Ancaman fenomena alam El Nino beresiko merusak arus pasokan gula dunia.

Ilustrasi El Nino | Sumber Foto:NOAA/PMEL/TAO diolah Fred the Oyster
AGRONET -- Ancaman fenomena alam El Nino beresiko merusak arus pasokan gula dan menahan harga gula dunia tetap tinggi. Cuaca yang lebih kering dari biasanya di Asia dan Australia dan cuaca lembab di Brasil menekan produksi gula.
Sementara polanya masih belum pasti kemungkinan cuaca kering masih akan berlanjut. Hal ini dapat membantasi potensi pemulihan produksi yang mendorong surplus pasokan ke pasar dunia dalam beberapa musim ke depan.
Kemungkinan El Nino datang di masa yang tidak pasti di pasar, harga gula sudah berada di titik tertingginya selama beberapa dekade terakhir karena tipisnya pasokan. Cuaca buruk dapat membebani manufaktur pangan dan minuman dengan biaya tambahan hingga memperpanjang inflasi pangan dunia.
S&P Global Commodity Insights memprediksi pada musim panen 2023-2024 produksi gula surplus 4,5 juta ton. Namun prediksi itu dengan pertimbangan cuaca nomrla dan setiap perubahan cuaca akan menahan harga gula tetap tinggi.
"(El Nino) jelas sesuatu yang harus dipantau ke depannya," kata pengamat gula di S&P Global Luciana Silveira Soncin di Konferensi Gula dan Biofuel Jenewa, seperti dikutip Bloomberg, Selasa (18/4/2023).
"El Nino dan resiko gangguan pada produksi, menambah resiko penurunan pada surplus musim depan dibandingkan kenaikan," tambahnya.
Soncin mengatakan El Nino kuat yang terjadi pada musim 2015-2016 menekan produksi gula hingga 7 juta ton.
"Bila kami mendapatkan jenis El Nino yang biasanya mengganggu produksi 5 sampai 10 juta ton, maka kami akan melihat pasar yang sepenuhnya berbeda," kata kepala perdagangan gula putih diĀ Engelhart Commodities Trading Partners Philip Ryan di Jenewa.
Pusat Prediksi Iklim AS memperkirakan kemungkinan El Nino sekitar 74 persen pada Agustus sampai Oktober. Dikutip dari situs BMKG, El Nino adalah fenomena pemanasan Suhu Muka Laut (SML) di atas kondisi normalnya yang terjadi di Samudera Pasifik bagian tengah. Pemanasan SML ini meningkatkan potensi pertumbuhan awan di Samudera Pasifik tengah dan mengurangi curah hujan. (tar)
Sabtu, 24 Januari 2026
Sabtu, 17 Januari 2026
Selasa, 13 Januari 2026
Sabtu, 24 Januari 2026
Kamis, 22 Januari 2026
Minggu, 18 Januari 2026
Kamis, 15 Januari 2026
Selasa, 13 Januari 2026
Jumat, 23 Januari 2026
Jumat, 23 Januari 2026
Rabu, 21 Januari 2026










