Pasokan Melimpah, Harga Beras Diprediksi Stabil Hingga Awal 2020

Selasa, 08 Oktober 2019, 18:33 WIB

Stok beras Bulog per 7 Oktober 2019 mencapai 2,34 juta ton melebihi standar cadangan beras Pemerintah berkisar 1-1,5 juta ton. | Sumber Foto: Humas BKP Kementan

AGRONET -- Meski musim kemarau tahun ini cukup panjang, tapi masyarakat tidak perlu khawatir karena stok beras dalam kondisi sangat aman. Stok beras Perum Bulog per 7 Oktober 2019 tercatat mencapai 2,34 juta ton. Kondisi tersebut sangat aman mengingat standar cadangan beras Pemerintah berkisar 1-1,5 juta ton.

Kepala Badan Ketahanan Pangan Kementan, Agung Hendriadi, mengatakan selain kondisi stok yang sudah aman, hal ini didukung lagi dengan kegiatan penyerapan gabah atau beras yang masih dan terus berlangsung sampai akhir tahun, sehingga stok beras pemerintah akan tetap terjaga. "Dengan kondisi stok beras di Bulog dan Pasar Induk Beras Cipinang (PIBC) yang jauh melebihi standar normal kebutuhan, diprediksi harga beras dapat tetap terjaga dan stabil," ujar Agung dalam keterangannya, Selasa (8/10).

Agung menambahkan berdasarkan pantauan stok beras di PIBC Jakarta sebagai barometer perdagangan beras nasional juga menunjukkan kondisi yang aman dan stabil. Per akhir September 2019, stok beras di PIBC mencapai 49.378 ton atau 64,59 persen di atas stok normal akhir bulan sebesar 30.000 ton. Kondisi stok tersebut jauh lebih tinggi sekitar 10,08 persen dibanding stok tahun 2018 pada periode yang sama yaitu sebesar 44.855 ton.

Terkait harga, data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan harga beras rata-rata bulanan periode Januari-September 2019 mengalami penurunan sekitar 0,16 persen per bulan, dari Rp11.656/kg pada bulan Januari menjadi Rp11.509/kg pada bulan September. Kondisi harga beras Januari-September 2019 dibandingkan tahun 2018 pada periode yang sama juga menunjukkan harga lebih stabil yang ditunjukkan dengan angka koefisien variasi (cv) yang lebih rendah, yaitu sebesar 1,12 persen, sedangkan tahun 2018 sebesar 2,63 persen.

Stabilnya harga beras berpengaruh pada kondisi harga komoditas pangan strategis lainnya, sehingga berdampak pada tingkat inflasi. Rilis BPS pada awal Oktober 2019 menyebutkan andil bahan makanan pada bulan September justru deflasi sebesar 0,27 persen.

Dari 82 kota yang dipantau, terdapat 70 kota yang mengalami deflasi dengan kisaran 0,02-1,94 persen. Sedangkan 12 kota lainnya mengalami inflasi berkisar 0,01-0,91 persen. Kondisi tersebut masih lebih baik dibanding tahun sebelumnya, di mana tahun 2018 tercatat deflasi 0,18 persen dan tahun 2017 inflasi 0,13 persen pada periode yang sama.

Menurut Agung dengan didukung data-data harga maupun stok dan pasokan, baik yang ada di Bulog, maupun yang ada di swasta seperti PIBC menunjukkan sampai akhir September 2019 tetap stabil dan aman. "Pemerintah optimis harga dan pasokan beras sampai akhir tahun 2019 bahkan sampai awal tahun 2020 dapat terjaga stabil dan aman. Masyarakat tidak perlu khawatir terhadap gangguan pasokan dan harga beras," pungkas Agung. (591)