
Ilustrasi : Kacang Mete | Sumber Foto:Istimewa
Ada kesibukan tak biasa di Balai Karantina Kendari. Sulawesi Tenggara. Setiap hari, kantor ini memang sibuk. Mengawal keluar masuk komoditas dan produk agro. Dari bandara. Juga pelabuhan-pelabuhan di provinsi itu. Tak ada komoditas dan produk agro yang keluar masuk tanpa melalui mereka.
Tapi hari-hari ini mereka sibuk dengan hal lain. Kesibukan yang bahkan tak mereka duga sebelumnya. Banyak tamu penting berdatangan. Bukan hanya dari pengguna layanan Balai Karantina ini. Tapi juga para di daerah. Dari pemerintah-pemerintah daerah. Juga dari dinas-dinas. Semua itu terjadi karena ‘ulah’ Mastari.
Ya, Mastari biangnya. Awalnya karena Kepala Balai ini penasaran. Ia ingin tahu, bagaimana peta persisnya ekspor komoditas dan produk agro tersebut. Apa saja jenisnya? Ke mana tujuannya? Juga berapa banyak volumenya? “Mulanya, kami hanya ingin data itu,” kata Mastari.
Data itu pun dikumpulkan. Dari sana, Mastari dan timnya paham. Ternyata ada sekitar delapan komoditas unggulan dari provinsi itu. Untuk menyasar ekspor. Kopra masih menjadi yang terbesar. Lalu ada produk kakao. Tentu saja juga kacang mede. Hasil terkenal Muna dan Buton.
Selain itu, ada juga yang membuat mereka terkesima. Rumput. Ya, salah satu jenis rumput mereka ternyata digemari peternak luar negeri. Buat pakan sapi. “Ternyata, rumput liar yang ada di balik semak-semak itu juga punya nilai ekonomis tinggi,“ kata Mastari.
Dari pemetaan itu, mereka tahu potret produk ekspor pertanian Sulawesi Tenggara lebih utuh. Ekspor mereka ternyata belum dilakukan langsung ke negara tujuan. Masih harus melalui pedagang perantara. Di Makasar atau Surabaya. Padahal, dari Kendari kini sudah memungkinkan ekspor langsung. Pelabuhan telah dibangun.
Mereka jadi tahu betul apa andalan Sulawesi Tenggara. Tapi rasa penasaran belum berhenti. Mereka ingin tahu data pendukung setiap komoditas andalan itu. Misalnya, berapa luasan lahan kelapa? Berapa banyak produksinya?
Balai Karantina ini mengompilasikan data sekunder dari berbagai lembaga. Hal yang jelas bukan tugas utamanya. Lalu menyandingkannya dengan data ekspor tersebut. Dari sana, jadi tahu. Seberapa besar potensi yang mereka miliki. Seberapa besar yang sudah diaktualisaskannya.
Data-data itupun dibukukan. Dibuat menjadi satu sajian utuh. Sajian yang membuat Gubernur Ali Mazi terpana. Begitu besar kesempatan berkembang yang dipunyai provinsi ini. Dalam industri agro. Bukankah ini saatnya untuk memulai.
Gubernur pun meminta agar Balai Karantina memperbanyak buku itu. Hal yang membuat Mastari senang. Ia minta timnya menerbitkan buku itu dari anggaran yang ada. “Saya kira kami mau dikasih dana dari provinsi buat mencetaknya, ternyata harus pakai uang sendiri,” kata Mastari berseloroh.
Namun ia gembira. Ia dapat membantu daerah buat memotret potensi agronya. Seberapa besar potensi sebenarnya? Bagaimana realitasnya saat ini? Seberapa besar kesenjangannya? Hal yang akan membawa pada langkah penting: Bagaimana mendongkrak potensi agro daerah tersebut?
Maka Balai Karantina Kendari lalu jadi pusat perhatian. Pemerintah-pemerintah daerah di Sulawesi Tenggara, apalagi Dinas-dinas perkebunan dan pertaniannya, pun mendatangi kantor ini. Bahkan Bank Indonesia pun secara khusus datang ke sana. Menggunakan data kompilasi lembaga ini.
Ya, mengkompilasikan data agro. Itu bukan tugas wajib Balai Karantina Kendari. Tugas sunah saja. Tetapi jusru ‘tugas sunah’ itu malah mengantarkan pada terobosan penting. Sulawesi Tenggara jadi punya data yang sama. Yang dijadikan acuan bersama. Sebuah modal besar buat memajukan agro.
Itu yang perlu dipunyai setiap daerah. Data valid tentang agro secara utuh. Di seluruh negeri ini. Baik di tingkat provinsi maupun kabupaten. Apa sebenarnya potensi utama daerah tersebut? Sudah seberapa jauh potensi itu dikembangkan? Dalam bentuk apa? Oleh siapa? Dan sebagaimanya.
Secara formal, pasti setiap daerah telah memilikinya. Setiap daerah tahu apa potensi utamanya. Juga seberapa potensi tersebut telah dikembangkan. Tetapi, yang terjadi, data tersebut sering sebatas formalitas. Berserak pada buku catatan yang tersimpan di rak-rak. Belum jadi pedorong buat bergerak.
Setiap pimpinan daerah sudah harus sangat paham. Seberapa luas lahan yang mereka miliki? Apa jenis tanahnya? Bagaimana kesediaan airnya? Dan sebagainya. Dari sana akan didapat peta yang jelas. Komoditas apa persisnya yang paling layak dikembangkan? Jika hendak dikembangkan ke peternakan, ternak apa yang paling tepat.
Setelah itu, dapat melangkah ke tahap selanjutnya. Mampukah petani lokal mengembangkannya? Apakah koperasi petani setempat sudah berkembang? Ataukah ada petani kuat yang jadi ‘bapak asuh’ bagi petani lainnya.
Itulah pertanyaan dasarnya. Pertanyaan yang harus terus diajukan pada diri sendiri. Lalu dijawab dengan mengecek lapangan. Dari sana kondisi nyata agro akan terpetakan dengan baik. Itu hal yang perlu dilakukan. Oleh semua pelaku agro. Terutama otoritas pengembangan agro. Bila itu dilakukan, agro pasti melesat maju.
Melakukan hal itu sama sekali tidak sulit. Yang diperlukan hanya peduli. Betul hanya peduli. Sungguhkah kita peduli agro? Sungguhkah kita peduli pada petani kita? Ataukah kita lebih sibuk sendiri? Pada program-program yang kita anggap hebat. Walaupun mungkin saja kurang bermanfaat.
Langkah Mastari dan kawan-kawan itu mengingatkan kita pada peduli. Peduli pada data. Peduli pada realitas yang ada di lapangan. Hal yang akan membuat kita melangkah maju secara nyata. Kali ini peduli itu dari dari Kendari. Pusat provinsi yang –kebetulan—jadi tuan rumah Hari Pangan Sedunia secara nasional, tahun ini.*
Zaim Uchrowi, Ketua Dewan Redaksi AGRONET
Sabtu, 24 Januari 2026
Sabtu, 17 Januari 2026
Selasa, 13 Januari 2026
Sabtu, 24 Januari 2026
Kamis, 22 Januari 2026
Minggu, 18 Januari 2026
Kamis, 15 Januari 2026
Selasa, 13 Januari 2026
Jumat, 23 Januari 2026
Jumat, 23 Januari 2026
Rabu, 21 Januari 2026










