Nanas Prabumulih Laris Manis di tengah Pandemi COVID-19

Kamis, 28 Mei 2020, 13:41 WIB

Ditjen Hortikultura mendukung pengembangan kawasan nanas di Kota Prabumulih melalui APBN selama 3 tahun, yakni tahun 2017 seluas 25 ha, 2018 seluas 25 ha, dan tahun 2019 seluas 15 ha. | Sumber Foto: Humas Ditjen Hortikultura

AGRONET -- Pada masa pandemi COVID-19 ini, kebutuhan produk buah termasuk nanas semakin meningkat untuk mendukung imun tubuh. Oleh karena itu produksinya harus dipastikan mencukupi karena permintaannya pasti meningkat. Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo (SYL) pun dalam setiap kesempatan selalu menyampaikan dalam kondisi pandemi ini harus dipastikan kecukupan pangan bagi 267 juta penduduk Indonesia. 

Prabumulih, Provinsi Sumatera Selatan, sebagai salah satu daerah sentra nanas ikut kebanjiran permintaan. Nanas Prabumulih sangat disukai masyarakat dengan ciri khas rasa manis dan sedikit asem yang menjadikan buah terasa segar saat dikonsumsi.

Nanas yang banyak dibudidayakan petani di Kota Prabumulih adalah jenis Queen yang varietasnya telah dilepas oleh Kementerian Pertanian dengan nama Nanas Prabumulih.

“Nanas Prabumulih ini terkenal karena rasanya yang manis dan ukurannya lebih besar dibandingkan nanas dari daerah lain dengan jenis yang sama,” sebut Leknur Iskandar, Kepala Seksi Buah Dinas Pertanian, Perikanan dan Perkebunan Kota Prabumulih, dalam keterangan tertulisnya, Kamis (28/5)

Luas pertanaman nanas di Kota Prabumulih saat ini lebih kurang 311 hektare (ha), dengan populasi rata-rata 20.000 tanaman per ha. Dengan produktivitas 2 kg/tanaman, dalam 1 tahun petani bisa menghasilkan sekitar 12.440 ton nanas.

Sentra nanas di Kota Prabumulih terdapat di Kecamatan Prabumulih Timur (Kel. Karang Jaya dan Kel. Muara Dua) dan Kecamatan Cambai (Kel. Sungai Medang, kel. Sindur, dan Desa Pangkul).

Harga nanas di tingkat petani bervariasi, sesuai grade/ukurannya. Harga buah nenas dengan grade A berkisar Rp 7.500-12.500, grade B Rp 5.000-7.500, dan grade C Rp 1.500-5.000. "Petani biasa memasarkan hasil nanasnya ke pasar induk Jakarta, Lampung, Jambi, Palembang, dan daerah sekitar Sumatera Selatan," ujar Leknur.

Permintaan nanas Prabumulih pada saat ini meningkatkan tajam dibandingkan tahun lalu. Menurut Leknur, hal ini ditenggarai selain untuk kebutuhan puasa Ramadhan sebagai olahan selai, juga imbas dari pandemi COVID-19, di mana masyarakat banyak mengkonsumsi nanas sebagai sumber vitamin untuk meningkatkan imun tubuh.

“Saat ini kami hanya bisa memenuhi sekitar 40% - 55% (sekitar 8.000 buah per minggu) dari permintaan pasar,” tutur Saad, salah seorang pedagang pengumpul nanas di Prabumulih.

Terpisah, Direktur Buah dan Florikultura, Liferdi, menyampaikan Kementerian Pertanian melalui Direktorat Jenderal Hortikultura mendukung pengembangan kawasan nanas di Kota Prabumulih, yakni melalui APBN selama 3 tahun.

"Kami telah difasilitasi pengembangan kawasan nanas di daerah tersebut, yaitu pada tahun 2017 seluas 25 ha, 2018 seluas 25 ha, dan tahun 2019 seluas 15 ha. Bantuan tersebut meliputi bantuan benih bersertifikat dan saprodi untuk mendukung pelaksanaan budidayanya," tambahnya.

Sementara, Direktur Jenderal Hortikultura, Prihasto Setyanto, menjelaskan bahwa nanas merupakan salah satu komoditas unggulan ekspor nasional. Produksi nasional nenas tahun 2019 sebanyak 2,1 juta ton, meningkat 21,65% dibanding tahun 2018 sebesar 1,8 juta ton.

Sementara ekspor nanas sepanjang tahun 2019 mencapai 236 ribu ton atau sekitar 2,85 triliun rupiah yang didominasi bentuk olahan atau nanas kalengan. Negara tujuan ekspor nanas antara lain Jepang, Hongkong, Korea, Cina, Singapura, Malaysia, Arab Saudi, Kuwait, Oman, Uni Emirat Arab, Qatar, Mesir, Kanada, dan Jerman.

"Kami akan terus berkomitmen dalam meningkatkan produksi dan mutu buah-buahan yang berpotensi ekspor termasuk nenas ini, melalui fasilitasi dari on farm hingga off farm bahkan perluasan pasar," pungkasnya. (139)