Produksi Benih Hibrida Solusi Tingkatkan Produktivitas Padi

Sabtu, 18 Juli 2020, 09:30 WIB

Panen bersama benih padi hibrida varietas Hipa 21 di Desa Bulu Pasar, Kediri. | Sumber Foto:Humas Kementan

AGRONET -- Alih fungsi lahan pertanian dan semakin sempitnya luas areal sawah serta adanya perubahan iklim kekeringan saat ini sulit dihindari. Hal ini mengakibatkan produktivitas padi turun dan mengganggu tercapainya swasembada pangan serta timbul kerawanan pangan. Pengembangan padi hibrida bisa menjadi cerdas untuk meningkatkan produktivitas padi.

Direktur Perbenihan Tanaman Pangan Kementerian Pertanian, Takdir Mulyadi, bersama Direktur PT. Tunas Widji Inti Nayottama, Rakimin, dan Kepala Bidang Pengelolaan Pangan, Dinas Petanian dan Perkebunan Kabupaten Kediri, Yeni Astuti, melakukan panen bersama benih padi hibrida rakitan anak bangsa varietas Hipa 21 di Desa Bulu Pasar, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Kediri, Jumat (17/7).

“Suatu kebanggaan tersendiri melihat keberhasilan produksi benih padi hibrida untuk perdana, dengan hasil produksi benihnya cukup memuaskan mencapai + 1,2 - 1,5 ton/hektare benih. Meskipun ada beberapa pertanaman yang terserang burung dikarenakan tidak ada lagi pertanaman padi di sekitarnya, tapi saya merasa puas dengan hasil kerja petani disini," papar Kepala Bidang Pengelolaan Pangan, Dinas Petanian dan Perkebunan Kabupaten Kediri, Yeni Astuti.

Senada dengan hal tersebut, Direktur PT. Tunas Widji Inti Nayottama, Rakimin menyebut kegiatan ini bertujuan untuk melihat sinkronisasi potensi hasil yang dipengaruhi oleh faktor lingkungan. Menurutnya, ada faktor-faktor seperti lokasi, iklim yang mendukung persilangan antara tetua indukan untuk menghasilkan persentase pembentukan biji (seed set) pada padi hibrida secara optimal.

Dijelaskannya dari 3 (tiga) hasil demplot pertanaman padi hibrida (F1) varietas Hipa 18, Hipa 19, dan Hipa 21 yang dilakukan di Provinsi Lampung, Kalimantan Selatan, Blora, serta Rembang, penampilan varietas Hipa 21 sangat bagus dan banyak diminati petani.

Secara terpisah Direktur Perbenihan Tanaman Pangan, Takdir Mulyadi, mengatakan varietas Hipa 21 lebih disukai petani karena memiliki banyak keunggulan. Varetas ini memiliki hasil rata-rata 8,99 ton GKG, potensial hasil tinggi mencapai 11,11 ton GKP, serta rasa nasinya pulen. Varietas ini juga tahan Wereng Batang Coklat (WBC) biotipe 1, tahan terhadap penyakit Hawar Daun Bakteri (patotipe III) pada fase vegetatif, serta agak tahan Blas Ras 073.

Takdir Mulyadi menjelaskan budidaya padi inbrida bersari bebas atau hasil perkawinan sendiri. Sedangkan padi hibrida adalah hasil perkawinan dua indukan unggul, yang terbukti menghasilkan potensi hasil minimal 20% lebih tinggi dibandingkan padi inbrida atau lokal.

Secara terpisah, Direktur Jenderal Tanaman Pangan Kementan, Suwandi, menyampaikan Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (SYL) terus membuat gebrakan pengembangan adopsi teknologi padi hibrida untuk meningkatkan produktivitas padi secara nasional, terlebih hasil produksi rakitan anak bangsa.

“Saya berharap padi hibrida dapat digunakan sebagai salah satu solusi untuk meningkatkan produktivitas padi di tengah maraknya alih fungsi lahan dan berkurangnya lahan sawah untuk pembangunan. Di samping itu punya keunggulan lebih tahan serangan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT), pastinya bisa jadi alternatif pilihan petani,” tandasnya. (357)