
Ulus Pirmawan, saat menerima Penghargaan FAO sebagai petani teladan, di Bangkok Thailand pada tahun 2017 lalu. | Sumber Foto:Dok kementan
AGRONET -- Saat ini anak muda Indonesia cenderung meninggalkan usaha bertani. Pertanian senantiasa dianggap profesi yang tidak membanggakan. Namun, anggapan ini tak sepenuhnya benar. Salah satu anak muda yang telah merasakan sukses dengan merintis bisnis sayuran adalah Ulus Primawan.
Ulus Pirmawan merupakan petani muda asal Kampung Gandok, Desa Suntenjaya, Cibodas - Lembang. Kerja kerasnya mampu menunjukkan bahwa petani bisa berkembang.
Ulus Pirmawan banyak belajar mengenai pertanian dari Dinas Pertanian maupun lembaga atau perusahaan yang kompeten dengan dunia pertanian. Kegigihannya untuk sukses di agribisnis membuatnya mendirikan Kelompok Tani Baby French pada tahun 2005. Kelompok tani yang didirikannya ini merupakan cikal bakal Ulus untuk memberdayakan petani setempat, sekaligus sebagai caranya memperluas jaringan produksinya.
“Setelah sukses dengan Kelompok Tani Baby French, saya kembali dirikan gabungan kelompok tani yang diberi nama Wargi Panggupay,” kata Ulus.
“Saat ini kami merupakan suplier sayuran untuk PT Alamanda Sejati Utama, Fortuna Agro Mandiri (Farm/Multi Fresh) dan supplier supermarket,” tutur Ulus. Menurut Ulus pertanian itu lebih menjanjikan. Karena di agribisnis ini kita bisa atur waktu kerja sendiri dan penghasilannya bagus.
Di tahun 2017 lalu, saat usianya baru 17 tahun, Ulus Pirmawan telah mewakili Indonesia menerima Penghargaan FAO sebagai petani teladan, di Bangkok, Thailand. Penerima lainnya dari negara Srilanka, Jepang, Nepal, dan Thailand.
Melihat banyak petani di sekitarnya merasa kesulitan memperoleh hasil panen yang stabil dan pemasaran yang pasti, Ulus merasa tertantang untuk terjun langsung menjadi petani. Berkat ketekunan, Ulus yang hanya lulusan Sekolah Dasar, mampu meraih kesuksesan yang kemudian diikuti oleh petani sekitar. Para petani berinisiatif membentuk Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Wargi Pangupay, berlokasi di Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat.
Melalui Gapoktan, banyak petani yang bergabung dan belajar kepada Ulus. Misalnya, Ucun Suntana, (40) warga Kampung Gandong Lembang, mengungkapkan. ”Saya banyak belajar dari Pak Ulus mulai dari memilih benih, menanam hingga bagaimana setelah panen. Beliau banyak membagi ilmu buat kami,” ungkap Ucun yang kini fokus mengolah kebun warisan orang tuanya.
Tantangan lain yang dihadapi Ulus sebagai petani adalah banyaknya tengkulak yang memberikan harga kurang menggiurkan. Ini disebabkan karena petani tidak memiliki akses pasar, sehingga banyak petani tergantung kepada tengkulak.
Ulus ingin mencetak sebanyak mungkin petani sejahtera dengan cara mengajarkan teknik bertani yang baik dan cara bangkit dari kegagalan. Apa yang dikerjakan Ulus, sosok yang pernah diganjar Anugerah Produk Pertanian Berdaya Saing 2014 tersebut, menjadi pembicaraan banyak pihak dan para akademisi pertanian. Tak jarang, Ulus diminta menjadi pembicara di berbagai forum dalam dan luar negeri. Banyak para mahasisiswa dan dosen serta peneliti yang terinspirasi dan belajar kepadanya.
Ulus berusaha memangkas rantai pasok dalam mengatasi fluktuasi harga cabai merah dan bawang merah dalam kegiatan TTI. Bersama pemerintah daerah Ulus juga mencari pasar, mendata hasil panen, hingga menjamin harga adil bagi petani. Ini membuat dirinya sebagai salah satu model farmer atau petani teladan yang diberikan oleh organisasi pangan dunia (FAO).
Ulus dianggap berhasil menciptakan kemandirian dalam pertanian, dari sektor hulu sampai hilir, termasuk mengangkat nasib petani disekitarnya. (234)
Sabtu, 24 Januari 2026
Sabtu, 17 Januari 2026
Selasa, 13 Januari 2026
Sabtu, 24 Januari 2026
Kamis, 22 Januari 2026
Minggu, 18 Januari 2026
Kamis, 15 Januari 2026
Selasa, 13 Januari 2026
Jumat, 23 Januari 2026
Jumat, 23 Januari 2026
Rabu, 21 Januari 2026










