HEBOH ADA IMPOR BERAS LAGI !

Jumat, 05 Desember 2025, 17:38 WIB

ENTANG SASTRAATMADJA | Sumber Foto:Dok. PRIBADI

AGRONET -- Kabar masih adanya impor beras yang ditempuh Pemerintah selama ini, dalam beberapa waktu belakangan, tampak ramai mewarnai perbincangan di media sosial. Ditengah semangatnya Pemerintah akan memproklamirkan lagi swasembada beras di penghujung tahun 2025, tiba-tiba Badan Pusat Statistik (BPS) merilis adanya impor beras yang masuk ke negara kita.

Sebagai komoditas politis dan strategis, yang namanya beras selalu mengundang perhatian. Terlebih bila hal itu berkairan dengan impor beras. Kementerian Pertanian (Kementan) menegaskan, beras impor yang masuk sampai saat ini bukanlah beras medium. Sebab, posisi ketersediaan beras medium di dalam negeri saat ini aman dan surplus.

Hal itu disampaikan Kepala Biro Komunikasi dan Layanan Informasi Kementan Moch Arief Cahyono merespons data Badan Pusat Statistik (BPS) yang mencatat adanya impor beras pada Oktober 2025 sebesar 40,7 ribu ton. Secara kumulatif Januari-Oktober 2025 tercatat impor beras mencapai 364,3 ribu ton dengan nilai US$178,5 juta atau setara Rp2,97 triliun.

Jenis beras impor yang masuk adalah beras pecah 100% atau menir (HS 1006.40.90) sebagai bahan baku industri; beras kebutuhan khusus termasuk untuk penderita diabetes; serta beras khusus untuk restoran asing dan hotel. Selain itu, terdapat varian khusus berkode HS 1006.30.99 seperti basmati, jasmine, dan japonica dengan tingkat kepecahan maksimal 5% yang memang tidak diproduksi di Indonesia.

Bangsa Indonesia memang cukup sensitif dengan isu impor beras, karena beras adalah makanan pokok utama di Indonesia. Banyak orang khawatir bahwa impor beras bisa membuat petani lokal terpinggirkan dan harga beras menjadi tidak stabil. Selain itu, Indonesia juga memiliki sejarah panjang dalam upaya mencapai swasembada beras.

Artinya, suatu hal yang wajar kalau ada kekhawatiran seperti itu. Tapi, pemerintah juga berusaha meningkatkan produksi dalam negeri dan memperbaiki sistem pertanian untuk mengurangi ketergantungan impor. Bahkan mulai tahun 2025 Pemerintahan Presiden Prabowo berkomitmen untuk menghentikan impor beras.

Pemerintah memang telah menghentikan impor beras medium untuk melindungi petani lokal, tapi impor beras industri seperti untuk restoran dan kesehatan serta jenis lainnya masih diperbolehkan untuk memenuhi kebutuhan industri dan ekspor. Jadi, ada keseimbangan antara melindungi petani lokal dan memenuhi kebutuhan industri dan kesehatan.

Impor beras untuk industri, kesehatan, dan lain-lain sepertinya masih diperlukan karena beberapa alasan diantaranya :

  1. Kualitas dan Spesifikasi. Beras industri dan kesehatan memiliki standar kualitas yang lebih tinggi dan spesifik, yang mungkin tidak dapat dipenuhi oleh produksi dalam negeri.
  2. Ketersediaan dan Harga. Impor beras industri dan kesehatan dapat membantu memenuhi kebutuhan industri dan kesehatan dengan harga yang kompetitif.
  3. Diversifikasi Pasokan. Impor beras dari berbagai negara dapat membantu mengurangi ketergantungan pada produksi dalam negeri dan meningkatkan ketersediaan beras.

Namun begitu, pemerintah juga berusaha meningkatkan produksi dalam negeri dan memperbaiki sistem pertanian untuk mengurangi ketergantungan impor. Persoalannya adalah apakah hal ini telah digarap cukup serius, mengingat sekarang ini Pemerintah terekam masih sibuk menangani beras medium ?

Kekurangan kita dalam memproduksi beras untuk industri, kesehatan, restoran, dan lain-lain antara lain:

  1. Kualitas dan Kuantitas. Produksi beras dalam negeri masih belum memenuhi standar kualitas dan kuantitas yang dibutuhkan oleh industri, kesehatan, dan restoran.
  2. Teknologi dan Infrastruktur. Teknologi dan infrastruktur pertanian kita masih belum memadai untuk mendukung produksi beras yang berkualitas tinggi dan efisien.
  3. Biaya Produksi. Biaya produksi beras dalam negeri masih relatif tinggi, sehingga membuat harga beras kita tidak kompetitif di pasar internasional.
  4. Pengolahan dan Paska Panen. Pengolahan dan paska panen beras kita masih belum optimal, sehingga kualitas beras tidak terjaga.

Kebdati demikian, pemerintah dan petani kita sedang berusaha meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi beras dengan menggunakan teknologi modern, memperbaiki infrastruktur, dan meningkatkan kemampuan petani.

Untuk memenuhi kebutuhan industri, kesehatan, restoran, dan lain-lain, beberapa terobosan cerdas yang dapat dilakukan adalah:

  1. Pengembangan Beras Fungsional. Mengembangkan beras yang memiliki nilai tambah, seperti beras organik, beras merah, dan beras dengan kandungan nutrisi tinggi.
  2. Teknologi Pengolahan Beras. Menggunakan teknologi pengolahan beras yang canggih untuk meningkatkan kualitas dan nilai tambah beras.
  3. Peningkatan Kualitas Beras. Meningkatkan kualitas beras melalui proses sortasi, pengeringan, dan penggilingan yang lebih baik.
  4. Kerjasama dengan Petani. Meningkatkan kerjasama dengan petani untuk meningkatkan produksi dan kualitas beras.
  5. Pengembangan Industri Beras. Mengembangkan industri beras yang lebih maju dan terintegrasi untuk meningkatkan nilai tambah dan kualitas beras.

Beberapa contoh perusahaan yang telah berhasil dalam mengembangkan beras untuk kebutuhan industri, kesehatan, dan restoran adalah:

  1. PT. Sinar Mas Agro Resources and Technology (SMART) yang mengembangkan beras organik dan beras merah yang memiliki nilai tambah tinggi.
  2. PT. Indofood Sukses Makmur yang mengembangkan beras yang difortifikasi dengan vitamin dan mineral untuk meningkatkan nilai nutrisi.

Dengan terobosan cerdas dan kerjasama yang baik, Indonesia dapat meningkatkan produksi dan kualitas beras untuk memenuhi kebutuhan industri, kesehatan, restoran, dan lain-lain.

Sumber:
ENTANG SASTRAATMADJA, KETUA DEWAN PAKAR DPD HKTI JAWA BARAT