
Sebanyak 6 Ton Biji Kakao Ransiki dengan Kualitas Premium dari Koperasi Ebier Suth Cokran dilepas oleh Gubernur Papua Barat ke pasar Eropa ( Inggris dan Belanda) di Kabupaten Manokwari Selatan Provinsi Papua Barat, 9 Januari 2020. | Sumber Foto:Dok Kementan
AGRONET -- Setelah lama vakum berproduksi akibat serangan hama, kakao Papua Barat kembali diekspor ke Eropa. Biji kakao tersebut diproduksi Koperasi Ebier Suth Cokran dari Ransiki, Manokwari Selatan.
Ketua Koperasi Ebier Suth Cokran Yusuf Kawey mengaku selama 12 tahun perkebunan kakao tidak berproduksi di Ransiki. Sebelumnya, produk dari daerah mereka sempat diekspor ke Prancis.
Cokelat ibarat napas kehidupan bagi warga Desa Abreso, Distrik Ransiki, Manokwari Selatan, Papua Barat. Sebenarnya telah dirintis di Ransiki sejak zaman Belanda, namun baru pada 1980an sebuah perusahaan menggelutinya usaha cokelat di tempat itu secara serius dengan menjadikannya sebagai pusat pelatihan cokelat bagi warga Papua dan Papua Barat.
Perusahaan yang menjadi tempat warga bergantung hidup dinyatakan pailit pada tahun 2006 dan baru setelah pemekaran, pada 16 November 2017, Pemda Manokwari Selatan merintis Koperasi Petani Cokran Eiber Suth untuk membangkitkan kembali kejayaan cokelat Ransiki. Hal itu sesuai arti nama koperasi, yakni bersatu untuk bangkit (unity to arise).
Selama ditinggalkan, masyarakat petik dan jual sendiri. Setelah koperasi terbentuk, masa depan Ransiki mulai kembali cerah. Bersama Yayasan Inisiatif Dagang Hijau (YDIH), mereka mengusahakan cokelat yang ramah lingkungan. Tidak ada pestisida buatan mengingat sekitar kawasan itu adalah buffer zone Pegunungan Arfak.
Koperasi membeli sekitar 45 ton cokelat dari petani setiap bulan. Harganya kini sekitar Rp23 ribu per kilogram. Oleh koperasi, cokelat itu difermentasi dan dijual kepada produsen cokelat olahan yang berminat.
Saat ini, peningkatan produksi kembali digiatkan untuk mengincar peluang ekspor. Selain areal penanaman seluas 225 hektare, terdapat sekitar 600-800 hektare lahan berpotensi dikembangkan untuk budi daya kakao.
“Kami bekerja sama secara resmi dengan investor (dalam mengembangkan kakao). Masa kontrak (kerja sama) pertama ini berlangsung selama satu tahun,” kata Kawey.
9 Januari 2020 lalu, sebanyak 6 Ton Biji Kakao Ransiki dengan Kualitas Premium dari Koperasi Ebier Suth Cokran di Kabupaten Manokwari Selatan Provinsi Papua Barat dilepas oleh Gubernur Papua Barat ke pasar Eropa ( Inggris dan Belanda) melalui Pelabuhan Laut Manokwari Papua Barat selanjutnya ke Pelabuhan Ekspor Surabaya dan Negara tujuan ekspor.
Dalam sambutannya Gubernur Dominggus Mandacan menyatakan Pemprov Papua Barat berkomitmen meningkatkan produktivitas kakao di Manokwari Selatan. Karena itu, penambahan pendanaan melalui APBD perubahan 2020 juga sangat memungkinkan untuk menggenjot produktivitas kakao. Masyarakat Papua Barat harus menjaga keamanan dan stabilitas daerah sehingga kegiatan ekspor ini terus berlanjut.
Untuk mendukung pengembangan kakao di Manokwari Selatan, tahun ini Pemerintah akan melakukan kegiatan perluasan kakao seluas 200 Ha di Kab. Manokwari Selatan melalui APBD Papua Barat seluas 100 Ha dan APBN 100 Ha, direncanakan akan di tambahkan melalui APBD Papua Barat tahun 2020 seluas 200 jadi total keseluruhan seluas 400 Ha.
Untuk di ketahui ekspor perdana biji kakao Ransiki ini mempunyai Nilai Mutu Grade A dengan harga Rp. 46.000,-/Kg. Pengiriman ini akan dilakukan setiap bulan sesuai kontrak selama 1 tahun yang telah ditandatangani oleh pihak Koperasi Ebier Suth Cokran dan Pembeli/Importir Yaitu Biji Kakao Trading (Comp).(234)
Sabtu, 24 Januari 2026
Sabtu, 17 Januari 2026
Selasa, 13 Januari 2026
Sabtu, 24 Januari 2026
Kamis, 22 Januari 2026
Minggu, 18 Januari 2026
Kamis, 15 Januari 2026
Selasa, 13 Januari 2026
Jumat, 23 Januari 2026
Jumat, 23 Januari 2026
Rabu, 21 Januari 2026










