Era Pertanian 4.0 Milik Generasi Milenial

Jumat, 11 Oktober 2019, 09:01 WIB

Traktor pertanian dapat menghemat waktu dan biaya hingga 60 persen. | Sumber Foto: Biro Humas dan InformasiPublik Kementan

AGRONET -- Dalam industri 4.0 bidang pertanian menggunakan alat dan mesin pertanian (Alsintan). Era Industri 4.0 merupakan milik generasi milenial karena mereka menguasai teknologi informasi dan komunikasi.

Demikian disampaikan Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian, Dedi Nursyamsi, Kamis (10/10). Menurut Dedi, pembangunan pertanian itu sangat penting karena menyangkut dengan kekuatan suatu negara.

Dedi menceritakan dulu ada negara adidaya yang bernama Uni Soviet. Tetapi di tahun 1988 terjadi paceklik, sehingga terjadi krisis pangan. Dari krisis pangan itulah merembet ke berbagai aspek lainnya, mulai dari perekonomian hingga politik, hingga negara adidaya tersebut runtuh.  

Karena itu, untuk mencapai ketahanan pangan, yang diperlukan saat ini adalah modernisasi pertanian utamanya adalah dengan mekanisasi. “Sangat jelas sekali bahwa ketahanan pangan menjadi penting. Menangani pangan itu harus serius, revolusioner, dan radikal,” ujarnya.

Dedi mengatakan dengan mekanisasi tentu proses produksi jadi lebih singkat dan hemat biaya. Dia mencontohkan traktor yang dikendalikan dengan mesin. Tenaga manusia tetap digunakan, tetapi tidak menyetir traktornya secara langsung, melainkan dengan menggunakan remote dan komputer. Dengan mekanisasi dapat menghemat waktu dan biaya hingga 60 persen.

Dedi mengatakan para mahasiswa merupakan salah satu kaum milenial penerus pembangunan pertanian, sehingga keterlibatan mahasiswa sangat penting dalam dunia pertanian Indonesia. “Saya bukanlah kaum milenial lagi. Mahasiswa merupakan generasi milenial yang melanjutkan ke depan,” ungkapnya.

Kepala Pusat Pendidikan Pertanian, Idha Widi Arsanti, menambahkan untuk menggaet generasi milenial ikut serta dalam pembangunan pertanian dengan melakukan konsolidasi antara Kementerian Pertanian dan mahasiswa. Caranya dengan melibatkan mahasiswa dalam mewujudkan program-program pembangunan pertanian.

“Walaupun sekarang mahasiswa sudah terlibat dalam program-program yang diusung Kementan. Tetapi rencananya tahun depan Kementan ingin memperkuat kembali peran mahasiswa dalam keikutsertaanya agar lebih kongkret dalam mewujudkan program-program yang ada di Kementan,” terang Santi.

Contoh kongkret keikutsertaan mahasiswa dalam program-program Kementan adalah melibatkan mahasiswa dalam Program Upsus Pajale, Siwab, Program Bekerja, dan lainnya. “Jadi kita akan melakukan akselerasi antara Kementan dengan mahasiswa. Misalnya seperti ini kita undang semua Eselon 1 bersama dengan mahasiswa. Lalu diungkapkan program-program setiap eselon-eselon. Misalnya ada mahasiswa yang tertarik untuk terlibat dalam Program Serasi, nanti kita libatkan ke sana,” pungkas Santi. (591)