Kementan Lepas Ekspor 110 Ton Kunyit Kering ke India

Rabu, 12 Februari 2020, 14:25 WIB

Foto dari kiri ke kanan :Ipong Muchlissoni, Bupati Ponorogo; Gigih, Direktur CV Berkah Jaya; Sukarman, Direktur Perbenihan Hortikultura yang juga merangkap sebagai Plt.Direktur Sayuran & Tanaman Obat Ditjen Hortikultura; dan Andi Sosetyo, Kadis Pertanian | Sumber Foto:Humas Ditjen Hortikultura

AGRONET -- Berbagai komoditas pertanian didorong untuk mampu bersaing di pasar ekspor. Seperti halnya kunyit kering diekspor dari Ponorogo ke India, Selasa (11/02), Ekspor ini selaras dengan program Kementan dalam meningkatkan ekspor hingga tiga kali lipat.

Direktur Perbenihan Hortikultura yang juga merangkap Plt. Direktur Sayuran dan Tanaman Obat, Ditjen Hortikultura, Sukarman, mengungkapkan total ekspor komoditas kunyit sejak tahun 2015-2018 sebanyak 34.317 ton setara dengan 46 juta USD.

"Tahun 2019 total ekspor 7.163 ton ke berbagai negara diantaranya India, Malaysia, Vietnam, Taiwan, United States, Korea, UK, Netherland, Brazil, Poland, dan Argentina. Sementara untuk 2020 ekspor kunyit ditargetkan naik menjadi 8.015 ton," ungkapnya.

Dia pun mengapresiasi peran swasta dalam meningkatkan ekspor komoditas hortikultura. Menurutnya peran sswasta ini sejalan dengan kebijakan pemerintah untuk mendorong pemasukan devisa negara dan program Gratieks Kementan.

Sukarman memaparkan ekspor kunyit ke India sebanyak 110 ton merupakan hasil panen dari petani di Kabupaten Kediri, Pacitan, Trenggalek, dan Wonogiri yang telah dikeringkan menjadi bentuk simplisia dengan kandungan curcumin minimal 4%.

“Artinya peran pihak swasta seperti ini mendukung peningkatan produksi dan ekspor komoditas biofarmaka Direktoral Jenderal Hortikultura, yakni melalui program pengembangan kawasan tanaman obat tahun 2020 mengalokasikan 700 hektare untuk budidaya kunyit, jahe, kapulaga, dan buah merah,” ungkap Sukarman.

Di samping itu, lanjut Sukarman, Kementan juga mendorong petani atau pelaku usaha untuk memanfaatkan prmodalan melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR).

Pada kesempatan yang sama, Bupati Ponorogo, Ipong Mukhlissoni, mendukung program Gratieks Kementan. Pihaknya melalui Dinas Pertanian Ponorogo mendorong masyarakat Ponorogo untuk menanam kunyit di pekarangan.

"Kunyit ini kan mudah dibudidayakan, tidak ada syarat khususnya. Saat ini di Ponorogo masih ada 15.000 hektare lahan yang tidak produktif yang bisa dimanfaatkan untuk budidaya kunyit dan tanaman obat lainnya," tutup Ipong.

Melihat peluang ekspor yang masih besar, perlu dipersiapkan alat pascapanen untuk mengolah kunyit kering menjadi olahan akhir agar pasar ekspor lebih luas. “Saya berharap yang dilakukan CV. Berkah Jaya bisa menjadi motivasi bagi petani maupun eksportir lainnya,” tutup Ipong.

Direktur CV. Berkah Jaya, Gigih, menyatakan banyak tantangan dalam mengekspor komoditas biofarmaka. Sekalipun demikian, komoditas Indonesia terbukti mampu bersaing.

“Saya sudah melakukan ekspor berbagai komoditas biofarmaka ke India sejak tahun 2017. Dan kerjasama tersebut berlanjut hingga kini. Tahun 2017 kita ekspor 100 ton, kemudian tahun 2018 naik menjadi 1.100 ton, dan tahun ini targetnya 1.000-1.100 ton lagi,” tutupnya. (591)