Gula Impor dari Thailand Tiba di Jawa Timur

Senin, 16 Maret 2020, 08:47 WIB

Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, saat memantau langsung kedatangan raw sugar dari Thailand di Lamongan | Sumber Foto:Kantor Berita Radio Nasional

AGRONET -- Gula impor asal Thailand, dalam bentuk raw sugar (gula mentah) sebanyak 35 ribu ton tiba di Jawa Timur, Minggu (15/3). Sebanyak 10 ribu ton raw sugar tersebut masuk ke PT. Kebun Tebu Mas (KTM) Lamongan.

Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa memantau langsung kedatangan raw sugar tersebut ke PT. KTM, Lamongan. Masih sebanyak 10 ribu ton yang datang, sedangkan sisanya masih ada proses kepabeanan di Tanjung Perak.

"Jadi masih ada proses yang harus dikeluarkan dari kepabeanan Tanjung Perak, ada 25 ribu ton," ujarnya, Minggu (15/3).

Khofifah menyampaikan, bahwa kebutuhan konsumsi gula di Jatim, sekitar 37 ribu ton perbulan. Sedangkan musim giling baru akan dilakukan pada awal Juni 2020. Sedangkan saat ini, sejak pertengahan Maret, April, Mei hingga pertengahan Juni, stok gula kurang.

"Oleh karena itu memang sudah kita bersurat, berkoordinasi dengan berbagai Kementerian adalah untuk bisa memberikan percepatan bagaimana sebetulnya impor gula," imbuhnya.

Impor gula yang dimaksud Khofifah adalah, apakah dalam bentuk raw sugar atau dalam bentuk gula yang sudah bisa dikonsumsi. Menurutnya, impor mendesak dilakukan, mengingat harga gula di pasaran telah mencapai Rp 16 ribu - Rp 18 ribu per kilogram.

"Kalau ini tidak dilakukan percepatan untuk bisa men-deployed (dikerahkan, red) gula, mungkin diimpor dari mana dan seterusnya, maka saya khawatir harga gula menjelang puasa akan bisa meningkat kembali," ucapnya.

Pada posisi bulan ini, lanjut Khofifah, stok gula masih cukup untuk kebutuhan masyarakat di Jawa Timur. Tetapi, kata Khofifah, bahwa harga di lapangan itu sudah mengalami koreksi terus, sehingga untuk menstabilkan harga, impor dilakukan.

"Oleh karena itu memang kita ada percepatan untuk impor gula terutama, misalnya dalam bentuk raw sugar apapun bentuknya," tambah Khofifah. 

Meski dalam bentuk raw sugar, Khofifah yakin pabrik gula di Jatim mampu memproduksinya menjadi gula konsumsi. Seperti PT. KTM Lamongan, disebutkannya yang memiliki pengalaman, serta didukung oleh mesin yang cukup modern.

Sehingga, kata Khofifah, proses regulasi yang perlu percepatan, dari pemerintah untuk bisa memberikan dan penunjukan, dari kuota berapapun, kemudian siapa yang ditunjuk untuk impor.

"Kita bisa mengukur percepatan raw sugar itu kapan sampai, diproduksi oleh siapa, dan kapan bisa distribusi ke pasar," katanya. (KBRN/196)