Berbagai Olahan Berbasis Singkong  Tingkatakn Pendapatan Petani

Kamis, 09 Juni 2022, 21:35 WIB

Ubi kayu

AGRONET -- Olahan produk pertanian digenjot agar meningkatkan pendapatan petani. Krisis pangan dunia merupakan ancaman bagi semua negara termasuk Indonesia. Pandemi Covid-19 yang berlangsung sejak tahun 2020 ikut berdampak pada ketersediaan pangan.  Untuk menyiasati hal itu, Kementerian Pertanian memaksimalkan pangan lokal, termasuk singkong. 

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (SYL) meminta jajaran Kementerian Pertanian (Kementan) untuk menggiatkan pengembangan pangan lokal. Bahkan dirinya meminta pangan lokal Indonesia bisa masuk pasar dunia.

“Begitu banyak inovasi pangan lokal kita yang sudah dikembangkan. Jangan sampai hanya berhenti di lisensi. Harus berlanjut ke pasar dan bisa diekspor,” ungkap Mentan SYL.

SYL menyebutkan Indonesia memiliki beragam sumber daya pangan lokal. Tapi dibutuhkan riset dan inovasi sehingga pangan lokal bisa diterima oleh masyarakat lokal, maupun mancanegara.

“Ayo, sagu kita harus bisa masuk pasar dunia. Begitu juga beras singkong dan produk olahan pangan lokal lainnya. Jangan kita bergantung pada pangan impor,” tutur Mentan lagi.

Penggiatan sumber daya pangan lokal, perlu dilakukan. Apalagi saat ini dunia sedang dilanda cuaca ekstrim.

“Cuaca sedang jelek, planet kita sedang tidak baik-baik saja. Hari ini kita dilanda la nina, besok bisa jadi el nino. Jadi kita perlu persiapkan inovasinya. Pangan lokal apa yang bisa digunakan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Benih apa yang cocok untuk cuaca saat ini,” sebut SYL.

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Dedi Nuryamsi, mengatakan pertanian saat ini lebih dari sekadar menghasilkan produk.

"Namun juga tentang keterampilan mengolah dan memberikan nilai tambah pada produk pertanian Indonesia,” ujarnya.

Salah satu kebijakan yang sesuai untuk diterapkan dalam mencapai ketahanan pangan dan mengantisipasi krisis pangan adalah diversifikasi pangan.

Diversifikasi pangan merupakan suatu proses penganekaragaman pangan atau upaya dalam meningkatkan konsumsi aneka ragam pangan dengan prinsip gizi yang seimbang.

Indonesia mempunyai keragaman pangan lokal yang tinggi dengan nilai gizi yang baik untuk kesehatan dan tidak terbatas pada komoditas beras. Berbagai komoditas pertanian lain mampu menjadi alternatif pangan utama, salah satunya adalah singkong yang dapat diolah menjadi beras nasi atau rasi;

Kandungan utama singkong adalah karbohidrat. Pada 100 g singkong mengandung karbohidrat sebesar 34,7 g dengan kalori 146 kkl. Jumlah karbohidrat tersebut, lebih tinggi dari ubi jalar, kentang maupun sukun. Hal ini menunjukkan potensi singkong sebagai sumber kalori dan dapat menjadi alternatif pengganti beras dan menunjang diversifikasi pangan;

Selain karbohidrat, singkong mengandung serat pangan kompleks, serat pangan larut, tidak larut, vitamin, dan mineral yang sangat penting bagi kesehatan.

Melalui Bertani On Cloud (BOC) Volume 182, P4S Cireunde binaan Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Lembang, Jawa Barat, berbagi cara mudah dalam membuat olahan berbasis produk lokal singkong menjadi Beras Singkong, aneka produk turunan dan aneka cemilan.

Pemenuhan kebutuhan pangan dan menjaga ketahanan pangan menjadi semakin penting bagi Indonesia karena jumlah penduduknya sangat besar dengan cakupan wilayah geografis yang luas dan tersebar.

Indonesia membutuhkan pangan dalam jumlah mencukupi serta memenuhi kriteria layak konsumsi maupun logistik yang mudah diakses. Singkong tergolong sebagai komoditas pangan lokal yang banyak dibudidayakan di Indonesia sehingga dapat dijadikan alternatif makanan pokok.

 

Sumber : Rilis BPPSDMP Kementan