Satgas Pangan dan Kementan Sikapi Keluhan Peternak Blitar

Rabu, 31 Oktober 2018, 21:24 WIB

Dirjen PKH Kementan | Sumber Foto:Biro Humas dan Informasi Publik Kementan

AGRONET--Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementerian Pertanian, I Ketut Diarmita, merespon keluhan peternak ayam petelur. Dengan menggandeng Satgas Pangan, dan Direktorat Barang Pokok Penting Kementerian Perdagangan dan Polda Jatim. Tim turun ke lapangan melihat langsung kondisi pasar serta melakukan pertemuan dengan Peternak Ayam Petelur Mandiri Jatim, bertempat di Dinas Peternakan Provinsi Jawa Timur pada hari ini Rabu (31/10/2018).

Pada pertemuan tersebut Dirjen PKH, I Ketut Diarmita, menyampaikan beberapa langkah sebagai solusi untuk memperbaiki harga telur di tingkat peternak, yaitu: Pertama, Peternak dihimbau agar meningkatkan kualitas telur dengan cara segera meregenerasi ayam yang sudah tua dan afkir, karena hal tersebut membuat produksi peternak tidak ekonomis dalam pemeliharaannya. Kedua, memperbaiki kualitas telur. Agar masa simpan telur bisa lebih lama, sehingga saat harga telur turun, penjualan masih bisa ditahan.

Ketiga, dengan meningkatkan produktivitas telur agar efisiensi dan para peternak bisa mendapatkan margin yang lebih baik. "Keempat, hal yang sangat penting, Kementan meminta kepada perusahaan pembibit untuk meningkatkan kualitas bibit ayam (day of chicken/DOC), sehingga DOC yang diproduksi dan dijual ke para peternak memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI). Sedangkan DOC yang tidak memenuhi SNI harus dimusnahkan untuk menjaga kualitas dan tidak merugikan para Peternak," tegas I Ketut.

Kelima, peternak dihimbau untuk membangun kebersamaan dengan menguatkan Koperasi yang mengarah kebentuk Korporasi, sesuai kebijakan pemerintah, sehingga diharapkan dapat mampu bersaing, serta memiliki posisi tawar yang lebih kuat ketika membeli DOC dan pakan, demikian juga untuk memasarkan telur.

Dirjen PKH Kementan. I Ketut Diarmita, juga menyarankan agar Koperasi Putra Blitar terus membangun jaringan agar distribusi telur bukan hanya memenuhi kebutuhan DKI Jakarta. Namun juga harus mengembangkan pemasaran ke provinsi-provinsi lain yang tingkat kebutuhan telurnya tinggi.

Peternak memang tidak hanya menghadapi masalah harga telur yang cenderung turun. Namun peternak ayam juga menghadapi masalah bahan baku pakan, yaitu jagung.

Pakan menduduki porsi tertinggi dalam usaha peternakan ayam petelur yakni 71?ri biaya produksi (survey struktur ongkos usaha peternakan/SOUT, 2017). Peternak mandiri umumnya belum mempunyai manajemen stok (ketersediaan) pakan yang baik untuk mendukung keberlangsungan usahanya.

I Ketut Diarmita mengharapakan di masa datang Bulog dapat terlibat dalam bisnis jagung agar dapat membantu suply kebutuhan jagung para peternak rakyat. “Pada intinya, pemerintah ingin Peternak, mendapat untung dan Masyarakat juga sebagai konsumen dapat tersenyum karena kebutuhan protein hewani yang berasal dari telur terpenuhi,” pungkasnya.

Sementara itu, Ketua Satgas Pangan Irjen Pol. Setyo Wasisto yang hadir dalam pertemuan tersebut mengimbau agar para trader telur dan jagung untuk menjaga kestabilan harga. Sehingga tercipta iklim usaha perunggasan yang baik dan berdaya saing. Dan dapat memberikan keuntungan bagi para peternak dan juga memberikan keuntungan pagi para petani jagung.

Ketua Satgas Pangan. Setyo Wasisto, akan menurunkan timnya untuk memantau distribusi jagung maupun telur. Tim Satgas Pangan Polri bertugas untuk memastikan lancarnya distribusi bahan pangan dan terciptanya perdagangan yang adil mulai dari tingkat peternak, pedagang hingga konsumen. “Saya menghimbau supaya tidak ada pihak yang coba bermain-main dalam distribusi jagung dan telur, karena ini menyangkut kebutuhan pangan masyarakat banyak”, tegas Irjen Setyo Wasisto.(222)