Waspada Penyakit Mozaik pada Cabe

Kamis, 16 Februari 2023, 13:55 WIB

Penyakit mozaik disebabkan oleh CMV (Cucumbar mozaic virus) | Sumber Foto:BSIP Papua

AGRONET -- Komoditas hortikultura potensial yang mempunyai nilai ekonomi tinggi dan memiliki potensi untuk terus dikembangkan salah satunya cabai. Seringkali dalam budidaya tanaman cabai, petani mengalami serangan hama maupun penyakit oleh virus dan serangga lain yan merugikan tanaman yang sedang dibudidayakan. Kerugian ini dapat menimbulkan kerugian ekonomi dalam skala kecil maupun skala besar.

Keerom, 13 Februari 2023 Kepala BPSIP Papua beserta tim turun ke lapangan meninjau pertanaman cabai petani di kampung Yanamaa Pir 1, Distrik Arso Kab. Keerom. Kunjungan ini merupakan tindak lanjut dari keluhan petani setempat bahwa pertanaman cabai seluas 3 Ha terserang penyakit. Dalam pengamatan di lokasi penanaman cabai, diidentifikasi dua penyakit utama yaitu penyakit mozaik dan Layu Fusarium.

Penyakit mozaik disebabkan oleh CMV (Cucumbar mozaic virus) yaitu jenis virus tanaman yang ditularkan dari satu tanaman ke tanaman lainnya oleh kutu daun. Gejala penyakit ini terlihat pada area hijau terang dan hijau yang berselang-seling seperti mozaik pada daun, daun mengalami distorsi dan melengkung, serta pertumbuhan tanaman terhambat. Pengelolaan penyakit tersebut yaitu dengan mengendalikan kutu daun dengan insektisida yang sudah harus diberikan ketika tanaman masih berada dalam pesemaian. Penggunaan insektisida ketika tanaman telah terserang tidak efektif karena cepatnya kutu daun menularkan virus. Jalan lain dalam menekan penyebaran penyakit ini adalah dengan pengendalian gulma disekitar tanaman, serta menggunakan mulsa reflektif.

Penyakit layu fusarium adalah penyakit yang disebabkan oleh cendawan Fusarium oxysporum. Layu fusarium merupakan jenis penyakit yang paling banyak ditakuti oleh petani cabai karena jika tanaman telah terinfeksi maka tanaman tersebut tidak bisa diobati dan tanaman akan mati. Penyakit ini dapat menyebabkan gagal panen dan menyebabkan kerugian besar bagi petani. Penyakit layu fusarium bisa menyerang tanaman cabai kapan saja, baik di musim kemarau atau musim hujan. Gejala serangan cendawan ini akan mulai terlihat dari daun yang walaupun layu tetap menempel pada tanaman dan berwarna hijau tua serta perubahan warna merah-coklat pada jaringan vaskuler yang akhirnya diikuti dengan kematian tanaman.

Kepada Petani cabai, disarankan pengendalian penyakit layu Fusarium dilakukan dengan aplikasi Fungisida sistemik dengan bahan aktif Tebuconazole yang memiliki kemampuan melindungi dan menyembuhkan tanaman serta mengeradikasi patogen penyebab penyakit.

Penyebaran cendawan ini bisa melalui air, angin, peralatan pertanian maupun manusia. Cendawan Fusarium oxysporum dapat menyerang tanaman mulai dari proses pembibitan, masa pertumbuhan hingga tanaman mulai berproduksi. Untuk mengatasi penyakit layu fusarium pada tanaman cabai, kita perlu mengetahui gejala yang muncul pada tanaman dan cara pengendaliannya.
Penyakit daun keriting pada tanaman cabai adalah serangan OPT berupa Serangga. Serangga yang bisa menyebabkan keriting adalah jenis kutu dan aphids. Kedua serangga ini mengisap cairan tanaman melalui daun dan pucuk muda. Kelenjar dari kutu ini akan masuk ke jaringan tanaman dan memengaruhi perkembangan sel tanaman, sehingga bagian yang terinfeksi kelenjar akan berkerut atau menggulung. Ciri khasnya adalah daun dan pucuk mengeriting namun warna daun tetap hijau atau menjadi hijau gelap. Jika warna daun muncul bercak kuning, berarti yang menginfeksi bukan hanya kelenjar kutu, namun juga virus. Untuk kasus daun keriting karena thrips dan aphids masih besar peluang untuk disembuhkan ketimbang penyakit akibat virus.

Penyebab kedua adalah virus mosaik. Virus ini tidak bisa langsung masuk ke jaringan tanaman tanpa dibawa oleh vektor. Vektor virus ini adalah kutu daun dan aphids. Gejala serangannya adalah daun menjadi mengkerut dan mengecil disertai bercak kuning di sekujur daun (kriting berwarna). Sekilas akan terkesan sama dengan serangan bulai daun yang mana daun berwarna kuning, namun bedanya kasus bulai daun tidak menyebabkan daun keriting atau tunas berkerut. Selain ditularkan oleh serangga, virus mosaik juga bisa terbawa oleh benih cabai yang berasal dari tanaman yang terinfeksi mosaik. Keriting tipikal ini cenderung sulit disembuhkan, namun tentunya ada langkah yang bisa diambil untuk mendapatkan hasil terbaik.

Masalah dalam pembudidayaan cabai lainnya adalah cara pembudidayaan yang kurang tepat, seperti penanganan OPT (Organisasi Pengganggu Tanaman) dan pemberian pupuk pada tanaman. Petani sering menggunakan cara-cara yang kurang benar dalam menangani hal-hal tersebut, sehingga menyebabkan kerusakan lingkungan. Pengendalian OPT menggunakan bahan kimia dan pemberian pupuk yang berlebihan akan menimbulkan masalah baru, seperti hama akan lebih tahan terhadap bahan kimia tersebut dan tanaman yang dibudidaya memperoleh hasil yang kurang maksimal.

 

Sumber :

BSIP Papua