Para peneliti berhasil mengubah sampah pertanian menjadi tekstil.

Ampas tebu | Sumber Foto:Thamizhpparithi Maari/Wikimedia
AGRONET – Ampas tebu ternyata dapat diolah mejadi benang yang dapat dipakai membuat produk fashion. Hasil riset Rajamangala University of Technology Krungthep ini dipamerkan dalam Thailand Research Expo 2024, Agustus lalu.
Pameran riset tahunan kali ini bertema "Research Synergy For The Sustainable Development Of Thai Economy And Society". Dari seribu riset yang ditampilkan, salah satunya mengenai perkembangan pakaian buatan tangan dengan menggunakan benang dari tebu dan serat filagen.
Wiparat De-ong, direktur eksekutif National Research Council of Thailand (NRCT), mengatakan bahwa rancangan fashion yang menggunakan tebu menunjukkan citra Thailand yang modern, kreatif, dan ramah lingkungan.
“Riset ini, bertema 'Development of Handmade Garments Using Yarn Spun from Sugarcane and Filagen Fibers for Fashion Design', mengubah sampah pertanian menjadi produk fashion yang trendi. Ini menunjukkan kreativitas periset yang juga sadar lingkungan,” ujar Wiparat di laman the Bangkok Post, 27 Agustus 2024.
“Produk dari serat tebu tidak saja ramah lingkungan, namun juga memberi nilai tambah ke dunia fashion dan meningkatkan reputasi Thailand sebagai bangsa yang kreatif dan sadar lingkungan,” katanya menambahkan.
Bermula dari mesin panen tebu
Riset ini bermula ketika Asisten Profesor Thanakrit Kaewpilarom dan timnya meneliti mesin pemanen tebu dan mesin perontok daun tebu. Tim dari Departenen Teknologi Pola dan Garmen diRajamangala University of Technology Krungthep ini menemukan bahwa mesin tersebut meninggalkan residu berupa batang dan daun tebu.
“Petani harus membakar residu ini karena jika mereka tidak membersihkan ladang, maka tanaman tebu baru tidak akan tumbuh baik. Ketika kami mengunjungi ladang, begitu banyak asap. Jadi kami memutuskan untuk mencari jalan memanfaatkan sampah pertanian ini,” kata Thanakrit.
Tim pun bereksperimen menggunakan daun tebu kering, mencoba berbagai metode untuk mendapatkan seratnya. Thanakrit menemukan bahwa pemanasan daun dan menambahkan sejumlah kecil natrium hidroksida bisa membantu proses ekstrasi serat.
Namun, serat tebu terlibang kaku. Maka ia pun harus mencari serat lain untuk dicampurkan ke dalam serat tebu.
Filagen menjadi jawabannya. Zat kolagen ini diekstrak dari sisa ikan laut.
“Filagen telah dipromosikan oleh Thailand Textile Institute karena ini adalah serat yang inovatif. Filagen memiliki ciri lembut, ringan, dan mengandung perlindungan terhadap sinar UV, jadi saya memutuskan untuk memadukan kedua jenis residu tersebut,” papar Thanakrit.
Tim kemudian menemukan bahwa campuran residu tersebut dapat menghasilkan tekstil yang bisa dibuat pakaian, jaket, dan tekstil rumah seperti kap lampu dan karpet.
Contoh pakaian dan dasi yang dibuat dari residu itu dipamerkan dalam Thailand Research Expo 2024. Produk tersebut tampil dalam warna aslinya seperti krem, karena proses pemutihan masih dalam percobaan.
“Kaum muda di masyarakat Suphan Buri tertarik membuat pakaian dari kain ini karena proses pembuatannya lebih cepat dari proses tradisional lain, misalnya membuat sutra. Warga bisa membuat 10 meter kain dalam waktu sepekan dan mendapat penghasilan 600 hingga 800 baht per meter,” kata Thanakrit.
Thanakrit mengaku senang karena hasil riset timnya dapat menciptakan cara kreatif untuk menambah penghasilan warga. “Ini alternaik baik yang membantu perekonomian setempat, mengurangi sampah pertanian, dan mengarahkan pada pekerjaan dan pendapatan yang berkelanjutan,” ujarnya. (yen)
Sabtu, 24 Januari 2026
Sabtu, 17 Januari 2026
Selasa, 13 Januari 2026
Sabtu, 24 Januari 2026
Kamis, 22 Januari 2026
Minggu, 18 Januari 2026
Kamis, 15 Januari 2026
Selasa, 13 Januari 2026
Jumat, 23 Januari 2026
Jumat, 23 Januari 2026
Rabu, 21 Januari 2026










