
Ditjen Perkebunan berencana mengalokasikan anggaran pengembangan serai wangi di Kabupaten Subang. | Sumber Foto: Ditjenbun
AGRONET-- Di tengah pandemi COVID-19, tak menyurutkan tingginya permintaan minyak serai wangi baik di dalam maupun luar negeri. Hal tersebut mendorong Kementerian Pertanian melakukan pengembangan serai wangi di beberapa wilayah di Indonesia.
Menurut Menteri Pertanian, pertanian harus digenjot untuk menghadapi tantangan yang ada di depan mata, salah satunya yaitu dampak COVID-19 berkaitan dengan ekonomi, distribusi, pasar, dan lainnya. Solusinya ada di pertanian. Tidak ada yang rugi di pertanian, ada tanah yang bisa ditanami.
Direktur Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian (Kementan) Kasdi Subagyono menerangkan komoditas serai wangi tak hanya mempunyai banyak manfaat tapi juga peluang usaha yang menjanjikan.
Saat melakukan peninjauan kesiapan lokasi pengembangan serai wangi di Kabupaten Subang pada bulan Juni 2020 lalu, Direktur Tanaman Semusim dan Rempah, Hendratmojo Bagus Hudoro, mengatakan Subang ditetapkan menjadi salah satu lokasi potensial karena didukung agroklimat yang sesuai bagi pengembangan serai wangi.
Menurutnya, Ditjen Perkebunan berencana mengalokasikan anggaran yang cukup bagi kebutuhan pengembangan serai wangi di Kabupaten Subang. Pada pertemuan tersebut juga disepakati penyusunan grand design pengembangan komoditas serai wangi di Kabupaten Subang yang akan disusun dengan melibatkan Ditjen Perkebunan, Dinas Provinsi Jabar, dan kabupaten terkait.
“Perancangan grand design sangat penting bagi pengembangan komoditas pertanian khususnya komoditas serai wangi agar dapat berkembang secara lebih terarah dan terencana ke depannya, sehingga kebutuhan terhadap komoditas serai wangi di dalam dan di luar negeri dapat tercukupi,” katanya.
Bupati Subang menyambut baik rencana Ditjen Perkebunan mengembangkan serai wangi di Kabupaten Subang. “Sebagai langkah awal kami berharap agar Kabupaten Subang dapat menjadi pilot project bagi pengembangan serai wangi,” kata H. Ruhimat, Bupati Subang (13/06).
Menurut Bupati Subang, luas lahan potensial yang dapat dioptimalkan bagi pengembangan serai wangi di Kabupaten Subang mencapai 9.500 Ha yang terdiri dari 2.000 Ha eks PTPN, 1.500 Ha eks RNI, dan 6.000 Ha lahan milik Perhutani.
Berdasarkan data yang diperoleh di lapangan, pengembangan serai wangi di Kabupaten Subang pada tahun 2020 tercatat seluas 190 ha dengan total produksi mencapai 795 ton dan tingkat rata-rata produktivitas 4.18 ton / ha. “Pengembangan serai wangi tersebut tersebar di Kecamatan Serang Panjang, Jalan Cagak, dan Cijambe. Pengembangan serai wangi di Subang cukup menjanjikan,” ungkap Asep, Ketua Gapoktan Agro Atsiri Rekatama.
Menurut Asep, selama ini petani mampu menghasilkan 30-40 juta/ha/tahun dari penjualan daun basah terlebih apabila petani melakukan proses penyulingan sehingga mampu meningkatkan pendapatan 2-3 x lipat. Hal tersebut dapat dicapai dengan asumsi harga jual daun Rp 500/Kg, hasil daun basah sebesar 2 kg/rumpun, jumlah populasi 10.000 rumpun/Ha, dan pemanenan dilakukan sebanyak 3 kali pada tahun pertama, dan 4 kali pada tahun kedua, dan seterusnya sehingga menghasilkan produksi daun sebanyak 60-80 ton per Ha/tahun.
“Tidak hanya itu, untuk meningkatkan nilai tambah serai wangi, beberapa petani di Subang juga berupaya menghasilkan produk olahan siap pakai yang berasal dari minyak serai wangi, seperti aroma terapi, sabun, karbol, penghemat bahan bakar, dan berbagai macam jenis produk siap pakai lainnya,” katanya.
Asep menambahkan, selain serai wangi, petani juga mengolah minyak atsiri dari cengkeh, pala, dan kayu manis. Hal tersebut dilakukan sebagai salah satu bentuk dukungan terhadap program pemerintah hilirisasi produk dalam rangka meningkatkan nilai tambah dan daya saing. (Ditjenbun/139)
Sabtu, 24 Januari 2026
Sabtu, 17 Januari 2026
Selasa, 13 Januari 2026
Sabtu, 24 Januari 2026
Kamis, 22 Januari 2026
Minggu, 18 Januari 2026
Kamis, 15 Januari 2026
Selasa, 13 Januari 2026
Jumat, 23 Januari 2026
Jumat, 23 Januari 2026
Rabu, 21 Januari 2026










