
Petani sedang menarik terpal untuk mengangkut gabah dari lahan pertanian | Sumber Foto:Penyuluh Pertanian Lapangan Kabupaten Merauke
AGRONET -- Di kota, hujan sering diartikan sebagai puisi. Diabadikan lewat jendela kafe, ditemani kopi dan playlist mellow. Tapi di Merauke, hujan adalah naskah kehidupan-kadang membawa harapan, kadang juga menguji kesabaran.
Bagi petani padi di daerah ini, hujan ibarat dua sisi mata uang. Di awal musim tanam, air dari langit adalah anugerah yang tak ternilai. Tapi saat musim panen tiba dan hujan belum juga reda, semuanya bisa berubah menjadi perjuangan.
Coba bayangkan ini: jalan usaha tani yang biasa mereka lalui berubah jadi kubangan lumpur yang bahkan sulit dilewati dengan berjalan kaki. Ban traktor pun bisa tenggelam, apalagi kaki manusia. Gabah hasil panen yang seharusnya segera diangkut ke titik pengumpulan malah terjebak di tengah sawah.
Tapi petani Merauke tidak menyerah begitu saja. Mereka menemukan jalan dari apa yang ada. Mereka melihat aliran air di saluran irigasi, bukan hanya sebagai saluran pembuangan, tapi juga sebagai jalur harapan. Bukan dengan perahu mesin atau rakit bambu, tapi dengan terpal-benda sederhana yang biasanya hanya digunakan menutup tumpukan padi, kini disulap menjadi alat transportasi darurat.
Terpal yang kuat dibentuk seperti wadah mengapung, lalu diisi gabah yang siap diangkut Lalu, dua orang petani berdiri di sisi kanan dan kiri saluran air, menarik terpal secara bergantian dari pinggir. Tujuannya jelas: menjaga agar "perahu terpal" itu tetap berada di tengah arus dan tidak tersangkut.
Kenapa tidak pakai perahu sungguhan? Karena jalur ini penuh dengan tantangan: gorong-gorong kecil, pintu air sempit, dan saluran yang berkelok. Perahu akan macet, tapi terpal bisa disesuaikan, digulung bila perlu, dan dibentangkan lagi saat medan memungkinkan.
Ini bukan sekadar ide kreatif. Ini adalah bentuk nyata dari kecerdasan petani lokal yang berjuang menyelamatkan panennya. Mereka tahu betul, gabah yang tidak sampai ke titik pengangkutan adalah potensi kerugian besar-hasil keringat berbulan-bulan yang bisa hilang begitu saja.
Perahu terpal ini memang tidak berlayar di samudra. Tidak berlayar membawa surat cinta seperti di puisi. Tapi ia membawa lebih dari itu-butir-butir harapan, kerja keras, dan ketekunan petani yang diam-diam terus menjaga ketahanan pangan negeri. Karena sesungguhnya, nasi yang kita makan hari ini bukan hanya hasil dari benih dan air, tapi juga dari peluh dan strategi. Dari akal dan semangat. Dari orang-orang yang meskipun tidak banyak bicara, tapi sudah memberikan begitu banyak.
Sumber :
Penyuluh Pertanian Lapangan Kabupaten Merauke
Sabtu, 24 Januari 2026
Sabtu, 17 Januari 2026
Selasa, 13 Januari 2026
Sabtu, 24 Januari 2026
Kamis, 22 Januari 2026
Minggu, 18 Januari 2026
Kamis, 15 Januari 2026
Selasa, 13 Januari 2026
Jumat, 23 Januari 2026
Jumat, 23 Januari 2026
Rabu, 21 Januari 2026










