Petani Buah Naga Banyuwangi Mendapat Berkah di tengah Pandemi Covid-19

Minggu, 10 Mei 2020, 19:55 WIB

Kementan mendukung pengembangan buah naga di Banyuwangi, yang pada tahun 2020 diberikan anggaran untuk intensifikasi seluas 60 ha. | Sumber Foto: Humas Ditjen Hortikultura

AGRONET -- Pandemi Covid-19 yang menyerang hampir seluruh dunia, berdampak terhadap perekonomian dunia termasuk Indonesia. Perdagangan ekspor dan impor produk hortikultura saat ini menurun drastis.

Menyikapi hal ini, Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo (SYL) selalu menegaskan untuk meningkatkan konsumsi komoditas hortikultura lokal. Tujuannya untuk menampung produksi petani sekaligus meningkatkan imun.

Seperti buah naga, salah satu komoditi buah yang mengalami peningkatan permintaan pasar dalam negeri. Meskipun di tengah kondisi yang serba terpuruk karena wabah Covid-19, petani di Banyuwangi, Jawa Timur, justru mendapat berkah.

Saat ini petani terus meningkatkan produksinya dikarenakan tingginya permintaan pasar akan buah naga segar (fresh). Bulan April-Mei adalah akhir panen raya di Banyuwangi. Rukiyan, petani sekaligus pelaku usaha buah naga di Banyuwangi merasa bersyukur karena penjualan buah naga tidak mengalami penurunan yang berarti.

"Meskipun ada sedikit kendala pada distribusi produk dikarenakan mahal dan terbatasnya akses transportasi di masa pandemi Covid 19 ini. Tapi secara keseluruhan lancar," ujar dia saat dihubungi di
rumahnya di Desa Jambewangi, Kecamatan Sempu, Kabupaten Banyuwangi, Minggu (10/5).

Rukiyan adalah Ketua kelompok Tani Pucangsari yang beranggotakan 35 orang. Dia juga champion yang membina sekaligus memasarkan hasil kebun kelompoknya seluas 29,5 ha. "Total produksi buah naga kelompok tani kami sekitar 737,5 ton per tahun. Kami baru mampu memenuhi 50 persen dari permintaan dalam setahun. Total permintaan produk buah naga kepada kami sebenarnya 1.475 ton," beber dia.

Adapun terkait harga jual, lanjut Rukiyan, jika pada musim panen raya (Oktober-Maret) petani menjual hasil produksinya dengan harga berkisar Rp 4.000/kg maka di luar musim harganya bisa mencapai 3 kali lipatnya.

"Bisa mencapai 20 ribu per kg nya. Pemasaran selain ke pasar lokal Banyuwangi dan sekitarnya, juga meliputi kota-kota besar seperti Jakarta, Bogor, Bandung, Surabaya, Malang, bahkan sampai luar Pulau Jawa," ungkapnya.

Dia menjelaskan, dengan harga standar Rp 4.000/kg, pihaknya mengantongi pendapatan 120 juta per ha per tahun. "Kami berharap pemerintah pusat dalam hal ini Kementerian Pertanian menambah luas pertanaman buah naga sekaligus memfasilitasi sarana panen dan pascapanen," tutup Rukiyan.

Sentra Terbesar di Indonesia

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Banyuwangi, Arief Setiawan, menjelaskan Kabupaten Banyuwangi sebagai sentra produksi utama buah naga terbesar di Indonesia. Luasannya mencapai 2.479 ha dengan produksi 35.687 ton tahun 2019.

"Kami memasok hampir 80% kebutuhan buah naga dalam negeri. Petani mampu berproduksi sepanjang tahun karena petani bisa memacu produksi buah naga dengan bantuan sinar lampu untuk membantu pohon buah naga berbunga dan berbuah di luar musim. Sinar ultraviolet yang dipancarkan lampu membantu fotosintesis," beber dia.

Arief memaparkan, budidaya buah naga di Banyuwangi tersebar di beberapa kecamatan. Di antaranya Kecamatan Bangorejo, Purwoharjo, Pesanggaran, Siliragung, Muncar, Tegaldlimo, dan Sempu.

Dikonfirmasi terpisah, Direktur Buah dan Florikultura Kementerian Pertanian, Liferdi Lukman, menjelaskan Kementan saat ini ikut mendukung pengembangan buah naga di Banyuwangi. “Tahun 2020 di sana kami berikan anggaran untuk intensifikasi buah naga seluas 60 ha. Diharapkan dengan pemeliharaan secara intensif, produksi buah naga yang dihasilkan nantinya akan meningkat serta berdaya saing,” kata Liferdi.

Menurut Liferdi, mengkonsumsi buah naga secara teratur dapat memperkuat imunitas tubuh sehingga sangat cocok dikonsumsi pada kondisi pandemi Covid-19 saat ini. “Buah naga mengandung vitamin C hingga karotenoid yang berfungsi sebagai antioksidan dan meningkatkan daya tahan tubuh. Sehingga hal ini dapat menangkal radikal bebas serta mencegah infeksi bakteri serta virus masuk ke dalam tubuh, karena karena kandungan zat gizi makro dan mikronya yang lengkap," terang Liferdi.

Direktur Jenderal Hortikultura, Prihasto Setyanto, pada kesempatan yang sama menegaskan akan terus mendorong agar petani buah naga mampu menghasilkan produk bermutu, berdaya saing, dan ramah lingkungan. "Selama ini petani buah naga Banyuwangi selalu kita dampingi agar mampu menghasilkan buah naga bermutu yang mampu memenuhi standar ekspor," tambahnya.

“Sebagai langkahnya, telah dilakukan General Administration of Customs of the People’s Republic of China (GACC) sebagai perwakilan Pemerintah Tiongkok yang melakukan kunjungan lapang ke Banyuwangi pada bulan Januari untuk melakukan verifikasi calon kebun buah naga yang akan diekspor produknya ke Tiongkok,” pungkasnya. (591)