
Jahe merah sudah digunakan sejak ribuan tahun lalu sebagai obat tradisional di berbagai belahan dunia. | Sumber Foto:Istimewa
AGRONET -- Jahe merah sudah digunakan sejak ribuan tahun lalu sebagai obat tradisional di berbagai belahan dunia, terutama di Indonesia, Cina dan Malaysia. Sejak dulu, banyak orang memanfatkan jahe merah untuk mengobati berbagai penyakit.
Jahe merah disebut juga dengan jahe sunti. Salah satu ciri fisik yang paling ketara dari tanaman rempah satu ini adalah warnanya. Jahe jahe merah atau Zingiber officinale var rubrum mempunyai kulit rimpang yang berwarna hijau kemerahan dengan bagian dalam yang berwarna merah muda sampai kuning.
Di Indonesia tanaman obat ini memiliki bermacam-macam nama sesuai dengan daerahnya. Memiliki penyebutan yang berbeda-beda di berbagai daerah menunjukkan bahwa rempah ini menyebar di seluruh wilayah di Indonesia. Di pulau Sumatra, jahe disebut halia bagi orang Aceh, bahing dalam bahasa Batak Karo, sementara orang Minangkabau menyebutnya sipodeh. Di Jawa, jahe dikenal dengan jahe (sunda), jae (Jawa), dan jhai (Madura). Di Sulawesi, jahe disebut layu oleh masyarakat Mongodow, melito (Gorontalo), laia (Makasar), dan pace (Bugis), dan masih banyak lagi.
Ukuran rimpang jahe merah lebih kecil ketimbang jahe biasa, dan ruasnya pun cenderung rata dan sedikit menggembung. Tak hanya itu, kandungan dan rasanya pun berbeda. Jahe jenis ini mempunyai rasa yang lebih pahit dan pedas dari jahe biasanya karena mengandung minyak astri lebih banyak. Tak seperti jahe biasa, jahe ini selalu dipanen setelah berumur tua. Jahe ini cocok untuk ramuan obat-obatan.
Kandungan pada jahe yang sangat banyak, seperti gingerol, flavonoid, agen antibakteri, agen antiperadangan, dan lainnya, dipercaya dapat memberi dampak positif pada kesehatan. Bukan sekedar bermanfaat sebagai minuman penghangat saat cuaca dingin saja. Pasalnya, tanaman herbal satu ini juga dapat mengurangi rasa sakit atau nyeri akibat peradangan.
Manfaat jahe merah untuk mengurangi peradangan ini sudah didukung oleh beberapa penelitian. Sebuah penelitian yang dilakukan pada atlet sepak takraw membuktikan bahwa pemberian ekstrak jahe selama 10 hari dapat mengurangi nyeri otot pada atlet sepak takraw.
Penelitian lain yang diterbitkan oleh American College of Rheumatology juga membuktikan bahwa ekstrak jahe dapat membantu mengurangi gejala osteoarthitis, seperti nyeri otot. Hasil penelitian menyebut bahwa jahe lebih efektif mengurangi peradangan di dalam tubuh ketimbang obat antiinfalamsi non streoid (NSAID).
Para peneliti menemukan bahwa berbagai kandungan dalam jahe dapat bertindak sebagai antiperadangan sehingga dapat membantu melawan peradangan akut maupun kronis.
Beberapa komponen aktif dalam jahe yang dapat menurunkan leukotrien dan portaglandin yang memicu peradangan di antaranya gingerol, gingerdione, dan zingeron. Selain itu, jahe merah juga mengandung oleoresin yang lebih tinggi dari jahe lainnya, di mana oleoresin juga dapat bekerja sebagai antiperadangan.
Mengonsumsi 2 gram jahe mentah atau yang sudah dipanaskan, akan memberikan manfaat pengurangan pada rasa nyeri dan peradangan. Minum ramuan jahe merah pagi hari sekali dan sore hari sekali, untuk menambah rasa dan meningkatkan khasiatnya tambahkan 2 sendok madu murni
Selain dengan cara mengonsumsi jahe merah, mengoleskan krim atau salep yang mengandung jahe merah langsung ke area tubuh yang mengalami artritis juga dapat membantu. Ekstrak jahe yang dioleskan di lutut diketahui mampu meringankan osteoartritis pada area tersebut. Oleskan ekstrak jahe 3 kali sehari selama 12 minggu, dan rasa sakit serta keluhan-keluhan lain yang dirasakan akan berkurang secara bertahap.(234)
Sabtu, 24 Januari 2026
Sabtu, 17 Januari 2026
Selasa, 13 Januari 2026
Sabtu, 24 Januari 2026
Kamis, 22 Januari 2026
Minggu, 18 Januari 2026
Kamis, 15 Januari 2026
Selasa, 13 Januari 2026
Jumat, 23 Januari 2026
Jumat, 23 Januari 2026
Rabu, 21 Januari 2026










