Pengamat memprediksi defisit gula akan terus berlanjut hingga 2024.

Jelang Halloween, Isu Gula Dongkrak Harga Permen dan Coklat

Selasa, 10 Oktober 2023, 07:11 WIB

Labu simbol Halloween | Sumber Foto:Torange Biz

AGRONET -- Cuaca ekstrem tahun ini memberikan pukulan besar pada industri gula di seluruh dunia. Bagi warga Amerika Serikat (AS) dan negara-negara lain yang merayakan hari Halloween artinya mereka harus mengeluarkan lebih banyak uang untuk membeli permen dan coklat.

"Ini merupakan tahun yang sangat sulit bagi gula dunia. Jika Anda melihat sepuluh negara produsen gula terbesar tahun ini, enam di antaranya mengalami cuaca ekstrem," ujar Kepala Ahli Meteorologi di Everstream Analytics, John Davis seperti dikutip dari FOX Weather, Senin (9/10/2023). "Dan akibatnya harga semua produk yang mengggunakan gula akan naik, termasuk permen," tambah Davis.

Ia merujuk kekeringan di Thailand, produsen terbesar keempat yang hampir memangkas seperempatnya produksinya. Sementara India, Amerika Serikat, dan Eropa, yang mewakili produsen terbesar kedua, keenam, dan ketiga, mengalami banjir.

Everstream mengatakan, cuaca ekstrem diperkirakan akan mengurangi pasokan gula global sebesar 10 hingga 15 persen selama musim tanam 2023/24. Badan Pengawas Obat dan Makanan AS memperkirakan produksi gula dunia untuk musim ini 187,9 juta ton. Pakistan dan Meksiko dilanda kekeringan. Sebaliknya, China mengalami hujan deras.

"Dan, tentu saja, semua cuaca ekstrem yang kita alami secara global, terjadi pada waktu yang tidak tepat, jika Anda mengalami hujan lebat saat panen, hal ini akan mengganggu aktivitas panen dan merusak hasil panen secara keseluruhan. Namun, semua itu kembali lagi pada jumlah dan frekuensi cuaca ekstrem yang kita alami di seluruh dunia," kata Davis.

Tahun lalu, harga gula naik 42 persen. Menurut Organisasi Gula Internasional harga gula saat ini berada di level tertinggi dalam 12 tahun terakhir, yaitu 31,54 sen per pon.

"Harga gula menjadi bahan pembicaraan, tetapi kami tidak mengalami kelangkaan pasokan gula, dan kami tidak memperkirakan akan ada gangguan," kata manajer komunikasi senior perusahaan coklat the Hershey Company, Todd Scott, pada Juli lalu.

"Harga gula tidak berdampak pada perayaan Halloween kami," katanya.

Gula merupakan bahan pokok makanan dan pengawet yang digunakan di hampir semua kategori makanan dan minuman. Gula juga digunakan dalam pengobatan, perawatan luka, kosmetik, pengendalian hama, bioplastik, bahan bangunan, produk kertas, herbisida, semen dan perekat, pakan ternak, dan deterjen.

"Sektor lain yang menggunakan gula, kami berbicara cukup banyak tentang energi, etanol, hal-hal seperti itu, begitu banyak sektor di luar sana yang menggunakan gula sebagai komponen utama," kata Davis.

Sejak pertengahan abad ini negara-negara menerapkan subsidi gula membuat harga gula tetap rendah secara artifisial. Sehingga para petani tetap menanamnya. Namun Eropa memangkas subsidi gula pada pertengahan tahun 2000-an.

"Tahun 2008/2009 merupakan penurunan terbesar yang pernah terjadi pada produksi gula dunia, produksi dunia turun hampir 20 juta ton," kata kata perusahaan keuangan Vikingen. 

Pada pertengahan 2009, terjadi peristiwa El Nino yang memukul produksi tebu. "Penggilingan tebu Brasil pada Juli, Agustus dan September dipengaruhi cuaca basah, yang mengakibatkan dunia kehilangan 1,5 juta ton produksi gula," kata Vikingen.

Gula ini sangat dibutuhkan di India dan di tempat lain. Sebagai akibat langsungnya, harga gula mentah naik menjadi 30 sen per pon pada bulan Februari 2010," kata perusahaan keuangan tersebut.

Produsen gula di belahan bumi utara mengalami masalah cuaca kering. "Penuaan tebu dan kekeringan hingga pertengahan 2010 menurunkan hasil panen. Sekitar 560 juta ton tebu dipanen, turun dari harapan awal sebesar 590 juta ton. Di Australia, hujan lebat memaksa petani untuk membiarkan hampir 20 persen tanaman tebu tetap berada di tanah," tulis Vikingen.

"Panen Uni Eropa terganggu kondisi awal musim dingin yang menyebabkan beberapa bit belum dipanen sementara panen Rusia hancur akibat kekeringan dan panas yang ekstrim selama musim panas," kata perusahaan itu dalam laporannya.

Harga gula mencapai sekitar 36 sen per pon pada 2011. Dengan perkiraan El Nino yang kuat sepanjang musim dingin pengamat memprediksi defisit gula akan terus berlanjut hingga 2024. "Ini akan menjadi sesuatu yang membutuhkan waktu lama untuk bisa diperbaiki," kata Davis. (tar)