Untung Tani Kangkung

Yayat Hidayat, petani kangkung sukses asal Jampang, Sukabumi Selatan | Sumber Foto:Intani
AGRONET -- Untung Tani Kangkung pernyataan yang dilontarkan Yayat Hidayat, petani kangkung sukses asal Jampang. Pernyataan tersebut menjadi bukti nyata bahwa pertanian bisa menjadi sumber pendapatan menjanjikan, bahkan bagi yang tidak berlatar belakang pertanian. Yayat memulai kariernya sebagai karyawan di wahana permainan anak di sebuah pusat perbelanjaan. Namun, karena sering dimutasi dan telah berkeluarga, ia memutuskan untuk kembali ke kampung halaman dan mencoba beternak ayam. Gagal di dunia peternakan, Yayat tak menyerah. Ia mencoba pertanian dengan bermodal hanya Rp100.000 untuk membeli benih kangkung dan pupuk. Dari modal tersebut, ia berhasil mendapatkan hasil panen senilai Rp600.000. Semangat dan ketekunan membuatnya terus melangkah di jalur pertanian hingga kini.
Yayat menerapkan pendekatan bertani jangka pendek, menengah, dan panjang:
Jangka pendek: kangkung yang bisa dipanen dalam 20–25 hari.
Jangka menengah: cabai yang dipanen sekitar 3 bulan.
Jangka panjang: kapulaga, cengkeh, dan kopi yang mulai berbuah setelah 4–5 tahun.
Sistem tumpang sari diterapkan di lahan kebun untuk tanaman jangka panjang, sedangkan lahan sawah digunakan untuk menanam kangkung dan cabai. Lahan yang digunakan bukan warisan, melainkan hasil tabungan pribadi. Bekas sawah tersebut sebelumnya tidak produktif karena rusaknya saluran irigasi. Untuk mengatasi hal ini, Pak Yayat memanfaatkan mata air terdekat dan membuat kolam penampungan sederhana menggunakan plastik bekas. Air dialirkan menggunakan selang dan disedot dengan mesin saat dibutuhkan.
Salah satu tantangan utama dalam budidaya kangkung adalah serangan jamur akibat curah hujan tinggi. Genangan air membuat tanah asam, menyebabkan daun menguning dan pertumbuhan terhambat. Yayat menyiasati hal ini dengan pupuk NPK serta larutan semprotan dari daun sirsak yang diblender.
Tips teknis lainnya dari Yayat:
Hasil panen kangkung dikirim langsung ke pasar tanpa melalui tengkulak. Permintaan pasar selalu ada dan sangat tinggi. Untuk efisiensi, Pak Yayat bahkan membagikan hasil ke tetangga agar distribusi lebih merata. Meskipun harga kangkung relatif murah dan stabil, keuntungan diperoleh dari skala volume penjualan. Dari budidaya kangkung saja, ia bisa memperoleh penghasilan sekitar Rp6 juta per bulan. Meskipun belum memiliki pekerja tetap, Pak Yayat rutin mempekerjakan warga sekitar saat panen dan tanam. Hal ini membantu membuka lapangan pekerjaan temporer di desanya. Ia juga tak pelit ilmu, terbuka untuk berbagi pengalaman dengan siapa saja yang ingin belajar bertani.
Yayat mendorong anak muda untuk berani mencoba bertani. Ia menegaskan bahwa sektor pertanian memiliki masa depan cerah karena pangan adalah kebutuhan primer. “Jangan takut keluar dari zona nyaman. Kalau pola pikir kita berubah, hasilnya pun akan berbeda,” ujarnya. Pertanian bukan hanya soal bercocok tanam, tetapi juga tentang keberanian, inovasi, dan ketekunan. Dengan memanfaatkan lahan terbatas dan modal minim, ia mampu menciptakan sumber penghasilan berkelanjutan, membuka lapangan kerja, serta menjadi inspirasi bagi banyak orang, khususnya generasi muda.
Sumber :
Insan Tani dan Nelayan Indonesia
Sabtu, 24 Januari 2026
Sabtu, 17 Januari 2026
Selasa, 13 Januari 2026
Sabtu, 24 Januari 2026
Kamis, 22 Januari 2026
Minggu, 18 Januari 2026
Kamis, 15 Januari 2026
Selasa, 13 Januari 2026
Jumat, 23 Januari 2026
Jumat, 23 Januari 2026
Rabu, 21 Januari 2026










