Gapgindo menargetkan pangsa 35 persen produksi GKP nasional pada 2026.

Para pembicara dalam Musyawarah Kerja Nasional 2023 Gapgindo di Jakarta, Kamis (8/6). | Sumber Foto:Dewi Mardiani/Agronet
AGRONET – Badan Pangan Nasional (Bapanas) menyatakan, kenaikan harga gula di Indonesia terimbas oleh perkembangan yang terjadi di dunia. Menurut Deputi Kepala Bapanas I Gusti Ketut Astawa, menurunnya kucuran gula India ke pasar dunia dan tren biofuel dunia membuat harga gula di Indonesia terkoreksi. Hal ini diungkap dalam Musyawarah Kerja Nasional 2023 Gabungan Produsen Gula Indonesia (Gapgindo), Kamis (8/6/2023).
“Simpulan kami, potensi pengurangan ekspor India menjadi salah satu faktor kenaikan harga gula dunia. Hal lainnya adalah penurunan produksi minyak dunia membuat tren beralih ke etanol. Akibatnya, produksi gula pun berkurang,” kata Ketut sambil menambahkan, harga pangan dunia juga terimbas oleh konflik Rusia dan Ukraina.
India adalah salah pengekspor gula dunia nomor dua setelah Brasil. Produksi gula India termasuk menjadi andalan untuk Asia Tenggara karena harganya relatif lebih terjangkau.
Menurut Ketut, produksi gula India cenderung menurun dari 36,5 juta ton menjadi 32,8 juta ton. Akibatnya, jumlah ekspor mereka pun menurun dari 9 juta ton menjadi sekitar 6 juta ton.
Sedangkan produksi minyak dunia yang menurun menciptakan tren penggunaan etanol sebagai bahan biofuel. Bahan baku terbaik biofuel adalah tebu. Akibatnya, makin banyak industri gula dunia berbahan baku tebu memilih untuk meningkatkan produksi etanol sehingga mengurangi produksi gula mereka. Secara keseluruhan, gula yang digelontorkan ke pasar dunia semakin berkurang dan harga pun naik.
“Gula internasional naik, otomatis mengoreksi harga gula nasional,” ujar Ketut.
Awal Juni ini, Bapanas telah menentukan harga pokok penjualan (HPP) gula petani sebesar Rp 12.500 per kilogram. Angka tersebut lebih tinggi dari HPP lama yang sebesar Rp 11.500/kg.
Menurut Ketut, kenaikan itu telah dihitung dengan mempertimbangkan banyak faktor. Salah satunya, ongkos produksi industri gula yang naik. Bapanas menilai, penyesuaian harga memang tidak bisa dihindari. Namun, untuk harga penjualan akan berlaku sistem zonasi, karena harga di daerah seperti Jawa tentu berbeda dengan harga di papua atau di wilayah perbatasan.
“Namun, sesuai amanat Presiden, maka harga harus wajar di hulu atau petani, di tengah atau produsen, dan di hilir atau konsumen," kata Ketut.
Kebutuhan gula konsumsi Indonesia pada 2023 sebesar 3,4 juta ton, dengan produksi dalam negeri sebesar 2,7 juta ton. Untuk menutup kebutuhan, maka Indonesia terpaksa mengimpor gula.
“Selisihnya sedikit, jadi ini tantangan bagi pabrik gula Indonesia untuk mengejarnya,” kata Ketut. “Tujuan Pemerintah adalah jelas swasembada. Kolaborasi dan sinergi diutamakan,” tambahnya.
Mukernas Gapgindo kali ini mengangkat tema “Mendulang Peluang, Membangun Kemandirian Gula Nasional di Tengah Badai Harga Global”. Selain Ketut, hadir pula sebagai pembicara adalah Direktur Jenderal Industri Argo Kementerian Perindustrian Putu Juli Ardika, dan Tenaga Ahli Utama Bidang Pangan dan Pertanian Kantor Staf Kepresidenan (KSP) Erizal Jamal.
Gapgindo bidik pangsa 35 persen
Dalam paparannya, Ketua Umum Gapgindo Gapgindo menyatakan, delapan pabrik gula yang tergabung dalam asosiasi telah berkontribusi 721.500 ton pada 2023. Artinya, jumlah tersebut mencakup 28 persen dari total produk gula kristal putih (GKP) nasional 2023.
“Dalam dua-tiga tahun mendatang, target produksi kami dari delapan pabrik gula sebanyak 865 ribu ton GKP. Ini berarti sekitar 35 persen dari total produksi GKP pada 2026,” kata Syukur.
Ia optimistis, karena saat ini delapan pabrik gula yang dinaungi Gapgindo memiliki teknologi yang maju. Ia mencontohkan, salah satu anggotanya yaitu PT Muria Sumba Manis, berhasil mengubah tanah berbatu di Sumba, Nusa Tenggara Timur, menjadi ladang tebu. Anggota Gapgindo lainnya, kata Syukur, PT Pratama Nusantara Sakti bahkan mampu mengubah rawa di Ogan Komering Ilir, Sumatra Selatan, menjadi lahan yang dapat ditanami tebu.
Anggota Gapgindo saat ini adalah PT Muria Sumba Manis, PT Pratama Nusantara Sakti, PT Rejoso Manis Indo, PT Kebun Tebu Mas, PT Kebon Agung, dan PT Rajawali I. Enam perusahaan tersebut total memiliki delapan pabrik gula. *
Sabtu, 24 Januari 2026
Sabtu, 17 Januari 2026
Selasa, 13 Januari 2026
Sabtu, 24 Januari 2026
Kamis, 22 Januari 2026
Minggu, 18 Januari 2026
Kamis, 15 Januari 2026
Selasa, 13 Januari 2026
Jumat, 23 Januari 2026
Jumat, 23 Januari 2026
Rabu, 21 Januari 2026










