Pelatihan Aplikasi FishOn

Dengan Teknologi, Operasional Nelayan Lebih Efisien

Kamis, 11 April 2019, 08:45 WIB

Kapal nelayan | Sumber Foto: KKP

AGRONET -- Menko Bidang Kemaritiman, Luhut Pandjaitan, secara resmi membuka pelatihan nelayan untuk menggunakan aplikasi FishOn yang menandai program satu juta nelayan berdaulat. Dengan program ini diharapkan nelayan bisa langsung menjual hasil tangkapannya ke konsumen tanpa melalui tengkulak.

Luhut menjelaskan melalui aplikasi ini nelayan bisa langsung mengetahui tempat-tempat ada ikan sehingga membuat operasional lebih efisien. Aplikasi FishOn bertujuan untuk mengoptimalkan potensi laut dan mengelola hasil lautnya secara mandiri.

“Cara ini akan lebih efektif sebab mereka bisa mendapatkan harga yang besar,” katanya di tempat pelelangan ikan (TPI) Palangpang, Desa Ciwaru, Kecamatan Ciemas, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, Rabu (10/4)

Nelayan dilatih menggunakan aplikasi FishOn, menabur jala yang efisien, serta pemasaran ikan secara online. Mereka juga dilatih tentang standar keselamatan kerja di laut, menentukan daerah tangkapan ikan, dan pengelolaan tangkapan. 

Luhut lebih jauh menjelaskan program ini dimulai di Sukabumi dan akan dilanjutkan di Ambon, NTT, dan lima tempat lainnya. “Harapan Presiden 3,7 juta orang nelayan ini bisa lebih makmur. Mereka akan ditraining selama dua minggu untuk mempelajari aplikasi,” jelasnya.

Aplikasi berbasis android ini juga memiliki fitur informasi pencurian ikan, pengawetan ikan, penjualan ikan, komunikasi pencatatan hasil tangkapan ikan, panic button untuk permintaan bantuan dalam kondisi darurat, fitur pembayaran elektronik, dan fitur belanja kebutuhan sehari-hari. Selain itu ada aplikasi penjualan dan manajemen gudang untuk koperasi nelayan, aplikasi lelang ikan online yang menghubungkan TPI, nelayan, dan pedagang ikan, serta aplikasi website penjualan e-commerce ikan.

FishOn juga mengembangkan device IoT untuk memberikan layanan internet murah di tengah laut, juga teknologi dari bahan alami yang membuat ikan tidak cepat membusuk dan tetap segar dalam 45 hari. Dari segi bisnis, aplikasi ini  melakukan pelatihan untuk nelayan dengan sistem Enterprise Resource Planning (ERP) yaitu  sistem informasi yang berperan mengintegrasikan dan mengotomasikan proses bisnis yang berhubungan dengan aspek operasi, produksi, dan distribusi.

Dalam dialog dengan nelayan, perwakilan nelayan meminta bantuan pemerintah untuk menyediakan teknologi atau alat yang bisa digunakan nelayan saat berhadapan dengan cuaca ekstrem saat sedang menangkap ikan. Ada juga permintaan  berupa modernisasi mesin nelayan dari mesin tingting ke mesin tempel 15 PK. (591)