
Alat pendeteksi tsunami
AGRONET -- Presiden Joko Widodo (Jokowi) meminta agar alat pendeteksi tsunami yang rusak segera diperbaiki. Masyarakat diharapkan dapat menyadari pentingnya alat pendeteksi tsunami dan dapat menjaganya dengan baik.
Jokowi menyatakan hal itu di lingkungan istana kepresidenan, Jakarta, Selasa (2/10). “Alat-alat yang rusak diperbaiki, masyarakat supaya mengawasi dan menjaga agar alat itu berfungsi baik, dapat mendeteksi timbulnya kemungkin yang akan terjadi," ujarnya.
Puluhan alat pendeteksi tsunami milik Indonesia yang dihibahkan Jerman, Amerika Serikat, dan Malaysia, kini tidak berfungsi. Hingga Desember 2017 tercatat Indonesia memiliki 22 buoy yang tersebar di perairan nusantara dalam kondisi rusak. Akibatnya peringatan dini potensi tsunami tidak akurat.
Kepala Pusat Data dan Informasi Badan Penanggulangan Nasional (BNPB), Sutopo Purwo Nugroho, menyebut pendeteksi tsunami atau buoy kondisinya rusak, dan sebagian hilang dicuri. "Buoy diperlukan untuk memastikan adanya tsunami sebagai sistem peringatan dini," ujar Sutopo di Jakarta, kemarin (1/10).
Deep-ocean tsunami detection buoys, seperti yang disebutkan Sutopo, berfungsi untuk mendeteksi perubahan permukaan air laut. "Sejak tahun 2012, buoy tsunami di Indonesia sudah tidak ada yang beroperasi sampai saat ini,” katanya.
Kepala Pusat Gempa dan Tsunami BMKG, Rahmat Triyono, menjelaskan buoy yang pernah terpasang di Indonesia dikelola oleh Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT). "Data buoy mendukung BMKG. Kalau data itu ada, maka level peringatan tsunami kami akan semakin tegas. Sebelum tsunami sampai ke pantai, data gelombang akan tercatat di sensor buoy," jelas Rahmat. (591)
Sabtu, 24 Januari 2026
Sabtu, 17 Januari 2026
Selasa, 13 Januari 2026
Sabtu, 24 Januari 2026
Kamis, 22 Januari 2026
Minggu, 18 Januari 2026
Kamis, 15 Januari 2026
Selasa, 13 Januari 2026
Jumat, 23 Januari 2026
Jumat, 23 Januari 2026
Rabu, 21 Januari 2026










