Pemerintah Mulai Fokus Benahi Sektor Perkebunan

Sabtu, 20 Juli 2019, 07:45 WIB

Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, usai peluncuran BUN500 di Palangkaraya, Kalimantan Tengah. | Sumber Foto: Humas Kementan

AGRONET -- Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, mulai menggenjot sektor perkebunan yang menjadi andalan ekspor Indonesia. Terobosan bertajuk BUN500 atau distribusi benih unggul perkebunan 500 juta batang 2019-2024 pun diluncurkan.

"Setelah berhasil meningkatkan kinerja komoditas pangan, seperti beras, jagung, telur, ayam olahan, cabai dan bawang merah, kini kita fokus ke perkebunan. Sektor ini menyumbang 90 persen ekspor pertanian Indonesia," ungkap Amran usai peluncuran BUN500 di Palangkaraya, Kalimantan Tengah (Kalteng), Kamis (18/07).

Amran mengaku telah merancang program strategis tersebut sejak 3 tahun lalu. Benih unggul akan dibagikan gratis kepada masyarakat. Menurutnya, sebagai tanaman jangka panjang penyediaan benih bermutu dan bersertifikat adalah keharusan untuk mendongkrak produksi hingga 3 kali lipat.

Seperti, komoditas kakao Indonesia saat ini menyumbang pasokan dunia nomer 3 setelah Pantai Gading dan Ghana. Amran menargetkan pada tahun 2024, kakao Indonesia menjadi yang pertama di dunia.

Lebih jauh, ia menegaskan, program yang dijadikan target BUN500 adalah nasional dengan target 100 juta batang benih unggul per tahun. "Kami minta setiap kabupaten menentukan hanya satu komoditas perkebunan sesuai keunggulan komparatif. Sehingga, bisa mencukupi skala ekonomi untuk kebutuhan industri pengolahannya di kabupaten tersebut," tegasnya.

Untuk menjamin keberhasilan program, Amran memprioritaskan komitmen Pemda menyediakan lahan dan memberdayakan petani. Ia juga memperhitungkan juga efektifitas distribusi dengan mendekatkan kebun pembenihan (nursery) dengan wilayah tanam.

"Kekeliruan kita selama ini adalah melakukan distribusi secara benih terpusat sehingga ongkosnya mahal. Sekarang kita bangun pembenihan di berbagai wilayah agar biaya angkutnya bisa dihemat," ungkap Amran. 

Khusus di Kalimantan, Amran optimis program tersebut mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat karena lahan yang masih luas. "Dengan adanya lahan perkebunan, penghasilan masyarakat bisa ditingkatkan. Selain itu, bisa menekan kebakaran lahan karena masyarakat akan lebih perduli dengan kebun yang mereka tanami," ujarnya.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pada 2014-2018, PDB perkebunan mencapai Rp1.801,4 triliun. Sementara nilai ekspor perkebunan mencapai Rp1.874,5 triliun, dan akumulasi tambahan nilai ekspor Rp333,1 triliun. Sektor ini juga menyerap 23,9 juta orang tenaga kerja dengan komoditas kontribusi besar antara lain sawit, karet, kakao, dan kopi. (591)