Harga ritel masih tinggi sementara harga grosir mulai mereda.

Gula | Sumber Foto:Congerdesign/Pixabay
AGRONET – Gejolak harga gula yang fluktuatif juga terjadi di Amerika Serikat (AS). Pengamat menilai terdapat indikasi harga gula di Amerika Serikat (AS) menunjukkan penurunan setelah tiga tahun naik. Namun, tak ada jaminan tren ini akan bertahan. Alasannya, tetap dibutuhkan cuaca yang lebih baik untuk menghindari masalah pada produksi lokal.
Sejak pandemi 2020, konsumen gula AS baik industri maupun ritel menghadapi kenaikan gula tertinggi dalam sejarah. Pada awal 2020 harga gula naik hampir 70 persen, sekitar 43.50 sen dolar AS per pon pada pertengahan April tahun itu. Sebagian besar karena masalah rantai pasokan dan rendahnya produksi.
Pengamat menilai turunnya harga ini disebabkan membaiknya sisi pasokan dari gula maupun pemanis buatan seperti sirup jagung sementara permintaan mulai melunak.
"Harga ritel masih tinggi sementara harga grosir mulai mereda," kata pengamat komoditas lunak Judith Ganes yang merupakan presiden J. Ganes Consulting, LLC dalam laporan di Sugaronline, Kamis (15/6/2023).
Dalam laporan pekanannya, Sosland Publishing mengatakan kini semakin banyak pasokan gula dan sirup jagung di pasar karena permintaan lebih lambat dari yang diperkirakan.
Menurut Ganes, Departemen Pertanian AS (USDA) dapat menyesuaikan penurunan dengan proyeksi permintaan gula di dalam negeri karena perkembangan pasar.
Namun, pengamat menilai bahwa daerah-daerah penghasil gula bit di AS membutuhkan hujan. Menurut mereka, harga tidak akan turun selama terjadi masalah-masalah di produksi dalam negeri. (tar)
Sabtu, 24 Januari 2026
Sabtu, 17 Januari 2026
Selasa, 13 Januari 2026
Sabtu, 24 Januari 2026
Kamis, 22 Januari 2026
Minggu, 18 Januari 2026
Kamis, 15 Januari 2026
Selasa, 13 Januari 2026
Jumat, 23 Januari 2026
Jumat, 23 Januari 2026
Rabu, 21 Januari 2026










