Kementan Percepat Realisasi Asuransi Pertanian di Lombok

Rabu, 18 September 2019, 17:47 WIB

Petani menggunakan alat mesin pertanian. | Sumber Foto:Humas Kementan

AGRONET – Kementerian Pertanian (Kementan) mempercepat realisasi asuransi pertanian di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB). Sampai saat ini, realisasi program Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP) dan Asuransi Usaha Ternak Sapi/Kerbau (AUTS/K) di Pulau Seribu Masjid masih rendah.

“NTB kita kejar terus realisasinya. Memang masih rendah, tapi sejak tiga bulan terakhir sudah menunjukkan peningkatan,” kata Direktur Pembiayaan Pertanian pada Direktorat Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian (Ditjen PSP) Kementan Indah Megahwati di Lombok Tengah, Rabu (18/9).

Indah bersama tim Ditjen PSP Kementan melakukan kunjungan kerja ke NTB dan berkeliling menemui para stakeholder pertanian di Lombok Tengah dan Lombok Barat. Secara khusus, Indah akan menempatkan anggota timnya di NTB guna memastikan realisasi AUTP dan AUTS/K berjalan dengan baik.

Untuk AUTP, dia optimistis bakal mencapai 70 persen dari target 17 ribu hektare yang masuk daftar peserta definitif (DPD). Saat ini, realisasi AUTP NTB baru 946,7 hektare. Begitu pun dengan AUTS/K yang menargetkan 12 ribu DPD. “Kalau untuk AUTS, kesadaran peternak untuk daftar asuransi sudah sangat tinggi karena sudah merasakan langsung manfaatnya. Bahkan komitmen untuk Agustus sampai Oktober itu sudah 10 ribu lebih,” kata Indah.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Lombok Barat Muhur Zokhri menyampaikan apresiasi atas kunjungan tim Ditjen PSP Kementan yang dipimpin langsung Indah Megahwati. Kunjungan tersebut disebut Zokhri sebagai motivasi berarti agar semua staf Dinas Pertanian Lombok Barat mempercepat realisasi AUTP dan AUTS/K.

“Petani dan peternak sebenarnya sudah merasakan manfaat luar biasa program asuransi ini. Kan memang sudah ada yang mendapatkan klaim dari asuransi. Ini ke depan kita akan percepat lagi realisasinya,” kata Muhur.

Di kala musim kemarau sekarang ini, Muhur menjelaskan, ada 10 hektare lahan sawah yang terkena dampak kekeringan. Sedangkan untuk komoditas palawija, ada 84 hektare yang puso dan umumnya berada di lahan tadah hujan.

“Kalau di sawah-sawah irigasi, sudah aman. Lahan yang puso juga sebagian sudah masuk asuransi dan sekarang sedang kita bantu proses klaimnya,” kata Muhur.

Kepala Cabang Jasindo Mataram Munfidzu Al Dustur (Aldo) mengatakan, kendala pendaftaran asuransi pertanian di NTB adalah tingkat kesadaran petani, terutama petani padi yang masih perlu diberi tahu manfaat proteksi usaha taninya. Selain itu, musim tanam kedua yang baru dimulai pada Oktober bahkan November atau Desember mendatang juga menjadi kendala tersendiri. “Petani padi masih menunggu hujan untuk mulai tanam, sehingga realisasinya masih rendah. Kan pendaftaran asuransinya menunggu tanam dulu,” kata Aldo.

Adapun untuk peternak NTB, dia melanjutkan, kesadaran berasuransinya sudah baik yang dibuktikan dengan antusiasme pendaftar AUTS/K yang melampaui target. “AUTS itu sudah ada 30 ribu yang mau daftar. Tinggal menunggu program kerja samanya.”

Berdasarkan data di Jasindo, Aldo menjelaskan, total realisasi AUTP sudah mencapai 1.386,44 hektare yang terdiri dari 926,62 hektare sudah terbit SK DPD-nya dan 459,82 hektare belum terbit SK DPD-nya. Untuk percepatan realisasi, Jasindo berharap penerbitan SK DPD bagi polis yang sudah terbit bisa segera dilakukan.

“Kami juga sudah diinformasikan kalau batas akhir entry peserta AUTP dan penerbitan SK DPD 2019 dapat diselesaikan paling lambat tanggal 20 Oktober 2019,” kata Aldo. (360)