Revolusi Pertanian, Bercocok Tanam Tanpa Tanah

Kamis, 02 April 2020, 13:29 WIB

Revolusi pertanian, bercocok tanam tanpa membutuhkan lahan dan tanpa menggunakan tanah melainkan lembaran polimer. | Sumber Foto:dok japan.go.jp

AGRONET -- Untuk menanam buah dan sayuran, kita tidak lagi harus punya lahan bahkan membutuhkan tanah pun tidak. Periset Jepang, Yuichi Mori, telah berhasil mengembangkan pola  tanam yang tidak bergantung kepada tanah sebagai media tanam. Bahkan membutuhkannya sedikitpun tidak. Media tanam yang dipakainya berupa lembaran yang tersusun dari polimer bernama Mebiol. Lembaran ini adalah lapisan plastik yang biasanya kita gunakan untuk membungkus makanan.

Materi ini awalnya dirancang untuk mengobati ginjal manusia berupa selaput polimer bening dan berpori. Tanaman tumbuh di atas selaput, yang membantu penyimpanan cairan dan nutrien. "Saya mengadaptasi materi yang digunakan untuk menyaring darah pada proses dialisis ginjal," kata ilmuwan tersebut kepada BBC.

Yuichi Mori, bercocok tanam menggunakan lembar polimer (film).

Lembaran itu mengikat air dan nutrisi dengan sangat baik dan efisien, sehingga lebih menghemat air sampai 90% dibandingkan dengan bertani secara konvensional. Keunggulannya lagi,  pestisida sama sekali tidak diperlukan karena polimer telah menghambat virus dan bakteri.

Tanaman tumbuh di atas lembaran dengan akar menyebar ke seluruh permukaan lembaran mengikuti keberadaan nutrisi. Lembaran yang sangat kuat mengikat air itu membuat tanaman lebih bekerja keras untuk menyerap air, menyebabkan tanaman stres dan membentuk lebih banyak gula, asam amino, dan fitokimia.

Mebiol digunakan di Jepang, dan menjadi salah satu revolusi pertanian mereka. Solusi  untuk mengatasi kekurangan lahan dan sumber daya manusia. Lahan diubah menjadi pusat teknologi dengan bantuan kecerdasan buatan (AI), internet (IoT), dan pengetahuan tercanggih.

Buah Tomat, hasil budidaya dengan metode pertanian polimer (film)

Metode budi daya seperti yang dikembangkan Yuichi Mori telah digunakan di lebih 150 daerah di Jepang. Metode ini terutama penting dalam membangun kembali daerah pertanian Jepang timur laut yang tercemar berbagai zat dan radiasi dari tsunami setelah gempa besar dan bencana nuklir pada bulan Maret 2011.

Mebiol telah digunakan juga di Cina, dan beberapa negara di Uni Emirat Arab untuk menanam sayuran. Dan untuk menjaga hak penciptaannya, Mebiol telah memiliki paten penemuan yang telah didaftarkan di hampir 120 negara.(234)