
Revolusi Industri 4.0 telah menggantikan sebagian besar tenaga manusia di bidang pertanian | Sumber Foto:industrywired.com
AGRONET – Era Revolusi Industri 4.0 tidak mungkin dihindari. Teknologi Internet Of Things (IoT) telah masuk dalam kehidupan sehari-hari. Penggunaan gawai, komputer, dan perangkat otomatisasi telah banyak mengambil peranan manusia. Termasuk di bidang pertanian.
Jika kita menengok ke belakang, sejarah peradaban manusia telah melewati beberapa Revolusi Industri. Pada Revolusi Industri 1.0, lahir mekanisasi dan energi berbasis uap dan air. Tenaga manusia dan hewan digantikan oleh mesin.
Pada Revolusi Industri 2.0 perubahan ditandai dengan berkembangnya energi listrik dan motor penggerak. Dunia manufaktur dan produksi massal tumbuh cepat. Manusia mulai menggunakan pesawat telepon, mobil, dan pesawat terbang.
Selanjutnya Revolusi Industri 3.0. Pada masa ini perubahan begitu cepat, ditandai dengan tumbuhnya industri berbasis elektronika, teknologi informasi, serta otomatisasi. Teknologi digital dan internet dikenal pada akhir masa ini.
Saat ini, negara maju seperti Amerika Serikat dan Jepang, telah memasuki Era Revolusi Industri 4.0. Salah satu alasan adalah makin sulitnya mendapatkan tenaga kerja yang mau bekerja di bidang pertanian. Banyak negara maju yang mengalami bencana demografi, yaitu kondisi jumlah penduduk produktif lebih sedikit dibandingkan penduduk tidak produktif.
Alasan lain adalah otomatisasi. Dengan adanya sistem Internet of Things (IoT) mesin pertanian menjadi terintegrasi dengan internet untuk pengumpulan data, seperti suhu, curah hujan, serangan hama, dan kecepatan angin. Data-data ini diolah untuk kemudian dipakai untuk menjalankan mesin pertanian, seperti ”traktor pintar” dan drone. Hasilnya, kualitas dan kuantitas hasil pertanian dapat ditingkatkan.
Di negara maju, Revolusi Industri 4.0 di bidang pertanian tampak jelas penerapannya pada pertanian rumah kaca dan sistem irigasi. Semua sistem bekerja secara otomatis. Campur tangan manusia nyaris nihil. Manusia hanya mengontrol, memastikan sistem berjalan dengan sempurna.
Presiden Jokowi telah berulangkali mengingatkan perlunya Indonesia bersiap memasuki era revolusi Industri 4.0. Namun apakah kita telah siap. Tidak hanya masalah infrastruktur, seperti perlunya jaringan internet berkecepatan tinggi dan merata di seluruh wilayah Indonesia. Apalagi Indonesia begitu luas. Selain itu, Indonesia saat ini sedang mengalami bonus demografi. Jumlah penduduk berusia produktif lebih banyak dibandingkan yang tidak produktif.
Jika dilihat dari kondisi saat ini, dapat disimpulkan Indonesia tidak perlu terlalu memaksakan untuk masuk dalam era revolusi industri 4.0. Namun, sebagian pengamat pertanian berpendapat bahwa saat ini saat yang tepat untuk memulai era industri 4.0. Bukankah 30 tahun dari sekarang bonus demografi akan berubah menjadi bencana demografi. Artinya, sejak sekarang Indonesia sudah harus menyiapkan datangnya bencana demografi.
Memasuki era Revolusi Industri 4.0 tidak melulu bicara soal teknologi Internet Of Things (IoT) dan mesin otomatisasi. Pengembangan teknologi artificial intelligence (kecerdasan buatan) juga dibutuhkan. Selain itu untuk dapat memperoleh hasil pertanian yang berkualitas dan kuantitas hasil panen yang terjaga, diperlukan juga bibit, pupuk, lahan, dan pestisida yang mutunya selalu terjaga.
Penggabungan IoT, mesin otomatisasi dan artificial intelligence akan membuat semua mesin bekerja seolah-olah manusia juga hadir bekerja di lokasi pertanian. Yang terjadi sebenarnya adalah "mesin otomatisasi pintar" bekerja dengan memperhatikan semua variabel –suhu, kecepatan angin, posisi bujur dan lintang, kondisi lahan, dan lain-lain- dengan menggunakan saluran internet atau satelit.
Nampaknya, Indonesia perlu membenahi beberapa masalah sebelum benar-benar memasuki Revolusi Industri 4.0. Infrastruktur perlu diperbaiki dan petani tradisional yang perlu dibuat melek teknologi. Satu lagi, perlu biaya sangat besar. (555)
Sabtu, 24 Januari 2026
Sabtu, 17 Januari 2026
Selasa, 13 Januari 2026
Sabtu, 24 Januari 2026
Kamis, 22 Januari 2026
Minggu, 18 Januari 2026
Kamis, 15 Januari 2026
Selasa, 13 Januari 2026
Jumat, 23 Januari 2026
Jumat, 23 Januari 2026
Rabu, 21 Januari 2026










