Roboducks, Bebek Pembersih Gulma dan Penyubur Tanaman

Sabtu, 28 Desember 2019, 09:13 WIB

Robot bebek Aigamo, inovasi unik untuk menjaga padi, mengusir hama padi, menghancurkan gulma, memakan serangga hingga menyuburkan tanaman. | Sumber Foto:Dok Istimewa

AGRONET --  Dalam pertanian tradisional, bebek sudah digunakan petani untuk menjaga tanaman padi agar terbebas dari gulma dan hama. Jadi tidak sekedar ‘angon” bebek, petani melepas bebek mereka ke sawah juga bertujuan mendapatkan manfaat lain untuk sawah mereka.

Kini seiring dengan berkembangnya teknologi, manajemen pertanian modern mengadopsi budaya tersebut namun menggantikan perkerjaan bebek dengan robot yang diberi nama robot bebek (Roboducks).

Diciptakannya robot ini memang terinspirasi dari bebek sawah yang memainkan peran aktif dalam mengurangi pertumbuhan gulma di sawah. Robot bebek ini sudah diuji coba di daerah pertanian di prefektur Yamagata, timur laut Jepang.

Robot bebek yang diberi nama Aigamo ini adalah inovasi yang sangat unik untuk menjaga padi, mengusir hama padi, menghancurkan gulma, memakan serangga hingga menyuburkan tanaman tanpa menggunakan bahan kimia berbahaya sekalipun.

Robot keren ini dikembangkan oleh insinyur dari Nissan Motor Co, merupakan proyek pribadi yang diwujudkan dengan fitur GPS, koneksi WiFi dan tenaga surya untuk meminimalkan dampak lingkungannya.

Robot Bebek hanya terdiri dari beberapa elemen sederhana seperti baterai, motor, dan komputer penerima signal GPS. Memiliki berat 1,5 kilogram dan ukuran sebesar penyedot debu yaitu 60 sentimeter persegi.

Dalam pengujiannya, robot bebek mampu bergerak di atas air secara otomatis. Pada bagian bawah robot terdapat dua sikat karet yang berputar untuk menggantikan kaki bebek, yang juga berfungsi untuk mengatur perputaran oksigen dalam tanah. Saat robot bebek bekerja maka air akan keruh, sehingga mencegah gulma mendapatkan sinar matahari dan dengan demikian tidak dapat tumbuh di sawah. Dua alat penggerak yang mirip dengan sekrup ini bisa dengan mudah mengeruhkan air tanpa mengganggu tanaman padi.

Sayangnya, hingga sekarang Nissan belum mengisyaratkan robot bebek akan diproduksi secara massal. Ini karena, robot bebek tersebut masih memerlukan dukungan dari teknisi sehingga masih membutuhkan waktu untuk dapat diproduksi dalam skala banyak dan dapat digunakan oleh umum.

Padahal sudah banyak perusahaan bahkan dari negara di luar Jepang yang telah tertarik dan ingin memiliki robot bebek ini. Ketertarikan kepada Roboducks antara lain karena diyakini bisa mengurus pertanian padi tanpa memerlukan banyak pekerja, sehingga permasalahan penurunan populasi dan kurangnya staf dalam perusahaan pertanian akan teratasi. 

Jepang sekali lagi memberikan pelajaran berharga untuk kita, Bagaimana sebuah kemajuan teknologi masa kini bisa diimplementasikan dalam sistem pertanian tradisional yang sudah diterapkan sejak lama dan turun temurun. Keberadaan Roboduck Aigamo ini bahkan bisa jadi menyelamatkan budaya bertani yang kini mulai tergerus perkembangan zaman.(234)