Bersahabat dengan Alam: Kunci Bertani Bijak Sepanjang Hayat

Senin, 23 Juni 2025, 17:20 WIB

Penyuluh Pertanian Lapangan Kabupaten Merauke dalam perjalanan menuju lahan pertanian | Sumber Foto:PPL Merauke

AGRONET -- Alam adalah ruang hidup kita. Sejak lahir hingga akhir hayat, manusia senantiasa hidup berdampingan dengan alam. Karena itu, memahami karakter dan perilaku alam menjadi langkah bijak agar kita dapat bersahabat dengannya, bukan melawan. Di dunia pertanian, khususnya di wilayah Merauke, hubungan antara manusia dan alam menjadi sangat nyata dan menentukan.

Karakteristik Lahan Merauke yang Unik

Merauke memiliki karakteristik wilayah yang khas. Lahan pertaniannya didominasi dataran rendah yang berlumpur-keras dan retak saat musim kemarau, namun menjadi becek dan tergenang saat musim hujan. Kondisi ini menjadikan pengelolaan lahan di Merauke penuh tantangan. Curah hujan sedang hingga tinggi dengan durasi lama dapat membuat lahan cepat tergenang. Inilah sebabnya, memahami cuaca dan dinamika lingkungan sangat penting untuk menyusun rencana tanam yang tepat.


Air: Berkah yang Perlu Diatur

Bagi petani, air adalah sumber kehidupan. Namun, dalam kondisi berlebih, air juga bisa menjadi musuh. Benih yang baru disebar bisa hanyut oleh hujan deras. Tanaman padi yang hampir panen bisa roboh, dan bahkan sulit atau tidak dapat dipanen. Hujan yang terlalu lebat juga membuat jalan usaha tani becek, licin, dan sulit dilalui untuk mengangkut hasil panen.


Bagi para penyuluh pertanian, medan berlumpur menjadi hambatan tersendiri. Meski kendaraan roda dua telah dilengkapi ban khusus untuk jalan licin, tetap saja banyak wilayah yang sulit diakses saat musim hujan tiba.

Upaya Bersama Mengatasi Tantangan

Berbagai langkah telah diambil untuk mengatasi tantangan ini. Pemerintah memberikan bantuan pompa air untuk membantu petani ketika curah hujan mulai berkurang. Pompa ini berfungsi untuk mengalirkan air dari saluran ke lahan. Namun, pada saat yang sama, tantangan lain muncul: membuang air dari sawah menjadi sulit karena tinggi permukaan air di saluran hampir sejajar dengan genangan di lahan.

Oleh karena itu, upaya perbaikan dan pengelolaan saluran air harus terus dilakukan. Pengamatan secara berkala dan saling berbagi informasi antar petani, penyuluh, dan pemangku kepentingan sangat penting. Hanya dengan kolaborasi dan observasi terus-menerus, solusi yang tepat dapat ditemukan.

Musim Kemarau dan Ancaman Intrusi Air Laut

Saat kemarau panjang, meskipun beberapa wilayah masih memiliki air, persoalan lain muncul: air sudah tercampur dengan air laut. Intrusi air laut ini berdampak buruk bagi kesehatan tanaman padi, yang sensitif terhadap kadar garam tinggi. Akibatnya, pertumbuhan tanaman terganggu bahkan bisa mati sebelum panen.


Teknologi dan Perencanaan yang Tepat

Kondisi lahan berlumpur tidak hanya menyulitkan petani dalam bercocok tanam, tetapi juga menghambat kinerja alat dan mesin pertanian. Traktor dan mesin panen sulit bekerja optimal di lahan yang terlalu becek. Maka dari itu, mengamati alam dan kondisi lingkungan menjadi hal krusial untuk menyusun perencanaan tanam yang adaptif.

Menabung: Antisipasi Risiko

Selain strategi teknis, petani juga perlu memiliki strategi keuangan. Menabung adalah langkah bijak untuk menghadapi ketidakpastian. Cadangan finansial bisa menjadi penyelamat saat terjadi gagal panen atau kehilangan hasil yang tinggi akibat cuaca ekstrem atau gangguan lainnya.

Menjadi Sahabat Alam

Kita tidak bisa mengendalikan alam, tapi kita bisa belajar darinya. Dengan bersikap terbuka terhadap perubahan, terus mengamati, dan saling berbagi pengalaman, petani dan penyuluh dapat merancang langkah-langkah adaptif. Menjadi sahabat alam bukan hanya soal menjaga lingkungan, tetapi juga memahami ritme dan siklusnya agar kehidupan dan penghidupan tetap lestari

 

Sumber :

Penyuluh Pertanian Lapangan Kabupaten Merauke