Atasi Godzilla El Nino Melalui Pencegahan Hama Padi

Minggu, 12 April 2026, 09:37 WIB

Pengendalian hama secara nabati bisa dengan ekstrak pestisida nabati menggunakan daun mimba, daun sembung, umbi gadung dan lain-lain | Sumber Foto:Kementan

AGRONET -- Fenomena Godzilla El Nino diperkirakan berlangsung mulai April hingga Oktober 2026. Risiko kemarau panjang ini tidak hanya menekan produksi padi, tetapi juga memicu ledakan serangan hama seperti penggerek batang padi dan Wereng Batang Cokelat (WBC).

Dosen IPB University, Prof. Hermanu, menegaskan pentingnya strategi preemptif (pencegahan sebelum musim tanam) sebagai langkah murah, sederhana, dan efektif untuk menahan populasi awal hama.

Berikut tips praktis antisispasi serangan hama di tengah ancaman Godzilla El Nino:

1. Kumpul Kelompok Telur di Persemaian
Langkah sederhana ini berfokus pada pengumpulan kelompok telur penggerek batang padi sejak fase persemaian. Tindakan ini ampuh menekan populasi awal sebelum hama berkembang biak di lahan utama.

2. Gunakan Alat Sederhana dan Murah
Pencegahan tidak memerlukan teknologi mahal. Petani dapat memanfaatkan barang bekas, seperti botol plastik bekas air mineral yang dibalik, untuk membantu proses pengumpulan dan antisipasi ledakan penggerek sejak dini.

3. Hitung Efisiensi dan Potensi Kerugian
Satu kelompok telur penggerek batang padi berisi rata-rata 50 telur. Dalam tiga generasi, satu kelompok telur berpotensi merusak hingga 300 malai padi (setara 1,2 kg gabah kering panen atau Rp8.125). Memusnahkan satu kelompok telur di awal sama dengan mencegah kerugian ekonomi secara langsung.

4. Cegah Potensi Ledakan Wereng Batang Cokelat (WBC)
Serangan WBC mampu menyebabkan gagal panen total pada ribuan hektar sawah dalam hitungan hari, sekaligus menularkan virus kerdil hampa dan kerdil rumput. Pengendalian populasi awal penggerek batang turut membantu menjaga keseimbangan ekosistem sawah dari ledakan WBC.

5. Libatkan Masyarakat dan Generasi Muda
Gerakan masal dapat dilakukan secara partisipatif dengan melibatkan anak-anak sekolah. Memberikan insentif Rp500 hingga Rp2.000 per kelompok telur menjadikan kegiatan ini sarana edukatif sekaligus menumbuhkan kecintaan generasi muda pada dunia pertanian.

6. Terapkan Prinsip Pengendalian Hama Terpadu (PHT)
Utamakan tindakan pencegahan dan konservasi musuh alami. Penggunaan pestisida kimia hanya dijadikan opsi terakhir agar ekosistem sawah tetap seimbang dan penggunaan insektisida dapat ditekan secara maksimal.

Sumber:
Kementerian Pertanian