Pertanian Kekinian Harus Terintegrasi Hulu-Hilir

Sabtu, 13 Juni 2020, 08:25 WIB

Pendekatan sistem agribisnis memiliki keterkaitan dengan hulu-hilir yang sangat penting sekaligus menentukan seluruh kegiatan pertanian. | Sumber Foto:BP Padi

AGRONET -- Di masa pandemi COVID-19 ini pertanian memiliki tantangan dan peluang tersendiri. Saat ini, produk olahan dari komoditi pertanian punya peluang besar di pasaran, dan sekaligus dapat meningkatkan kesejahteraan petani.

Hal itu disampaikan pengajar agribisnis Institut Pertanian Bogor (IPB) Bayu Krisnamurthi dalam dalam Dialog Agribisnis Seri #1: Tantangan dan Peluang Agribisnis di Era New Normal, Kamis (11/6). "Proses dan nilai tambah itu harus dikedepankan. Selama ini kita selalu berorientasi seolah-olah produk pertanian kita hanya dikonsumsi segar. Padahal pasar yang lebih besar yang bisa membawa kesejahteraan kepada petani justru adalah kalau diolah atau diproses," katanya.

Pria yang pernah menjabat sebagai Wakil Menteri Pertanian ini mengatakan, agribisnis konteksnya bukan hanya sekedar pangan sebagaimana yang sering dibicarakan. Sekarang agribisnis itu juga kesempatan kerja, daya beli, pembangunan desa, serta nilai tambah. "Bahkan sebagian produk pertanian masih ekspor. Ekspor kita walaupun menurun tapi masih ada," terang Bayu.

Pendekatan sistem agribisnis memiliki keterkaitan dengan hulu-hilir, yang sangat penting sekaligus menentukan seluruh kegiatan pertanian. Jadi sistem agribisnis tentang hulu-hilir itu adalah sesuatu yang mutlak bagi keberlangsungan pertanian dan agribisnis sendiri. "Kita tidak bisa lagi berfikir hanya di onfarmnya saja, atau tidak bisa hanya hulu. Harus juga hilir begitu sebaliknya," ucap Bayu.

Menurut dia, kata kunci dalam agribisnis adalah teknologi, di mana memanfaatkan teknologi dan sinergi sektor. Kerjasama multi sektor hulu-hilir bisa meningkatkan daya saing, dan keunggulan. "Teori, strategi dan regulasi semua sudah ada, dan sudah lengkap. Yang belum adalah peran semua pelaku secara bersama. Bukan hanya pemerintah tapi juga petani," ujarnya.

Menurut Bayu, pengusaha dan semua pihak lainnya seperti asosiasi, tenaga research, sinergi desa dengan kota, dan BUMN. Semua harus bekerja sama, karena kini bukan zamannya bekerja sendiri sendiri.

Kepala Badan Ketahanan Pangan (BKP), Agung Hendriadi, menuturkan beberapa tantangan pertanian yang dihadapi saat ini antara lain gangguan suplai pangan, penurunan permintaan produk pertanian, ancaman krisis pangan, hingga restriksi ekspor pangan global.

Agung menambahkan selama pandemi, pola makan masyarakat berubah. Jika sebelumnya asal makan, kini masyarakat lebih memilih makanan bergizi dengan harapan badan tetap sehat. Namun produksi pangan yang ada, saat ini tidak bisa mengikuti permintaan sedikit terganggu.

Di sisi lain, kata Agung, distribusi pangan juga terganggu. Mengingat sebagian daerah di Indonesia menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Untuk itu ada beberapa kebijakan dan program di Kementerian Pertanian (Kementan) untuk mengatasinya antara lain meningkatkan produktivitas pangan pokok.

"Serta memperlancar distribusi pangan, mempermudah akses transportasi. Menjaga stabilisasi harga hingga mengembangkan buffer stock dan operasi pasar,” tutup Agung. (591)