
Dirjen PKH, I Ketut Diarmita melakukan kawin suntik atau Inseminasi Buatan (IB) pada sapi milik peternak di Kabupaten Malaka Nusa Tenggara Timur (NTT)
AGRONET – Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH) melakukan kawin suntik atau Inseminasi Buatan (IB) pada sapi milik peternak di Kabupaten Malaka Nusa Tenggara Timur (NTT). Kawin suntik dilakukan secara massal di Kabupaten Malaka. Langkah ini untuk mempercepat sapi-sapi milik peternak menjadi bunting dan melahirkan pedet-pedet yang bisa menambah populasi sapi di Malaka.
Dirjen PKH, I Ketut Diarmita hadir untuk membuka acara Gebyar Siwab di Kabupaten Makala, Provinsi NTT, yang masuk dalam rangkaian Launching Komoditas Ekspor Pertanian di daerah perbatasan dengan Timor Leste, (12/10). Dalam sambutannya, I Ketut menjelaskan, kegiatan IB massal akan membuat petugas dan peternak termotivasi dalam melaksanakan Upaya Khusus Sapi Indukan Wajib Bunting (Upsus Siwab). Provinsi NTT menjadi salah satu produsen sapi potong yang menyuplai kebutuhan daging sapi di wilayah Jabodetabek. NTT juga salah satu daerah introduksi, yang sebagian besar wilayahnya baru diperkenalkan teknologi IB.
Umumnya, ketergantungan anakan hasil dari kawin alami masih sangat tinggi. Karena, hampir sistem pemeliharaan sapi dan kerbau di NTT dengan cara dilepaskan. Sistem kawin alami yang tidak terprogram akan menyebabkan kawin sedarah (in breeding). Jika terus terjadi, akan ada penurunan mutu genetik pada ternak. Terlihat dari performa sapi lebih kecil.
Inseminasi Buatan pada sapi adalah penerapan teknologi tepat guna dalam peningkatan populasi. Penyebaran bibit unggul ternak sapi dapat dilakukan dengan murah, mudah, dan cepat. Langkah ini akan meningkatkan pendapatan para peternak. ”Kami berikan apresiasi kepada Dinas Peternakan Provinsi NTT dan Kabupaten Malaka. Jumlah sapi yang di IB lumayan meningkat sejak kita melakukan secara serentak Kick Off Siwab di 6 desa, mulai 3 Oktober. Sapi yang di IB ada 145 ekor dari target 150 ekor atau sekitar 96,67%,” jelas I Ketut.
Sebelum ada Upsus Siwab, capaian kawin suntik hanya sekitar 5 ribu ekor per tahun. Setelah diterapkan program, terjadi peningkatan cukup signifikan. Yaitu, menjadi 35 ribu atau, meningkat sebesar 700 %. Pemerintah berharap, sampai akhir 2017 akan mencapai 80 ribu ekor atau sekitar 1.600 %.
Pelaksanaan Upsus Siwab 2017 tinggal 2 bulan lagi. Pemerintah mengajak seluruh pihak untuk menyukseskan target yang ditetapkan. I Ketut menyarankan, limbah pertanian yang begitu banyak di Kabupaten Malaka segera dimanfaatkan untuk bahan pakan sapi potong.
”Integrasi saling menguntungan dengan sub sektor lain, seperti tanaman pangan, hortikultura, perkebunan dan kehutanan diharapkan dapat untuk mewujudkan sinergitas, sehingga tidak ada limbah pertanian yang terbuang percuma. Limbah pertanian digunakan untuk bahan pakan ternak, sedangkan limbah ternak digunakan untuk sumber energi biogas dan pupuk bagi tanaman. Semua akan memiliki nilai tambah bagi peternak,” jelasnya.
Program IB yang diterapkan di Malaka berpotensi meningkatkan kesejahteraan para peternak. Peningkatan usaha peternakan diharapkan bisa menjadikan Malaka sebagai Lumbung Ternak di wilayah perbatasan. “Ke depannya bisa mengarah ke ekspor,” terang I Ketut dengan nada penuh harap. (Biro Humas dan Informasi Publik Kementan/111)
Sabtu, 24 Januari 2026
Sabtu, 17 Januari 2026
Selasa, 13 Januari 2026
Sabtu, 24 Januari 2026
Kamis, 22 Januari 2026
Minggu, 18 Januari 2026
Kamis, 15 Januari 2026
Selasa, 13 Januari 2026
Jumat, 23 Januari 2026
Jumat, 23 Januari 2026
Rabu, 21 Januari 2026










