Amankan Produksi Padi saat Kemarau 2026

Jumat, 27 Maret 2026, 15:07 WIB

Lahan Persawahan di Jawa Barat | Sumber Foto:Kementerian Pertanian

AGRONET -- Potensi musim kemarau 2026 yang diperkirakan berlangsung pada April hingga Oktober menuntut kesiapsiagaan dari segenap pemangku kepentingan. Provinsi Jawa Barat sebagai salah satu lumbung pangan nasional dengan luas baku lahan sawah sekitar 900.772 hektare memegang peran strategis dalam stabilitas pasokan pangan nasional. Prediksi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menunjukkan bahwa musim kemarau tahun ini berpotensi lebih panjang dan kering, terutama di wilayah Indonesia bagian barat dan selatan.

Guna memastikan produksi dan produktivitas padi tetap optimal di tengah tekanan iklim, langkah-langkah praktis dan antisipatif perlu diterapkan di lapangan:

  1. Pengairan dan Pompanisasi Efektif: Penguatan jaringan irigasi pertanian serta optimalisasi irigasi perpompaan menjadi fokus utama. Bantuan pompa air harus dimaksimalkan untuk menjaga pasokan air ke lahan sawah.
  2. Pemanfaatan Lahan Non-Rawa: Optimasi lahan non-rawa dapat dilakukan sebagai solusi tambahan untuk menunjang ketercukupan areal tanam.
  3. Penggunaan Benih Tahan Kekeringan: Penyaluran dan pemanfaatan bantuan benih unggul yang adaptif terhadap tekanan iklim minim air sangat disarankan guna mempertahankan tingkat produktivitas.
  4. Koordinasi Lintas Sektor di Field: Sinergi erat antara dinas pertanian daerah, tim Pengelolaan Lahan dan Air (PLA), serta pemangku kepentingan terkait di tingkat kabupaten sangat krusial untuk percepatan perbaikan dan pemeliharaan fungsi jaringan irigasi.

Ketersediaan air merupakan faktor kunci dalam keberhasilan produksi pertanian. Melalui penguatan irigasi, pompanisasi, dan penggunaan benih secara terpadu, produksi padi dapat dipertahankan bahkan ditingkatkan meskipun menghadapi tantangan perubahan iklim.

Sumber:
Kementerian Pertanian