salah satu tantangan yang mereka hadapi adalah ragi yang biasa digunakan dalam produksi etanol, yaitu Saccharomyces cerevisiae, tidak mampu memetabolisme inulin. Padahal, sisal kaya akan inulin.
Inovasi Indonesia untuk materi pesawat
Sisal ternyata tak asing bagi Indonesia. Serat sisal kerap dipakai sebagai tali temali atau bahan baku karung goni. Sementara sumber lain menyebutkan, uji coba pengembangan sisal pernah dilakukan di Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur. Namun, uji coba itu terkendala investasi.

Kantor berita Antara pada November 2023 lalu melaporkan kreasi sejumlah mahasiswa Universitas Indonesia menciptakan inovasi material pesawat terbang yang berkelanjutan dengan menggunakan bahan alami serat sisal. Serat sisal ini berpotensi sebagai penguat untuk komposit polimer. (yen)
Sabtu, 24 Januari 2026
Sabtu, 17 Januari 2026
Selasa, 13 Januari 2026
Sabtu, 24 Januari 2026
Kamis, 22 Januari 2026
Minggu, 18 Januari 2026
Kamis, 15 Januari 2026
Selasa, 13 Januari 2026
Jumat, 23 Januari 2026
Jumat, 23 Januari 2026
Rabu, 21 Januari 2026










