Pemuda Gorontalo Gemar Medsos Dibanding Jadi Petani

Kamis, 12 Oktober 2017, 00:21 WIB

Idah Syahidah Rusli Habibie dalam sebuah kesempatan menemani suaminya Gubernur Gorontalo Rusli Habibie, melakukan silaturahmi dengan masyarakat dan mengingatkan tentang pentingnya dunia pertanian

AGRONET – Dalam dialog interaktif di Narcaffe Kota Gorontalo, Sabtu (7/1), Idah Syahidah Rusli Habibie mengatakan dunia pertanian sangat kurang diminati oleh kaum muda. Dialog diselenggarakan oleh Radio Suara Rakyat Hulondalo. Idah, saat itu ditemani Koordinator GEMPITA wilayah Gorontalo Dahlan Usman, menjadi narasumber. Alasan kurangnya diminati dunia pertanian oleh kaum muda, menurut isteri Gubernur Gorontalo Rusli Habibie itu adalah karena faktor gengsi.

”Mereka enggan untuk menyentuh tanah. Enggan dalam keadaan becek atau kotor. Tapi kalau tidak dilakukan regenerasi maka di tahun ke tahun yang akan datang kita akan kehilangan para penggarap. Ini disebabkan ketidakmampuan para petani yang sudah tua renta untuk menggarap sawah dan perkebunan,” jelas Idah.

Masih menurutnya, Gempita yang dibentuk oleh Kementerian Pertanian, memiliki peran besar dalam melahirkan generasi petani. Regenerasi juga akan membantu pemerintah mengurangi kemiskinan. “Bukan pekerjaan mudah untuk mengajak pemuda mau bercocok tanam atau bertani. Apalagi di zaman yang semakin modern seperti sekarang ini. Generasi muda sangat terpengaruhi oleh era informasi dan teknologi yang semakin canggih. Mereka terpengaruh oleh medsos, game online dan sejenisnya,” tambahnya.

Idah yang juga Ketua Kwarda Gerakan Pramuka Provinsi Gorontalo, dalam setiap kegiatan kepramukaan, selalu mengajak pemuda untuk menanamkan Dasa Dharma di jiwa mereka sebagai norma yang mengatur kegiatan kepramukaan. “Salah satu dari 10 dharma adalah cinta alam dan kasih sayang sesama manusia. Di sini secara tersirat terdapat makna bahwa seorang pramuka juga bisa ikut berpartisipasi menjaga lingkungan dengan memanfaatkan lahan yang kosong untuk ditanami tanaman yang bermanfaat, salah satunya jagung,” jelasnya.

Di tengah dialog, Idah mengungkapkan rasa prihatinnya melihat banyak lahan-lahan kosong di Gorontalo yang kurang dimanfaatkan. ”Kalau ini terus dibiarkan dan tidak ada ketertarikan para pemuda untuk menggarapnya, bukan tidak mungkin petani dari luar daerah Gorontalo atau bahkan dari luar Indonesia akan mengambil alih menggarap tanah kosong,” ujarnya dengan nada prihatin.

Pada akhir dialog, perempuan murah senyum ini mengajak para pemuda untuk tidak ragu bertani dan memanfaatkan lahan yang kosong ditanami jagung. Idah menanamkan prinsip 3P: Pelajar, Petani, Pengusaha yang profesional. (Humas Prov. Gorontalo/111).