
Gambar Ilustrasi. | Sumber Foto: Istimewa
AGRONET -- Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo menggaungkan program pengembangan pangan lokal menjadi sebagai upaya diversifikasi pangan di tengah pandemi COVID-19. Beberapa jenis komoditas pangan lokal menjadi andalan untuk dikembangkan saat ini, seperti ubi kayu, ubi jalar, talas, ganyong, porang, sagu, dan lainnya.
Direktur Jenderal Tanaman Pangan, Suwandi, mengatakan salah satu komoditas, yakni ubi kayu, patut diberikan perhatian lebih karena memiliki prospek yang bagus. Ubi kayu ini mudah dibudidayakan, tidak memerlukan lahan yang spesifik, dan bisa ditanam di pekarangan rumah. "Mari kita mulai manfaatkan lahan yang ada salah satunya dengan menanam ubi kayu ini," ujar Suwandi, Rabu (3/6).
Tidak dipungkiri, dalam pengembangan ubi kayu ada beberapa tantangan seperti bibit unggul bersertifikat, kondisi harga, umur panen panjang, peningkatan provitas, dan penanganan pascapanen. Namun Suwandi optimis ubi kayu akan bisa menjadi komoditas primadona asalkan dikelola dengan baik.
Suwandi menambahkan, salah satu yang menarik, ada salah satu jenis varietas ubi kayu yang bisa mencapai provitas 102 ton dan umur panen 10 bulan yaitu varietas Darul Hidayah. Jenis singkong ini sudah banyak dibudidayakan, umbinya besar sehingga harus menyediakan lokasi lahan yang cukup luas karena harus bisa menampung umbi yang cukup besar di dalam tanah. "Jenis singkong ini banyak dipakai untuk industri mocaf (Modified cassava Flour / singkong yang dimodifikasi.red)," jelasnya.
Oleh karena itu, Suwandi mendorong petani lokal untuk bisa meningkatkan produktivitas ubi kayu, salah satunya dengan pemilihan varietas tersebut dan pemupukan. Jika rata-rata provitas ubi kayu 26 ton per hektare maka bisa ditingkatkan lagi. "Kita bisa pakai bibit yang bagus, seperti bibit gajah ataupun bibit Darul Hidayah dan sejenisnya, supaya bisa lebih kompetitif dengan produk luar,” terangnya.
Suwandi menyebutkan industri singkong saat ini sudah banyak. Oleh karena itu perlu didorong penyediaan bahan baku dari dalam negeri. Industri olahan singkong di Indonesia saat ini ada 21 unit, dominan di Lampung 8 unit dan di Jawa Barat 8 unit. “Beberapa industri tersebut sudah ada yang menggandeng kemitraan dengan petani. Contohnya di Bangka Belitung petani rutin memasok kebutuhan singkong untuk industri di sana. Itu yang kita inginkan petani bisa berproduksi dengan baik dan memiliki pasar yang jelas untuk menyalurkan hasilnya,” sebutnya.
Kementan mulai menggandeng industri singkong untuk mulai bermitra dengan petani. Dalam hal proses produksi tahun 2020 ini akan disalurkan bantuan budidaya ubi kayu seluas 11.175 ha di Aceh, Sumut, Lampung, Kalbar, Sulteng, Sulsel, Sultra, NTB, NTT, Banten, Babel, Kepri, dan Sulbar, dengan total anggaran Rp 12,8 miliar. Kementan juga mendorong pemanfaatan KUR bagi pengembangan ubi kayu, dan catatan menunjukkan sampai dengan akhir Mei 2020 realisasi KUR ubi kayu sebanyak Rp 321,8 miliar.
“Sesuai arahan Bapak Mentan SYL bahwa pangan lokal menjadi pangan alternatif yang harus mulai diberi perhatian khusus. Manfaatkan lahan yang ada, bangun pangan lokal, mulai dari skala rumah tangga supaya ketahanan pangan bisa terjaga,” kata Suwandi.
Pada aspek hilir, ujar Suwandi, Kementan mendorong kemitraan, sinergi dunia usaha dengan pihak terkait termasuk dengan Masyarakat Singkong Indonesia (MSI). Menurutnya, pangan lokal ubi kayu ini kuncinya ada pada market driven, sehingga fokus pada sisi demand. "Hal ini kita wujudkan melalui gerakkan diversifikasi konsumsi pangan lokal, mengonsumsi olahan ubi kayu. Mari kita mencintai produksi petani sendiri," kata Suwandi.
Untuk diketahui, luas panen ubi kayu di Indonesia tahun 2019 seluas 0,63 juta hektare dengan produksi 16,35 juta ton. Varietas yang umum digunakan Adira 1, 2, 4, UJ 3, 5, Malang 1, 2,4,6, Darul Hidayah, Litbang UK 2. Ubi kayu banyak ditemukan pengembangan skala luas di sentra-sentra di wilayah Lampung Tengah, Lampung Utara, lanpung Timur, Wonogiri, Gunung kidul, Serdang Bedagai, Simalungun, Sikka, dan lainnya. (357)
Sabtu, 24 Januari 2026
Sabtu, 17 Januari 2026
Selasa, 13 Januari 2026
Sabtu, 24 Januari 2026
Kamis, 22 Januari 2026
Minggu, 18 Januari 2026
Kamis, 15 Januari 2026
Selasa, 13 Januari 2026
Jumat, 23 Januari 2026
Jumat, 23 Januari 2026
Rabu, 21 Januari 2026










